DARI PONPES KE PONPES | Mama Kiai Muhammad Faqih Sang Pendiri Pesantren Baitul Arqom Lembur Awi

Editor Pondok Pesantren Baitul Arqom Al Islami di Lembur Awi, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung. /visi.news/net
Silahkan bagikan
  • Selama bulan Ramadan 1444 H ini, InsyaAllah akan hadir tulisan-tulisan dari Bambang Melga Suprayogi, M.Sn., yang mengunjungi beberapa pondok pesantren di Jawa Barat. Tulisan mengupas profil pesantren dan kiai sepuhnya, proses pendidikan dan amaliah yang biasa mereka jalankan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca yang budiman.

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

KALI INI penulis akan mengupas perjalanan ke Pesantren Baitul Arqom di Kampung Lembur Awi, Km. 9, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung.

Yaa, Pesantren Baitul Arqom merupakan pesantren yang telah lama berdiri, bisa disebut pesantren tua dan bersejarah, karena memiliki nilai historis perjuangan, baik pada saat jaman penjajahan, maupun pada masa jaman gerombolan DI/TII.

Baca juga

DARI PONPES KE PONPES | Tokoh Besar Pendiri Ponpes Leuwimunding dan Cisambeng di Majalengka

DARI PONPES KE PONPES | Profil Pondok Pesantren Al Islamy Babakan Ciwaringin Cirebon

RAMADAN UPDATE DARI PONPES KE PONPES | Bertemu Kiai Musthofa Aqil Pimpinan Pesantren Ciwedus Kuningan

DARI PONPES KE PONPES | Mengenal Mang Haji Abah dan Pesantren Hidayatul Hikmah Kutawaringin Soreang

DARI PONPES KE PONPES | Pesantren Al Ittifaq Ciwidey Kabupaten Bandung Bertariqoh “Sayuriyah”

RAMADAN UPDATE DARI PONPES KE PONPES | Pesantren Buntet Cirebon Punya Kiai Abbas yang Fenomenal

Pesantren ini didirikan pada tahun 1922, sebelum organisasi Nahdlatul Ulama didirikan oleh Kiai Hasyim Asy’ari , dan jauh sebelum masa kemerdekaan Republik Indonesia di maklumatkan oleh Ir. Soekarno dan Moch. Hatta.

Mama K.H. Muhammad Fakih. /dok

Pesantren ini didirikan oleh K.H. Muhammad Fakih yang awalnya menisbatkan nama kampung di sana yaitu Lembur Awi. Namun pada proses perjalanan selanjutnya, barulah berganti nama menjadi Baitul Arqom Al-Islami pada masa K.H. Ubaidillah menantu dari K.H. Muhammad Fakih sekitar tahun 1970.

Baca Juga :  MGP Pertanyakan Izin Amdal Pembangunan Rumah Sakit Hermina di Kab. Bandung

K.H. Muhammad Faqih, atau biasa dipangil oleh masyarakat setempat dengan sebutan Mama Faqih, atau Mama Lembur Awi, merupakan kiai yang kharismatik, kiai panutan, contoh teladan, yang banyak digambarkan sebagai pribadi yang alim dan berilmu, dengan pembawaan sifat dan karakter yang rendah hati, murah senyum, sederhana, familier, bersifat mengayomi, dan sayang pada masyarakat di sekitarnya. Karena sifat kebapakannya itulah, maka ia dipanggil oleh masyarakat sekitarnya dengan sebutan,”Mama”. Satu panggilan yang terbentuk, karena adanya faktor hubungan batin, dan adanya ikatan emosional, yang sangat begitu dekat, antara beliaunya dengan masyarakat Lembur Awi.

Kiai Muhammad Faqih, atau Mama Faqih, merupakan keturunan ke 7  yang nasabnya sampai pada Kanjeng Sunan Gunung Djati Cirebon, dan tersambung pada Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Sebutan “Mama” pada Kiai Muhammad Faqih itu, merupakan sebutan kesayangan pada kiai oleh masyarakat setempat, sebab dari kiailah masyarakat mendapatkan keteduhan ilmu, dididik menjadi manusia yang penuh ilmu, sehingga dari tangannyalah, banyak dilahirkan para ulama-ulama yang akhirnya terus membesarkan Syiar Islam ke seantero negeri ini.

Penulis bersama cucu pendiri pesantren Cep Aat. /visi.news /bambang melga suprayogi/dok

Mama Kiai Faqih Lembur Awi, merupakan seorang Auliya pada masanya, dan amalan yang sudah menjadi kebiasaannya adalah, bila selesai salat Subuh, ia akan berdiam diri di masjidnya, bertafaqur, membaca Al Qur’an, berdzikir, sampai datangnya waktu Dhuha. Setelah mengerjakan salat Dhuha, maka iapun akan kembali ke rumahnya untuk sarapan pagi, sambil mengajak santri-santri yang ada disekitarnya untuk sarapan bersama.

Tutur kata Mama Faqih sangat lembut, bicaranya penuh wibawa, dan semua pasti mendengar apa dawuhnya. Ia seorang yang kuat memegang prinsip, karakternya tak mengenal takut, dan itu bisa dibuktikan pada saat masyarakat Lembur Awi dan sekitarnya ketakutan serta pergi mengungsi, pada masa penjajahan, maupun masa DI/TII.

