Di Bank Sampah ini, Pinjam Uang Dibayar Sampah

H. Aswan pendiri Paguyuban Sinar Pusaka yang ikut peduli menjaga kebersihan lingkungan dengan cara mendirikan Bank Sampah "Mulya Sari " yang dikelola warga kampung Sindangsari, Desa Mekarmaju, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung./visi.news/budimantara.
Jangan Lupa Bagikan

VISI.NEWS – Sejumlah pihak menilai, sampah rumah tangga, pasar, maupun sampah lainnya merupakan masalah klasik yang hingga saat ini belum dapat terselesaikan hampir di semua negara, khususnya di Indonesia.

Pemerintah Kabupaten Bandung pun masih terus berusaha dan bekerja keras bagaimana mengatasi permasalahan sampah yang tidak kunjung selesai pada setiap harinya. Sementara sampah yang dihasilkan warga Kabupaten Bandung itu mencapai ratusan ton setiap harinya.

Di Bank Sampah Mulya Sari, pinjam uang dibayar sampah untuk cegah bank emok./visi.news/budimantara.

Atas dasar persoalan sampah tersebut, salah satu organisasi masyarakat yang didirikan oleh H. Aswan dan kawan-kawan, yaitu Paguyuban Sinar Pusaka ikut peduli menjaga kebersihan lingkungan dengan cara mendirikan bank sampah “Mulya Sari”.

H. Aswan mengatakan, bank sampah itu dikelola oleh warga setempat di Kampung Sindangsari lio RT 01/RW 07, Desa Mekarmaju, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung.

“Dengan adanya bank sampah ini,
masyarakat tidak lagi membuang sampah sembarangan. Tetapi sampah yang dihasilkan di rumah tangganya masing-masing diantarkan ke bank sampah dan ditukarkan dengan uang. Hal ini dalam upaya memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa sampah dapat menghasilkan uang dan bermanfaat bagi masyarakat itu sendiri. Karena itu, kita harus bijak memperlakukan sampah,” tutur Aswan kepada wartawan VISI.NEWS di Kampung Sindangsari Lio, Senin (18/5).

Di samping itu, imbuh Aswan, Paguyuban Sinar Pusaka ini juga peduli terhadap kondisi ekonomi masyarakat yang di Kabupaten Bandung masyarakat tersebut kerap diresahkan dengan keberadaan “bank emok” yang mulai merambah kawasan perkampungan.

“Dampak bank emok itu, banyak masyarakat tercekik karena tak bisa mengembalikan pinjamannya. Tidak sedikit dampak dari bank emok ini menimbulkan ketidakharmonisan atau keributan di dalam rumah tangga yang berujung terjadi percekcokan dan perceraian,” tuturnya.

Seiring dengan hal tersebut, Aswan sebagai pengurus Paguyuban Sinar Pusaka juga turut mendirikan Usaha Simpan Pinjam (USP) “Riksa Kasih” untuk modal usaha masyarakat kecil.

“Dengan adanya lembaga usaha ini dapat mencegah bank emok yang selama ini kerap menjerat warga,” ucapnya.

Dengan adanya lembaga usaha tersebut, Aswan mengatakan, teknisnya warga atau nasabah meminjam uang untuk modal usaha dan pembayarannya dengan sampah.

“Harapan kami mudah-mudahan dengan hadirnya bank sampah dan usaha simpan pinjam ini dapat membantu program pemerintah dalam mengatasi sampah dan ikut meringankan beban hidup masyarakat,” tuturnya.

Aswan pun berharap ke depannya
mendapat perhatian dari pemerintah, termasuk bantuan permodalan agar paguyuban ini semakin besar hingga jangkauannya makin luas.

“Kami mendirikan paguyuban ini untuk membantu masyarakat, baik dari persoalan sampah maupun ekonomi. Pasalnya, kedua persoalan ini tidak akan pernah berakhir selama ada kehidupan manusia,” ungkapnya. @bud

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Jelang Idulfitri, Presiden: Pastikan Protokol Kesehatan Tetap Dilaksanakan

Sel Mei 19 , 2020
Jangan Lupa BagikanVisi.News – Pemerintah sama sekali tidak melarang ibadah. Namun mengimbau agar peribadatan dilakukan sesuai dengan protokol kesehatan demi kemaslahatan bersama Kunci keberhasilan dari pengendalian penyebaran Covid-19 ialah kedisiplinan seluruh pihak untuk menjalankan protokol kesehatan secara ketat. Untuk itu, menjelang dan saat hari raya Idulfitri 1441 H, Presiden Joko Widodo […]