DARI PONPES KE PONPES | Mengenal Mang Haji Abah dan Pesantren Hidayatul Hikmah Kutawaringin Soreang

Editor Penulis bersama Pimpinan Ponpes Hidayatul Hikmah, Kp. Gajah Eretan, Gajahmekar, Kutawaringin, Kabupaten Bandung. /visi.news/bambang melga suprayogi/dok
Silahkan bagikan

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

PONDOK PESANTREN Hidayatul Hikmah ini berada di Kabupaten Bandung, berjarak dua kilometer dari Stadion Sepakbola Si Jarak Harupat. Tepatnya berada di Kecamatan Kutawaringin, Desa Gajahmekar, nama kampungnya Gajah Eretan.

Pondok pesantren yang berada di tepi Sungai Citarum ini memiliki luas lahan kurang lebih 1.000 M2, dengan santri yang ada di sana sekitar 150 orang.

Baca juga

DARI PONPES KE PONPES | Tokoh Besar Pendiri Ponpes Leuwimunding dan Cisambeng di Majalengka

DARI PONPES KE PONPES | Profil Pondok Pesantren Al Islamy Babakan Ciwaringin Cirebon

RAMADAN UPDATE DARI PONPES KE PONPES | Pesantren Buntet Cirebon Punya Kiai Abbas yang Fenomenal

RAMADAN UPDATE DARI PONPES KE PONPES | Bertemu Kiai Musthofa Aqil Pimpinan Pesantren Ciwedus Kuningan

DARI PONPES KE PONPES | Pesantren Al Ittifaq Ciwidey Kabupaten Bandung Bertariqoh “Sayuriyah”

DARI PONPES KE PONPES | Mama Kiai Muhammad Faqih Sang Pendiri Pesantren Baitul Arqom Lembur Awi

Pondok Pesantren yang akan kita ulas hari ini, merupakan pondok pesantren yang awal didirikannya, berawal dari ilapat atau petunjuk yang datang pada Mang Haji Abah, sebutan orang-orang pada pendiri pondok pesantren ini, yang memiliki nama lemgkap Rd. K.H. Asep Muhammad Hadimi dikenal juga dengan panggilan Abah Awing.

Dimana saat itu, ia sedang memiliki usaha di daerah Tanjung Priuk, dan sedang pesat-pesatnya berkembang. Tarikan batinnya mengharuskan ia meninggalkan semua usahanya itu, dan ia harus kembali ke daerah dimana ia dibesarkan, khususnya untuk berkhidmat didaerahnya, menjadi seorang yang menetap di sana, dan ia juga, diamanahkan untuk menjaga makam leluhurnya, yakni, Makam Dalem Abdul Rahman atau Eyang Dalem Gajah. Dan makam Eyang Dalem Gajah ini, dari sejak lama telah menjadi situs kabuyutan, makam pusaka masyarakat Kabupaten Bandung.

Bagi-bagi makanan untuk anak-anak santri Pesantren Hidayatul Hikmah. /visi.news/bambang melga suprayogi

Mang Haji Abah, demikian orang banyak memanggilnya, lahir di Kampung Gajah Eretan tahun 1970, menamatkan sekolah di sana, hingga akhirnya tahun 1990 ia harus ikhtiar mencari jatidirinya dengan mengunjungi beberapa tempat, di daerah Jawa, pernah juga “nyantri” di Tebuireng, kemudian ke Sumatra dan Madura. Ia menjalani lelaku atau menguatkan perjalanan batinnya menimba ilmu pemahaman spiritual.

Hingga antara tahun 1998/1999 Mang Haji Abah kembali ke daerah asalnya, setelah harus meninggalkan Tanjung Priok, Jakarta, sebagai seorang pengusaha bongkar muat peti kemas yang sukses di sana.

Sekembalinya ke Gajah Eretan, ia tak tinggal di darat, seperti kebanyakan orang-orang lainnya bermukim, tapi ia tinggal selama tiga tahun di atas rakit yang dijadikan tempat tinggalnya, dan tinggal di tengah-tengah Sungai Citarum.

Selama tiga tahun itu ia habiskan hari-harinya di atas rakit, selama itu pula aktivitas ibadahnya, baik berkhalwat, ngaji, sampai mengajari anak-anak setempat mengaji selama tiga tahun, dengan istiqomah ia jalani hari demi harinya dari atas rakitnya tersebut.