Baca Juga :  Hari Jadi ke-383 Kab. Bandung, Cucun A Syamsurijal, "Bangga,  banyak program yang dirasakan masyarakat"

Mama Kiai Faqih menurut cerita di pesantren, dibalik sikap lembut dan rendah hatinya, merupakan figur yang pemberani dan membuat banyak orang salut akan keberaniannya. Hal ini ini ia buktikan dengan tetap berada di pesantrennya, ia bergeming seperti lainnya pergi, dan tak surut nyalinya.

Karomah Mama Kiai Faqih

Karomah Mama Kiai Faqih
pintu Pesantren Lembur Awi selalu terbuka buat siapapun, dan itu malah jadi lokasi tujuan orang-orang berlindung mencari keselamatan diri. Maka, ketika gangguan datang menghantui masyarakat Lembur Awi dengan masuknya gerombolan DI/TII, masyarakat berduyun-duyun masuk ke pesantren, berlindung di sana, dan Mama Kiai Faqih membutakan penglihatan para gerombolan pemberontak DI/TII itu, sehingga mata para gerombolan itu merasa ia tak memasuki perkampungan, dan pesantren, tapi mereka merasa masuk ke dalam hutan lebat, dan ingin segera meninggalkan daerah itu.

Yang lainnya, adalah pada saat mama Kiai Faqih masih hidup dan tinggal di pesantren, pesantren dijauhkan dari banyak bencana dan kejahatan kaum gerombolan, yang sangat ditakuti masyarakat wilayah Pacet, Kertasari dan sekitarnya. Itu bisa tergambar bagaimana huru hara yang dilakukan para gerombolan dengan membakar banyak perkampungan, hingga bisa sampai masuk ke sebagian wilayah Lembur Awi, namun tak berefek ke Pesantren Lembur Awi sendiri pada saat itu. Pesantren kokoh berdiri, tidak terkena dampak dari ulah para gerombolan ini, padahal mereka para gerombolan tersebut, hampir tiap hari turun gunung mencari makan sambil meneror masyarakat yang dilaluinya.

Mama Kiai Faqih memiliki kesadaran lebih untuk membangun kualitas manusia yang berilmu, dan berpendidikan, sehingga dengan kiprah pesantren yang ia dirikan, maka daerah sekitar pesantren menjadi daerah yang berkembang, maju, dan masyarakat merasa terayomi.

Baca Juga :  Dijerat Pasal Berlapis, Tubagus Muhammad Joddy Ditetapkan Sebagai Tersangka

Maka tak heran, dari semula hanya berdiri Pesantren Baitul Arqom, lambat laun banyak bermunculan pesantren lainnya disekitar pesantren itu, hingga Lembur Awi bisa dikatakan sekarang ini lemburnya para santri.

Metode pengajian

Metode pengajian kitab yang diterapkan oleh Mama K.H. Muhammad Faqih di Pesantren Lembur Awi, tidak beda dengan pesantren-pesantren salafiyyah lainnya di Jawa Barat, yaitu menggunakan metode pengajaran bandungan dan sorogan, dengan berbagai disiplin ilmu terutama ilmu nahwu, shorof, balaghoh, mantiq, fiqh, tafsir, hadits, kalam dan lainnya.

Dan, hal yang masih dipertahankan hingga kini di samping pengajian khusus untuk para santri, diadakan juga pengajian majlis ta’lim untuk masyarakat, seperti untuk ibu – ibu dan bapak – bapak yang mana pengajian ibu – ibu dilaksanakan pada Minggu pagi, sedangkan pengajian bapak – bapak diadakan pada Sabtu siangnya.

Pada tahun 1964. Mama KH. Muhammad Faqih berpulang ke Rahmatulloh. Pelanjut tongkat estafet kepemimpinan Pesantren Lembur Awi pun dipegang oleh Mama K.H. Ubaidillah, sebagai menantunya.

Kini Pesantren Lembur Awi, telah banyak dikenal namanya dengan sebutan Pesantren Baitul Arqom Al-islami, santrinya terus bertambah dari tahun ke tahun. Begitu pun bangunan pesantrennya, tinggi kokoh bagaikan benteng kuat yang siap menjadi basis kekuatan umat. Dari pesantren bersejarah inilah, akan terus terlahir generasi-generasi penerus Mama Kiai Faqih berikutnya. Alhamdulillah.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Hujan Interupsi Mengawali Rapat Komisi III DPR dengan Mahfud MD Soal Rp. 349 T

Rab Mar 29 , 2023
Silahkan bagikanVISI.NEWS | JAKARTA – Kehadiran Menkopolhukam Mahfud MD pada Rapat Komisi III DPR RI, Rabu (29/3/2023) diwarnai dengan hujan interupsi. Rapat yang membahas transaksi janggal Rp 349 T baru berjalan beberapa saat langsung diramaikan hujan interupsi. “Ini terkait kepatuhan kita pada tatib ya. Kalau kita sudah menyampaikan undangan, harus […]