Search
Close this search box.

Di Jerusalem, Saya Jadi Akil Balig

Dome of The Rock/www.azuanzahdi.com

Bagikan :

OLEH PRIYO UTOMO LAKSONO

priyo

“Mahasuci Dia yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya…”

— Al-Qur’an, Surah Al-Isra (17:1)

Malam itu dingin; dalam cara yang hanya dimiliki kota-kota batu tua, dingin yang tidak menggigit kulit tetapi meresap perlahan ke dalam kesadaran. Udara di pelataran Masjid Al-Aqsa terasa lebih tipis dari udara mana pun yang pernah saya hirup sebelumnya di usia itu. Seolah, waktu itu sendiri yang telah menghaluskannya selama ribuan tahun.

Saya datang bersama kedua orang tua dan dua kakak saya. Masih teringat, suara langkah kaki saya rasanya terdengar terlalu jelas. Entah mengapa dulu saya, seorang remaja berusia 13 tahun, punya kebiasaan menggunakan sepatu pantofel.

priyo
Ayah, saya, Ibu, dan dua kakak saya.

Ada gema kecil setiap kali sol sepatu menyentuh batu. Bukan gema besar, bukan hal dramatis — hanya untuk mengingatkan kepada tempat yang telah menyaksikan terlalu banyak doa ini bahwa saya telah datang. Lalu, dia bisa sepenuhnya memedulikan kehadiran saya.

Kami datang agak terlambat malam itu. Kompleks masjid sudah sepi, hampir kosong. Beberapa penjaga berdiri dengan sikap santai tapi waspada, seperti orang-orang yang terbiasa menjaga sesuatu yang jauh lebih besar daripada diri mereka sendiri.

Pemandu kami seorang pria Palestina bertubuh tinggi dengan rambut pirang yang tidak sesuai dengan stereotip apa pun yang saya miliki tentang Timur Tengah. Dia berbicara pelan kepada penjaga. Ada pertukaran kata yang saya tidak pahami. Lalu sebuah anggukan. Gebang pun dibuka.

Kami diizinkan masuk!

Saya tidak tahu saat itu bahwa ini adalah sebuah keistimewaan. Saya hanya tahu bahwa saya berjalan menuju sesuatu yang terasa penting, meski saya belum memiliki bahasa untuk menjelaskan mengapa.

Di dalam Dome of the Rock, udara terasa berbeda. Lebih hangat, tapi juga lebih padat, seolah ruang itu masih menyimpan sisa-sisa napas orang-orang yang pernah berdoa di sana berabad-abad sebelumnya.

Di tengah ruangan batu itu berada. Batu yang selama ini hanya saya kenal dari cerita.Batu yang konon menjadi titik saat langit dan bumi pernah bersentuhan.

Baca Juga :  Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Selasa 7 April 2026

Saya mendekat, ragu-ragu, seperti anak kecil yang tidak ingin mengganggu sesuatu yang suci. Lalu, hampir tanpa sadar, saya meletakkan tangan saya di atas permukaannya.

Batu itu dingin!

Bukan dingin seperti logam, bukan dingin seperti air, tapi dingin seperti sesuatu yang tidak peduli pada waktu. Permukaannya kasar, tidak rata, dengan lekukan-lekukan kecil yang terasa seperti bekas dari sesuatu yang terlalu lama untuk diingat manusia.

Saya tidak merasakan kilat spiritual. Tidak ada wahyu pribadi. Tidak ada perasaan luar biasa yang bisa saya ceritakan dengan dramatis. Hal yang saya rasakan justru sesuatu yang jauh lebih sederhana; saya merasa kecil. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, perasaan kecil itu tidak terasa seperti penghinaan. Ia terasa seperti pembebasan.

Saya belum genap empat belas tahun saat itu. Saya adalah seorang anak laki-laki dari Bandung yang beberapa hari sebelumnya masih berdiri kikuk di kamar hotel sederhana di Makkah. Anak laki-laki yang mencoba memahami mengapa idulfitri di kota paling suci umat Islam justru terasa begitu tenang, hampir antiklimaks. Tidak ada petasan. Tidak ada hiruk-pikuk. Tidak ada urgensi untuk merayakan sesuatu secara demonstratif.

Sebagai anak Indonesia, saya tumbuh dengan keyakinan bahwa Lebaran adalah ledakan kegembiraan. Namun di Makkah, Lebaran terasa seperti jeda napas panjang setelah percakapan yang sangat intim.

Hotel kami bahkan nyaris tidak layak disebut hotel dalam standar modern—tempat tidur dengan rangka berwarna pink yang sudah usang, karpet hijau yang tidak sepenuhnya bersih, dan lorong-lorong sempit yang berbau samar deterjen murah. Namun, lokasinya hanya beberapa puluh meter dari Masjidil Haram. Sebagai anak laki-laki yang belum memahami hierarki kenyamanan, itu sudah terasa seperti keajaiban.

Dari sana kami pergi ke Madinah, tempat saya menemukan bentuk keramahan yang belum pernah saya alami sebelumnya. Orang-orang yang tidak mengenal saya menawarkan kurma. Mengundang saya duduk di samping mereka. Tersenyum tanpa alasan lain selain keberadaan saya.

