Dede Yusuf dan Rombongan Kunjungi SMK Wirakarya Ciparay Kab. Bandung

Editor Wakil Ketua Komisi X Dr. H. Dede Yusuf Macan Effendi, M.Ipol secara simbolis memberikan bantuan dana PIP untuk sekolah yang berada di bawah naungan YPPGMI seusai dialog di Graha Wirakarya, Selasa (27/4/2021) malam. /visi.news/m purnama alam
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dr. H. Dede Yusuf Macan Effendi, M.Ipol, Selasa (27/4/2021) sore mengunjungi sekolah-sekolah yang berada di bawah Yayasan Pendidikan Pengembangan Generasi Muda Indonesia (YPPGMI) di Ciparay, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Dalam kunjungan tersebut, mantan Wakil Gubernur Jawa Barat itu meninjau langsung ruang kelas dan sarana praktek SMK Wirakarya 1, dan 2, SMK Farmasi dan Sekolah Tinggi Kesehatan Indonesia (Stikindo) di Jalan Raya Pacet, Ciparay. Kehadiran Dede dan rombongan yang menggunakan dua Toyota Alfard warna hitam dan putih itu disambut langsung oleh Ketua YPPGMI H. Asep Ikhsan, S.Pd., S.E., M.M., para kepala sekolah di bawah naungan YPPGMI, Kapolsek Ciparay AKP Suyitno. Kemudian berdialog dengan para pendidik dan tenaga kependidikan sekolah-sekolah tersebut di Graha Wirakarya, Jalan Raya Laswi, Desa Magung, Ciparay. Dialog yang dipandu Dean, S.Pd, dan dibuka oleh Tenaga Ahli (TA) Dapil yang juga Ketua Rumah Aspirasi Dede Yusuf “Rancage”, Saiful Bahri, M.Si.

Dalam dialog tersebut, Dede Yusuf mengatakan bahwa hampir setahun setengah menjabat sebagai wakil komisi telah bertemu Menteri Pendidikan dan berkunjung ke berbagai daerah di nusantara. “Baik itu levelnya dari PAUD, SD, SMP, SMA sampai SMK dan kampus perguruan tinggi saya punya keyakinan bahwa permasalahan di Indonesia itu bukanlah sumber daya manusianya. Pada satu garis besar dari Pak Asep (Asep Ikhsan) sudah bercerita tentang bonus demografi tantangan ke depan 2030, 2045, dan seterusnya. Jadi kalau kita melihat potensi negara Indonesia itu, apakah itu sumber daya alamnya, apakah sumber daya manusianya, atau mungkin juga sumber-sumber lainnya, saya melihat secara geografis Indonesia diuntungkan secara geografi yaitu kita berada diantara pertemuan dua wilayah yakni wilayah Timur dan wilayah Barat. Berarti, kita berbicara Amerika serikat ya terus kemudian Saudi Arabia, Timur Tengah di wilayah ibu kota Jepang, Korea, Cina, Taiwan, Asia tenggara dan sebagainya,” ujarnya.

Indonesia dengan jumlah penduduk nomor empat terbanyak di dunia, kata Dede Yusuf, sekarang sudah 280 juta dari dua tahun sebelumnya 265 juta, 70 persennya sekarang adalah orang yang produktif. Artinya, katanya lebih lanjut, orang yang siap bekerja. “Artinya apa sekarang ini? Kita musti serahkan kepada yang muda. Persaingan kita sekarang bukan lagi antara orang Bandung dengan orang Jogja, persaingan kita bukan lagi sekarang antara orang Jakarta dengan orang Kalimantan, tapi dengan negara-negara tetangga kita Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam yang mana kemampuan mereka rata-rata sudah di-upgrade. Potensi mereka sudah upgrade,” ungkap Dede.

Baca Juga :  Kesulitan Air Bersih, Jajaran Satpolair Polres Purwakarta Kirim Ribuan Liter Air Bersih

Masalah Bukan di SDM

Bahkan, kata Dede yang etos kerjanya terbaik itu adalah Jepang. Jadi, kalau anak-anak kita sudah dilatih dengan format pendidikan yang bisa diterima oleh Jepang, berarti masalahnya kita bukan di SDM-nya. Bukannya Indonesia masih lebih banyak angka kemiskinan, tetapi di sektor industri 4.0 saat ini industri teknologi saat ini ternyata anak-anak muda kita jauh lebih jago nyari uang daripada kita.

“Contoh, gaji bupati itu paling 15 juta. Gaji seorang gamers game online kalau dia main game, dia menang, bisa dapat ratusan juta. Gaji seorang animator yang membuat poster drawing sebulannya bisa dapat 30 juta. Paradigma anak muda jaman sekarang kalau ditanya mau jadi apa? Selebgram. seorang selebgram hanya moto-moto dirinya saja paling sedikit penghasilan 15 juta perbulan,” ujarnya.

