Di Saudi, Sembarangan Kirim Emoji Hati via WhatsApp Bisa Dibui

Editor Foto ilustrasi./istockphoto/kolotuschenko/via cnnindonesia.com/ist.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS | SAUDI – Pengirim emoji hati via WhatsApp di Arab Saudi secara serampangan bisa masuk bui. Kebijakan ini terkait Undang-undang Anti-Pelecehan Seksual di negara tersebut.

Pengadilan Arab Saudi bisa menjebloskan ke penjara pengirim emoji hati via WhatsApp kepada pengguna lain tanpa persetujuan karena dianggap melakukan tindakan pelecehan seksual.

Anggota Asosiasi Anti-Penipuan di Arab Saudi, Al Moataz Kutbi, mengatakan mengirim emoji hati merah di Whatsapp sama dengan kejahatan pelecehan.

“Beberapa gambar dan ekspresi selama chatting bisa berubah menjadi tindak kejahatan pelecehan jika gugatan diajukan oleh pihak yang dirugikan,” kata Kutbi, mengutip CNN Indonesia dari Gulf News baru-baru ini.

Dia memperingatkan, bagi pengguna aplikasi tak perlu terlibat dalam obrolan dengan pengguna mana pun tanpa persetujuan atau consent mereka.

Selain itu, menurutnya, para pengguna aplikasi tak perlu melempar topik yang membuat tak nyaman atau mengganggu, termasuk menggunakan ekspresi atau emoji hati merah.

“Menurut sistem anti-pelecehan, pelecehan didefinisikan bahwa setiap pernyataan, tindakan, atau isyarat yang berkonotasi seksual yang dilakukan oleh seorang terhadap orang lain yang menyentuh tubuh atau kehormatannya atau melanggar kesopanan dengan cara atau perantara apa pun termasuk teknologi modern,” papar Kutbi.

Ia lalu berujar, “Termasuk (emoji) yang berkonotasi seksual menurut adat masyarakat, seperti hati merah dan mawar merah.”

Dia menjelaskan bahwa pengirim akan dimintai pertanggungjawaban atas pelanggaran tersebut jika penerima pesan melaporkan ke kepolisian.

Merujuk UU Anti-Pelecehan Seksual di Saudi, jika pengirim emoji itu terbukti bersalah, ia akan dibui selama dua hingga lima tahun dan/atau denda RS100 ribu atau sekitar Rp 380 juta.

Jika tindakan itu berulang-ulang, denda bisa mencapai SR300 ribu (Rp1,1 miliar) dan penjara lima tahun.

Baca Juga :  Penghargaan yang Diterima itu Merupakan Motivator

Kasus kekerasan seksual termasuk pelecehan yang terus mencuat membuat pemerintah Saudi mengesahkan Undang-Undang Anti-Kekerasan pada 2018.

Arab Saudi kemudian mengamandemen UU tahun lalu, dengan mengizinkan nama dan hukuman pelanggar aturan dipublikasikan di media.

Terlepas dari UU tersebut, beberapa perempuan Saudi mengeluhkan otoritas Kerajaan tak cukup melakukan banyak hal untuk mengakhiri kekerasan ini. @fen

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Edarkan Uang Palsu, Pria Asal Malang Bakal Lebaran di Penjara

Jum Apr 29 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | SURABAYA – SJT (27) pemuda asal Dampit, Malang tidak bisa berkumpul dengan keluarga saat Idulfitri beberapa hari ke depan. Ia ditangkap Unit Reskrim Polsek Tambaksari di Terminal Osowilangun karena mengedarkan uang palsu (upal) pecahan Rp 50 ribu. Kapolsek Tambaksari, Kompol M. Akhyar mengatakan, dalam menjalankan aksinya, tersangka […]