VISI.NEWS|BANDUNG -Tottenham Hotspur memasuki Derby London Utara dengan suasana yang jauh dari ideal. Jarak lima poin dari zona degradasi membuat laga kontra Arsenal pada 22 Februari bukan sekadar soal gengsi, melainkan pertaruhan arah musim.
Di tengah tekanan itu, manajemen menunjuk Igor Tudor sebagai manajer interim. Keputusan tersebut memicu pertanyaan besar: apakah pendekatan keras dan intensitas tinggi ala Tudor mampu langsung mengangkat performa Spurs dalam waktu kurang dari sepekan?
Rekam jejaknya bersama Marseille pada musim 2022–2023 memberi gambaran jelas tentang identitas sepak bolanya. Permainan agresif, pressing tanpa kompromi, serta tempo tinggi menjadi fondasi utama.
“Jika kamu tidak berlari, kamu tidak bermain,” tegas Tudor dalam salah satu wawancara ketika menangani Marseille.
Formasi 3-5-2 hampir selalu menjadi pilihannya. Ia menuntut tekanan tinggi sejak lini depan, transisi cepat setelah merebut bola, dan permainan vertikal yang langsung mengarah ke jantung pertahanan lawan. Pendekatan itu membawa Marseille finis ketiga Ligue 1, dengan perolehan poin lebih banyak dibanding musim sebelumnya.
Namun metode tersebut datang dengan konsekuensi. Tudor tidak segan mengesampingkan nama besar jika dianggap tidak sesuai dengan tuntutan fisik dan taktik. Dimitri Payet, yang saat itu berstatus bintang tim, kerap berada di bangku cadangan.
“Saya memilih pemain berdasarkan kebutuhan tim, bukan reputasi,” ujar Tudor.
Karakter blak-blakan itu pula yang mewarnai perjalanannya di Juventus. Ia sempat membawa klub tersebut finis empat besar Serie A dan mengamankan tiket Liga Champions setelah ditunjuk pada Maret 2025. Namun masa jabatannya berakhir cepat pada Oktober 2025 setelah delapan pertandingan tanpa kemenangan.
Hubungan internal menjadi salah satu faktor keretakan. Tudor secara terbuka mengkritik kebijakan transfer klub.
“Saya tidak bisa diam jika melihat sesuatu yang menurut saya tidak benar,” katanya dalam konferensi pers di Turin.
Kini, tantangan berbeda menantinya di London. Spurs yang baru saja kalah 1-2 dari Newcastle membutuhkan lebih dari sekadar perubahan taktik. Mereka membutuhkan dorongan mental dan disiplin kolektif.
Tudor dikenal menjaga jarak dengan skuad dan tidak berusaha menjadi sosok populer. Fokusnya hanya satu: kebugaran, disiplin, dan eksekusi taktik tanpa kompromi.
Derby melawan Arsenal akan menjadi cerminan awal apakah pendekatan ekstrem itu mampu langsung menyentak Tottenham keluar dari krisis — atau justru memperlihatkan bahwa perubahan besar membutuhkan waktu yang tidak dimiliki Spurs saat ini.@fajar