Dikenal Bubur “Abeh” Depan RSUD Al Ihsan, Malah Ini Menu Favoritnya

Abeh, pemilik gerai bubur di depan RSUD Al Ihsan, Baleendah, Kabupaten Bandung. /visi.news/aep sa
Jangan Lupa Bagikan

VISI.NEWS – Jadi wirausahawan sesuatu yang mudah diucapkan namun sulit dilaksanakan. Tidak sedikit mereka yang punya bekal uang banyak setelah resign dari perusahaan, gagal menjadi wirausaha. Karena sejatinya, modal seorang wirausaha bukan uang tapi mental.

Adalah Utja Suhendi salah seorang karyawan yang berhasil menikmati hasil wirausaha di usia paruh baya. Pria yang akrab disapa “Abeh” itu, di kawasan Bandung Selatan dikenal sebagai pedagang bubur ayam cukup berhasil. Tempat jualanya di halaman parkir Indomart, di seberang gerbang masuk kendaraan RSUD Al Ihsan, buka 24 jam, menjadi tempat nongkrong yang cukup enak di malam hari.

Merintis Usaha

Pria kelahiran 1958 ini, mengungkapkan kepada VISI.NEWS, Jumat (19/6/2020) dini hari, merintis jadi wirausaha sejak ia bekerja di PT. Perkebunan XII. Suami dari Ny. Lilis Aan ini pada awalnya siang bekerja, malam jualan bubur ayam.

“Abeh jualan di sini sejak tahun 1997, sedangkan pensiun dari PT. Perkebunan XII baru tahun 2014 lalu,” ujarnya di sela-sela melayani konsumennya.

Dia bercerita, selepas keluar sekolah di Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Baleendah, Kabupaten Bandung (SMKN 3, sekarang) tahun 1980 langsung diterima bekerja di BUMN tersebut. “Dulu bekerja itu mudah, keluar sekolah banyak yang menampung kerja,” ungkap Abeh.

Di PT Perkebunan XII ia ditempatkan sebagai petugas penyuluh lapangan (PPL) di perkebunan yang ada di Kalimantan Barat (Kalbar). “Enam tahun di Kalbar, saya dipindahkan ke kantor pusat di Jakarta. Lama di Jakarta kemudian dipindah lagi ke balai benih yang di Ciganitri, Bojongsoang, Kabupaten Bandung, dan sampai pensiun di balai benih,” paparnya.

Usaha buburnya sendiri dimulai sejak ia masih kerja di BUMN tersebut tahun 1997, meneruskan usaha yang dirintis mertuanya.”Capek memang karena malam jualan bubur, siang harus ngantor dan ke lapangan. Tapi, saya melihat sejak awal usaha ini prospeknya baik, karena posisinya di dekat rumah sakit. Jadi selama rumah sakit ada usaha ini bakal tidak ada matinya,” ungkapnya di gerainya yang sederhana.

Pelanggannya bukan hanya pasien, keluarga pasien, tapi hampir semua tenaga medis dan paramedis RSUD Al Ihsan pernah merasakan bubur maupun nasi kuning olahannya. Sehingga nama Abeh cukup dikenal juga di rumah sakit tersebut.

Abeh menambahkan, salah satu teman lulusan SPMA Baleendah yang sampai sekarang menjadi pelanggan setianya dan sering mampir ke gerainya Lurah Jelekong, Dadan Sundana, juga Seklurnya, Oman. Dari Kelurahan Jelekong ini juga tokoh dalang wayang golek alm. Asep Sunandar Sunarya menjadi pelanggan setianya. “Sehabis ngedalang, Abah Asep dulu sering mampir ke sini. Tradisi ini juga sekarang dilakukan oleh putranya Dadan (dalang) dan Yoga (dalang),” ujar Abeh.

Katanya, tidak hanya dari keluarga Giriharja, tokoh seniman lainnya di Kabupaten Bandung paling banyak yang jadi pelanggannya. “Mungkin mereka sehabis manggung nyari tempat makan yang buka sampai pagi, dan dianggap cocok dengan selera lidah mereka hanya di sini,” ungkapnya.