Baca Juga :  Kadisdik Genjot Sosialisasi 'Nyari Gawe' Bekali kelas 12 Masuk Dunia Kerja

Pengalaman spiritual saya di sana tidak terbentuk dalam kekhusyukan. Ia datang dalam bentuk kelemahan. Saya menangis saat tarawih, bukan karena hati saya tersentuh, tapi karena kelelahan.

Sebagai anak laki-laki yang terbiasa dengan tarawih dua puluh rakaat yang relatif cepat di Indonesia, saya tidak siap untuk bacaan panjang yang terasa seperti tidak akan pernah berakhir. Kaki saya sakit. Punggung saya tegang. Di tengah semua itu, saya menangis diam-diam, berharap tidak ada yang memperhatikan.

Bertahun-tahun kemudian, saya menyadari bahwa mungkin itulah bentuk pertama dari kejujuran spiritual saya. Saya tidak berpura-pura menjadi kuat. Saya hanya hadir, dengan segala keterbatasan saya.

Dari Madinah, perjalanan kami berlanjut menuju Jerusalem melalui Jordania. Di perbatasan itulah, tubuh saya mulai mengkhianati masa kanak-kanak saya.

Seorang tentara perempuan dari Israel Defense Forces mewawancarai kami. Rambutnya pirang kusam, matanya biru pucat, dan ekspresinya datar seperti permukaan danau tanpa angin.

Ia mungkin hanya beberapa tahun lebih tua dari saya, tapi tangan saya gemetar saat menjawab pertanyaannya. Itu bukan rasa takut yang murni. Itu sesuatu yang lebih membingungkan—kesadaran mendadak bahwa dunia memiliki dimensi yang sebelumnya tidak saya ketahui. Kecantikan dan kekuasaan bisa berada dalam satu tubuh yang sama. Saya, entah bagaimana, kini cukup tua untuk merasakan itu.

Akil balig saya tidak datang sebagai peristiwa tunggal. Ia datang sebagai serangkaian gangguan kecil dalam persepsi saya tentang dunia. Seperti malam itu, di pelataran Masjid Al-Aqsa, ketika saya sujud dan tiba-tiba merasakan sepasang tangan kecil memegang tumit saya.

Saya terkejut. Saya menoleh. Seorang anak kecil mematung.

Ia tidak mengatakan apa pun. Ia hanya berada di sana, cukup dekat untuk menghapus jarak yang biasanya kita pertahankan dengan orang asing.

Di usia itu, saya belum memahami kolonialisme. Saya belum memahami pendudukan. Saya belum memahami politik, tapi saya memahami sentuhan.Lalu, sentuhan itu mengatakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh berita mana pun.

aqsaBeberapa hari kemudian, di kamar hotel kami yang hangat, saya bangun lebih awal dari semua orang. Cahaya pagi masuk melalui jendela, menerangi lanskap batu Jerusalem dengan warna keemasan pucat.

Baca Juga :  Pemkab Sukabumi Dorong Percepatan Groundcheck Reaktivasi Kepersertaan PBI JK

Saya berdiri di dekat jendela, membuka sedikit kaca. Udara dingin pun masuk.

Lalu saya melihatnya. Ketombe! Serpihan kecil jatuh dari rambut saya ke bahu. Saya berdiri diam, memperhatikan itu, dan untuk pertama kalinya merasa malu terhadap tubuh saya sendiri.

Saya membayangkan gadis tentara di perbatasan itu melihat saya seperti ini. Saya membayangkan gadis-gadis Jordania yang saya lihat sekilas selama perjalanan menertawakan saya.

Pada momen itu, saya menyadari sesuatu yang sederhana dan brutal; saya bukan anak kecil lagi!

Saya sudah akil balig, seperti yang kemudian saya pahami, bukan hanya tentang tubuh. Ini adalah tentang kesadaran, tentang memahami bahwa dunia bukan hanya panggung bagi cerita kita sendiri.

Ramadan, yang baru saja saya lewati saat itu, kini terasa seperti konteks yang sempurna untuk pengalaman tersebut. Ramadan, pada intinya, adalah latihan untuk menjadi sadar. Sadar akan lapar. Sadar akan kelemahan. Sadar akan keberadaan orang lain.

Penyair Palestina Mahmud Darwish pernah menulis, “Kami mencintai hidup jika kami mampu menjalaninya.”

Kalimat itu sederhana. Hampir datar. Akan tetapi, ia lahir dari tanah yang dipenuhi alasan untuk tidak mencintai hidup.

Sebagai anak laki-laki dari Bandung yang kebetulan ‘akil balig’ di Jerusalem, saya tidak memiliki klaim apa pun atas penderitaan Palestina. Namun, saya memiliki sesuatu yang lain: kesaksian kecil tentang bagaimana sebuah tempat dapat mengubah cara seseorang melihat dunia.

Ramadan datang setiap tahun, membawa kesempatan untuk kembali menjadi manusia yang lebih sadar. Setiap kali ia datang, saya teringat batu dingin di dalam Dome of the Rock itu.

Batu itu diam!

Batu itu tidak membutuhkan saya untuk memahami maknanya. Batu itu, dalam diamnya, mengajarkan bahwa menjadi manusia bukanlah tentang menjadi besar, melainkan tentang menjadi cukup terbuka untuk diubah.*

Baca Berita Menarik Lainnya :