Hidup di atas rakit sebagai tempat ia tinggal, tentunya tak senyaman seperti kita tinggal di rumah, selalu ada saja banjir, air pasang, hembusan angin besar, dan belum lagi binatang melata yang singgah, merupakan hal yang biasa untuk mereka yang hidup dengan pola diluar kebiasaan adat manusia biasa. Namun, itulah tantangannya bagi Mang Haji Abah yang harus ia lewati dan jalani.

Baca Juga :  Kadisperkimtan: Sisa Rutilahu di Kabupaten Bandung Tinggal 13 Ribu Unit

Yaa, jika penulis tafakuri, model hidup selama tiga tahunnya Mang Haji Abah di atas rakit, ini tentu sangat menguras kesabaran, butuh ketawakalan, harus kuatnya keikhlasan diri, dan tebalnya bentuk keimanan serta ketaqwaan kita sebagai manusia kepada sang pemilik Alam, Allah SWT.

Bagi kita manusia normal, di uji hidup prihatin saja banyak manusia yang menjerit, apalagi hidup dengan kerasnya tempaan alam, banyaknya hujatan manusia yang menganggapnya aneh, dan ini merupakan saat-saat yang harus ia jalani, dengan penuh kesabaran, dimana tak semua orang bisa dan kuat menjalani hidup penuh keperihan seperti itu,

Hidup di atas rakit bagi Mang Haji Abah, semakin menguatkan sisi ruhaninya yang semakin tertempa. Ia akhirnya lebih banyaknya mentadaburi alam yang memberi banyak hikmah dan pembelajaran buat dirinya.

Barulah setelah ada ilapat untuk menyelesaikan tugasnya menjadi penunggu Sungai Citarum, ia pun mulai membuka lahan di pinggir Sungai Citarum, tempat ia sebelumnya berada di tengah Sungai Citarum yang terkenal sungai terpanjang di Kabupaten Bandung ini.

Pinggiran Sungai Citarum saat itu sangat rimbun, dianggap angker, banyak penampakan, sehingga banyak orang tak berani ke sana bila sudah masuk waktunya malam…dan dengan kesabarannya Mang Haji Abah dan pengikutnya, pondok kecil yang awalnya ia buat, akhirnya terus berproses hingga menjadi pondok pesantren yang nyaman seperti sekarang. Hingga dari tahun 2015, pondok ini mulai banyak kedatangan para santri, yang berasal baik dari daerah setempat, maupun dari daerah lain, khususnya untuk belajar agama ke Pesantren milik Mang Haji Abah tersebut, tanpa dipungut biaya.

Hampir setiap malam tamu dari berbagai daerah di Indonesia berdatangan ke Pesantren Hidayatul Hikmah, di Kp. Gajah Eretan, Gajahmekar, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung. /visi.news/bambang melga suprayogi/dok

Siapa saja yang jadi santrinya Mang Haji Abah itu ?

Bila pondok pesantren biasa, para santri yang mondok menetap di sana, adalah para santri yang memiliki kehidupan normal, dari keluarga yang mengerti agama, dan mau anaknya bertambah ilmu agamanya.

Di tempat pesantrennya Mang Haji Abah, yakni pesantren Hidayatul Hikmah, para santri terbagi dua. Ada santri anak-anak yang banyak juga anak-anak yatim dan santri dewasa.

Latar belakang dari santri yang dewasa inilah, kita bisa menjumpai beragam profesi. Ada yang bisa dikatakan besar di dunia jalanan, dunia hitam, dunia premanisme, yang akhirnya menemukan kesadaran hati, balik ingin menata diri, menata masa depannya, sehingga mereka pun akhirnya menetap dan ikut bersama Mang Haji Abah, tinggal berkhidmah di pesantren tersebut.

Selalu ada titik balik, menuju kesadaran hidup yang hakiki, apa yang dicari tak hanya duniawi yang dikejar-kejar, tapi di Pesantren Hidayatul Hikmah ini, santri betul-betul di gembleng lahir batinnya, melakukan puasa di siang hari, ibadah wajib dan sunnahnya tak terlewat. Bakda Ashar rutin manakiban, selalu ada salawatan dan dzikir di malam harinya, hingga pesantren ini hidup dari pagi hingga malam, bahkan sampai pagi harinya lagi, subhanallah.