Lalu apa artinya dengan dunia pendidikan? Jawabannya, kata Dede, sederhana. P endidikan kita selama sekian lama, setiap tahun ini berjalan di tempat. “Kok bisa begitu? Karena konsep pendidikan kita masih berbicara soal ujian UTS atau UAS. Mulai dari SD, SMP begitu juga SMA sama. Baru di perguruan tinggi mulai ada KKN, kuliah kerja nyata, praktek, dan sebagainya. Tetapi ternyata di SMK sudah lebih dahulu mempraktekkan yang namanya kurikulum kerja lapangan, PKL,” ungkapnya.

Seorang Menteri Pendidikan, seorang milenial yang memiliki pemikiran jauh ke depan, yang lulusan luar negeri, mengatakan pendidikan di Indonesia harus kita kejar ketertinggalan. Tips-nya yang dikejar bukan hafalan karena selama ini banyak di sekolah yang diajarkan adalah hapalan, tetapi yang harus dikejar adalah bagaimana membuat narasi, bagaimana prestasikan, berkolaborasi, bekerja sama dengan konsep sekolah merdeka.

Foto suasana kunjungan Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dr. H. Yusuf Macan Effendi, M.Ipol di Graha Wirakarya, Ciparay, Kabupaten Bandung, Selasa (27/4/2021) petang. /visi.news/m purnama alam

Mempercepat Lama Sekolah

“Tapi saya kemudian juga bertanya, bahkan mungkin paham. Saya melihat bahwa anak-anak sekarang yang dibutuhkan saat ini adalah mempercepat lama sekolah, itu benar. Ceritanya, saya kuliah tahun 84 ambil jurusan teknik industri. Saya kuliah 3 tahun, lalu saya bingung mau jadi apa? Ya teknik industri. Akhirnya, saat kuliah saya dapet duit dan saya tinggalin kuliah karena saya menganggap nggak penting kuliah, karena saya bisa mencari uang di dunia film. Selang 20 tahun kemudian, saya jadi Wakil Gubernur. Masa sih Wakil Gubernur ijazah SMA?. Maka saya bilang, saya harus kuliah lagi. Saya teruskan kuliah tahun 2010. Kuliah S1 selesailah di 2012,” ujarnya

Baca Juga :  Jadwal Siaran Langsung BRI Liga 1 2021/22, 3 Laga Awal Live di Indosiar

Tiba-tiba di tahun 2012, kata Dede, ia berpikir Kepala Dinas rata-rata S-1. Jadi saya kiliah lagi ikut S-2 ilmu pemerintahan. Saat dirinya tidak berhasil jadi Gubernur Jawa Barat, kemudian terpilih jadi anggota DPR RI, dan ditunjuk jadi Ketua Komisi yang antara lain menangani urusan kesehatan, ia mengaku banyak bertemu dengan para profesor, dokter, para peneliti. “Saya dibilang begini kira-kira, Pak Dede cuma artis, bisa apa sih, dan itu selalu nempel sampai sekarang. Makanya, sekolah lagi, sekolah lagi ambil doktor,” ungkap Dede.

Kalau dirinya tahu akan menjadi politisi, katanya, untuk apa mengambil kuliah teknik industri. Jadi kepala daerah ataupun jadi anggota parlemen, coba kalau dulu dirinya mengambil ilmu sosial, coba dari dulu dia sma-nya tidak ngambil IPA.

Untuk itu, kata Dede, kita harus dari awal seorang anak itu cocok untuk jadi apa, karena kalau kita lihat derajat pendidikan kita ternyata kita sadar bahwa angka lama sekolah di Indonesia rata-rata masih dibawah 9 tahun, “Dari 58 sampai 59 persen masih di bawah 9 tahun. Artinya, generasi muda kita ini rata-rata hanya lulus SMP tapi,” katanya.

Buruh Pasang Kancing di Kahatex

Kalau kita lihat di Kahatex (PT. Kahatex) saja, katanya, untuk mdaftar jadi buruh cuman menempel kancing atau mungkin ngobras syaratnya lulus SMA atau sederajat. Padahal dia masuk situ yang dilakukan adalah hanya menempelkan kancing, itu pun di training lagi. Di Bekasi ia melihat mereka harus di training selama mungkin 6 bulan.

“Di Kerawang dan Bekasi itu saya sudah keliling karena dulu saya di Komisi 9, salah satu tugasnya dalam bidang ketenagakerjaan. Jadi saya langsung berpikir, kalau begitu, bikin Peraturan Menteri Tenaga Kerja bahwa untuk menerima buruh tidak perlu harus ijazah SMA atau sederajat cukup memiliki keterampilan di bidangnya,” ujarnya.