Namun diakuinya, jualan malam hari memerlukan mental yang kuat, karena kehidupan malam harus siap menghadapi ragam jenis orang. Dari mulai orang baik-baik, tukang palak, pemabuk, sampai wanita jalanan.”Itu dulu, kalau sekarang sih sudah tidak ada,” ungkapnya.

Menu Favorit

Abeh mengungkapkan, sebetulnya menu favoritnya bukan bubur ayam tapi nasi kuning. Konsumen nasi kuningnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan bubur ayam.

“Olahan nasi kuning disini memang berbeda dibandingkan nasi kuning di tempat lainnya. Disamping bumbu nasi kuningnya lebih berasa, juga bisa tahan dua sampai tiga hari meski tanpa bahan pengawet. Asal jangan dicampur dengan mentimun. Mentimunnya harus dipisah,” katanya.

Selain nasi kuning, bagi yang pernah nongkrong di gerai Abeh ini pasti akan merasakan sambal yang sangat berasa tapi tidak terlalu pedas.”Sambal disini juga memang berbeda dengan di tempat lain, karena sambalnya Abeh sambal oncom,” jelasnya.

Rata-rata semalam ia bisa menjual diatas 150 porsi bubur ayam dan nasi kuning. Bahkan pada malam Idul Fitri lalu ia bisa menjual sampai 500 porsi. Untuk pesanan melalui Go-Food nasi kuning dijual Rp. 16.000,-/porsi dan bubur ayam Rp. 13.000,-/porsi.”Harga beli langsung ke sini lebih murah karena pesanan online kan ditambah 20% dari harga di gerai,” jelasnya.

Di gerai Abeh bukan hanya bubur ayam dan nasi kuning tapi juga ragam jenis minuman mulai kopi hitam sampai wedang jahe. Untuk yang biasa keluyuran malam hari, nongkrong di gerainya Abeh bisa berlama-lama, apalagi nongkrongnya dengan teman-teman sejawat. Pelanggan Abeh juga bukan hanya seputaran Bandung, namun banyak juga dari pelosok Jawa Barat yang kalau berkunjung ke Bandung mampir ke gerainya.

Di usianya yang ke-61 tahun ini, Abeh tidak bekerja sendiri namun ada empat orang yang bekerja untuknya. Dua orang pekerja yang menyiapkan olahan bubur dan nasi kuningnya di rumah, mulai dari belanja bahan sampai meracik serta menanak makanan, dua orang lagi menyiapkan gerainya. Sedangkan pelayanan ke konsumen dilakukan oleh Abeh dan istrinya sendiri.

“Kalau pagi sampai petang oleh istri saya. Anak saya yang bungsu kadang-kadang membantu dan diupah Rp 100 ribu/hari. Selepas salat Isya sampai Subuh oleh saya sendiri,” ujarnya.

Dari pernikahannya dengan Ny
Lilis Aan, Abeh dikaruniai tiga orang putra. Sulung membantu suaminya wirausaha seperti Abeh, yang kedua kerja di PT. Sanbe Farma dan yang bontot selain sekali-kali membantu di gerai buburnya mengajar di Pesantren As-Ayurul, Kp. Pameutingan, di Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung.

Abeh bersyukur dari usahanya ini diberi keberkahan dan kemudahan rezeki. Sehingga dari usahanya ini pula ia bisa memberangkatkan ibunya ke tanah suci. “Kata orang tua kalau rezeki yang berkah itu sekalipun kecil tapi bisa mencukupi dan langgeng,” pungkasnya.@aep s abdullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Banyak Salah Paham, Ini Arti Orang Tanpa Gejala

Jum Jun 19 , 2020
Jangan Lupa BagikanVISU.NEWS – Sejak merebak virus corona, banyak muncul istilah-istilah yang berkaitan dengan pandemi Covid-19. Salah satunya Orang Tanpa Gejala (OTG). Kepala Seksi Surveilans dan Imuniasi Dinas Kesehatan (Disdik) Kota Bandung, Girindra Wardhana,  menjelaskan, OTG bukanlah orang yang positif terjangkit virus SARS Cov-2 atau virus corona yang tidak menunjukkan […]