Amaliah

Baca Juga :  Santuni Anak-anak Yatim, Partai Demokrat Optimis Raih 11 Kursi DPRD Kabupaten Bandung

Apa yang di ajarkan mang Haji Abah ?

Mang Haji Abah pada para santrinya menanamkan kebutuhan dari kita manusia, untuk bisa memberi makan ruhani dan jiwa kita, tentunya dengan melaksanakan, puasa, ibadah wajib dan sunnah, juga dzikir dengan hitungan tertentu yang mengandung makna. Artinya, tidak hanya raga saja yang selalu diberi makannya oleh diri kita, tapi ruhaninya.

Dengan puasa menurut Mang Haji Abah, kita akan dikondisikan dalam keadaan kesadaran diri, kontrol penuh atas semua raga kita, sehingga kita selalu dalam keadaan terbaiknya diri pada saat itu. “Dengan demikian yang kita cari dalam keadaan diri yang di sucikan itu, mau mencari kebenaran lain, kebaikan lain, yang akhirnya melengkapi puasa yang kita lakukan, sehingga terbentuk keyakinan yang tinggi, dan mau mensyukuri nikmat atas sehat yang kita peroleh, ” ungkap Mang Haji Abah saat berbincang dengan penulis.

Puasa setiap hari di Pesantren Hidayatul Hikmah, merupakan hal yang biasa, dan itu dilakukan oleh para santrinya. Banyak diantara santri niatnya untuk membayar masa lalu yang “kelam”, yang puasanya penuh dengan kelalaian, sehingga pada masa mesantren di pesantren ini lah, kesadaran menebus dan membayar puasa di masa lalu yang bolong-bolong selama hidupnya, itu bisa dibayar.

Sehingga tak aneh bila ada santri dewasa yang sudah melakukan puasa selama dua tahun berturut-turut, bahkan ada yang sudah di tahun ke limanya ia berpuasa. Subhanallah.

Selain puasa, salawatan, dan dzikiran merupakan amalan yang dilakukan setiap harinya. Tiada hari tanpa salawatan dan dzikiran di Pesantren Hidayatul Hikmah ini. Ratiban, dan merayakan haul Syeh Abdul Qadir Al Jaelani.

Di sini, bila telah datang malam, maka para santri akan mengerjakan salawatan, maupun berdzikir hingga tengah malam bahkan menjelang subuh.

Sosok Mang Haji Abah

Mang Haji Abah merupakan sosok Kiai yang nyentrik, berambut panjang, wajah oval kearab-araban, dan bicaranya ceplas ceplos apa adanya. Pembawaannya selalu riang, murah senyum, dan sangat kritis menyikapi sesuatu, bahkan celetukan gurau pun ia bisa balikan jadi bahan renungan buat para santrinya.

Ia adalah keturunan langsung dari Eyang Dalem Gajah. Sosoknya sedari kecil sudah memiliki keistimewaan secara batin.
Mang Haji Abah merupakan seorang pejalan ruhani, ahli suluk yang pintu kasyafnya sudah terbuka, makrifat, dan karomahnya sudah terbukti banyak menyadarkan orang-orang yang sudah keteteran dalam perjalanan menujuNya, dan mereka yang putus asa dalam hidupnya, sehingga bila bertemu dengannya, laksana membukakan gairah tauhid, dan semangat beragama kita kembali.

Sepintas ia seperti abah-abah umumnya, karena dipanggilnya pun Abah. Tapi bila sudah bicara dan menjelaskan suatu perihal, maka ia laksana motivator ruhani. Apa yang meluncur dari bibirnya adalah hikmah, dan kajian mendalam yang membukakan kebekuan pikiran, meluaskan pemahaman, dan setiap statemennya, bisa sampai menghujam ke relung hati terdalam kita. Yaa, bisa jadi itu karena setiap kata-kata yang ia ucapkan, adalah kebenaran yang tak bisa disanggah dan disangkal.

Baca Juga :  Kemenag Bersama DPR Tinjau Pesantren Pembelajaran Tatap Muka

Pusaka Mang Haji Abah

Pusaka Mang Haji Abah adalah doa orang tua, khususnya doa ibunya. Pusaka lainnya adalah para karuhun yang pandangannya lebih awas pada saat mereka telah meninggal, dan kita patut terus menyambungkan silaturahmi dengan mendoakan mereka yang sudah ada di alam barzahnya.