Jadi, kata Dede, kalau misalnya bidang tekstil syaratnya cukup memiliki keterampilan bidang tekstil, dia bisa ikut kursus 6 bulan dan dia bisa ikut pelatihan 3 bulan. Dia tak perlu lulus SMK atau SMA kalau kerjanya belasan tahun hanya nempel kancing.

“Itu kira-kira gambarannya, jadi ada masalah besar antara kebutuhan sektor industri dengan dunia pendidikan. Untuk merubahnya, maka membutuhkan anggaran. Anggaran untuk seluruh Indonesia tentu tidak mudah, apalagi saya inget jaman Pak Bambang Sudibyo (Mendikbud dulu) SMK bisa. Semua orang bikin SMK. S ekarang SMK, mohon maaf sekali, dengan segala hormat karena data yang direpresentasikan oleh asosiasi, SMK menjadi penyumbang pengangguran yang terbanyak. Saya tidak percaya, karena itu saya kunker-kunker. Datanya ternyata benar. Apa yang disampaikan Kasek SMK, perbengkelan motor buat prakteknya masih yang Honda CB-80, jurusan otomotif prakteknya masih mobil tahun 80-an, Kijang Kotak. Berarti ada yang salah ini, yang jadi masalah ternyata adalah karena dulu berlomba-lomba membuat SMK tetapi tidak memiliki fasilitas SMK,” ungkapnya.

Baca Juga :  APBN Tetap Bekerja Keras, Laju Pemulihan Ekonomi Terjaga

Begitu saya SMK Wirakarya ini, kata Dede, yang pertama terpikirkan olehnya adalah luar biasa Kabupaten Bandung punya sekolah seperti ini. Bdukungan dari pemerintah ia tidakberani bicara dulu. “Makanya saya kan main-main karena saya memahami bahwa anggaran pendidikan walaupun besar 20 persen dari APBN, tapi dari 20 persen itu, tepatnya 400 triliun itu 70 persennya diturunkan ke daerah-daerah, sementara yang dikelola oleh Kemendikbud hanya 30 persen,” ungkapnya.

Harapkan Dukungan Pusat

Sebelumnya, Ketua YPPGMI H. Asep Ikhsan, S.Pd., S.E., M.M., mengatakan, pihaknya sangat berbahagia bisa dikunjungi oleh wakil rakyat dari Kabupaten Bandung yang membidangi masalah pendidikan, karena di lapangan masalah-masalah yang menyangkut pendidikan masih banyak yang harus diatasi. “Alhamdulillah di SMK Wirakarya ini ada delapan program pendidikan unggulan,” ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakan Asep Iksah, Indonesia ini pada 2020-2030 akan terjadi bonus demografi, dimana angkatan kerja itu mencapai 70 persen dari jumlah penduduk, atau sekitar 190 juta. “Seperti di Tiongkok, Jepang dan Kores, mereka bisa berhasil itu karena bisa memanfaatkan bonus demografi. Nah jangan sampai di Indonesia, bonus demografi itu malah jadi malapetaka. Jangan sampai seperti India, karena pemerintah tidak bisa mengelolanya, bonus demografi itu malah jadi malapetaka,” ungkapnya.

Jadi, dengan angkatan kerja sekitar 190 juta itu, kata Asep Ikhsa, bagaimana caranya supaya menjadi kekuatan ekonomi. “Katanya, Indonesua itu tahun 2050 menjadi kekuatan ekonomi nomor 4 di dunia, lamun meureunnya, kalau Indonesia itu benar-benar bisa memanfaatkan bonus demografi,” katanya.

SMK sebagai tulang punggung pendidikan, kata Asep Ikhsan, harus bisa menyiapkan tenaga lulusan yang berkualitas, betul-betul mereka kreatif selama pemerintah bisa ‘mengurus’ dalam bentuk sarana dan prasarana yang memadai, agar lulusannya bisa benar-benar kompetitif. “Saya berharap dukungan dari pusat agar lebih mendorong SMK agar benar-benar lulusannya produktif, bisa menciptakan lapangan kerja baru dalam bentuk home industri seperti di Cina. Ini hanya akan bisa tercapai kalau ada langkah konkrit dari pemerintah,” pungkasnya.@mpa/asa

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Suhadhi : Bupati HM Dadang Supriatna Diharapkan Lebih Perhatikan Komite Sekolah

Rab Apr 28 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Ketua Komite Sekolah SMP Negeri 1 Baleendah, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, H. Suhadhi, S.E., mengharapkan Bupati Bandung HM Dadang Supriatna bisa lebih memberikan perhatian pada komite sekolah yang ada di Kabupaten Bandung. “Selama ini komite-komite sekolah di Kabupaten Bandung bisa dikatakan ‘mati suri’, karena tidak adanya perhatian […]