Beberapa catatan dari pernyataan Mang Haji Abah yang sempat penulis tulis, dan menjadi ajarannya, yang ia ingatkan pada setiap santrinya, seperti di bawah ini ;

  1. Allah tidak akan menyiksa, yang menyiksa itu kelakuan kita sendiri.
  2. Jika kita tak dekat dengan hamba Allah yang saleh, maka jangan harap kita selamat.
  3. Harus memaksakan kebaikan, biar menjadi biasa.
  4. Kita harus mentautan do’a pada orang yang saleh.
  5. Yatim akhlak, lebih susah di luruskan.
  6. Kemunafikan menghancurkan diterimanya doa.
  7. Keikhlasan akan di bantu Allah, ketika ada kebencian akan hilang amalannya.
  8. Batal ibadah, batal amalan
  9. Manusia yang uzlah itu tak berharap apa apa, selain hanya menuju Allah harapannya.
  10. Teu meunang olo-olo hirup,
  11. Teu meunang hare hare hirup
  12. Akademi hate, akademi akhlak tidak ada sekolahnya.
  13. Nyaring, beunta, eling.
  14. Ngaji mah diri sorangan heula.
  15. Ngaji adab, percuma bisa ngaji Qur’an, jika tak ada adab.
  16. Berat lawan adab, akan naik ke atas orang yang memiliki adab
  17. Adab akan mengangkat kita jadi wali
  18. Zaman repot jika tak bergaul dengan ulama yang eling
  19. Hidup kita di dunia ini cobaan
  20. Jangan mentang-mentang kita jaya, tak ada hasil, mau apa yang dijagokan.
  21. Bijaksana ke semua mahluk
  22. Tong hayang ditonton ku batur
  23. Gampang jadi penceramah mah, sorangan bae huela diceramahan.
  24. Ada bagian-bagian tertentu, dan jangan kita mengambil bagian orang lain.
  25. Tak harus membedakan manusia, karena kita tak tahu ia akan jadi wali.
  26. Silaturahmi itu akan jadi obat, akan jadi berkah.
  27. Permainan hidup seperti sepak bola, siapa bisa menangkap bola ia tak akan terkalahkan.
  28. Kerja dulu, jangan minta upah.
  29. Kita ini harta karun orang tua yang sudah tidak ada.
  30. Doa itu mengikuti kemanapun kita pergi, asal kitanya mau didoakan.
  31. Doa tidak terlihat tapi terasa
  32. Yakin kepada doa ibu bapak, dengan keyakinan maka jadi.
  33. Masih mending hidup dari sampah, asal kita bisa mengolahnya jadi intan berlian, dari pada kita hidup malah jadi sampah.

Begitulah beberapa wejangan Mang Haji Abah ini, dalam mengingatkan para santrinya agar selalu memiliki niat tulus, dan selalu berbaik sangka pada siapapun.

Semoga selalu ada keberkahan dengan kita mengenali sosok-sosok saleh, sekaligus kita bisa dapat inspirasi hidup, dan semoga kisah perjalanan dari pesantren ke pesantren yang penulis tulis ini, bisa selalu mengingatkan kita pada jalan kebaikan…Aamiin.

Silahkan untuk para umat muslim yang ingin mengenali Mang Haji Abah, bisa melihatnya melalui situs YouTube Hidayatul Hikmah.
Dan bila ingin berkunjung ke pesantrennya, bisa terlebih dahulu menghubung Kang Agus Acong, di nomor kontak+62 821-1529-7488.

Alhamdulillah.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Bupati Bandung Siap Membentuk RDTR Berbasis Digital

Sen Mar 27 , 2023
Silahkan bagikanVISI.NEWS | JAKARTA – Direktur Jenderal Tata Ruang Kementerian ATR/BPN Republik Indonesia, Ir. Gabriel Triwibawa, M.Eng, SC meminta pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten kota di Indonesia untuk segera membentuk Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang terintegrasi dengan aplikasi Online Single Submission (OSS). Permintaan itu disampaikan Gabriel Triwibawa dihadapan […]