Dinamika Pilkada 2024

Editor Djamu Kertabudi, Akademisi./visi.news/ist.
Silahkan bagikan

Oleh Djamu Kertabudi

DALAM tulisan sebelumnya, saya mengajak semua pemangku kepentingan di KBB untuk mulai saat ini disamping waktunya mengelus-ngelus bakal calon Bupati & Wakil Bupati Bandung Barat secara intern, melainkan juga bagi figur yang berniat mengikuti kontestasi pilkada 2024 harus mulai mensosialisasi dirinya kepada masyarakat luas.

Waktu dua tahun (2022-2024) adalah momen strategis dalam proses eksplorasi (penjajagan) politik untuk membuka peluang dan kemungkinan dalam menciptakan popularitas dan elektabilitas (ketertarikan seseorang dalam menentukan pilihannya). Bagi figur yang sudah matang di wilayah politik, bahwa hasil evaluasi dari eksplorasi politik ini yang dilakukan pada tahun 2023 nanti sebagai bahan untuk menentukan apakah proses pencalonan sebagai Bupati terus berlanjut, atau cukup sebagai calon Wakil Bupati, bahkan mengurungkan niatnya dalam proses pencalonan baik sebagai Bupati maupun Wakil Bupati.

Satu hal yang patut diungkapkan, bahwa politik bukan hanya berbicara sebuah peluang, kalau ini terjadi akan terjebak dalam sebuah penomena ilusi optik sebagai fatamorgana politik yang mengungkung dirinya dalam lingkaran “false hopes” (harapan kosong). Politik adalah integritas kebangsaan yang harus diperjuangan dengan berdarah-darah melalui karakter dan potensi yang dimilikinya berkaitan dengan modal sosial, modal karya, dan modal finansial (Soeharsono Sagir).

Berdasarkan hasil penelitian yang dituangkan dalam bentuk disertasi seorang kandidat doktor mengetengahkan kesimpulan bahwa peluang mendasar untuk memenangkan dalam kontestasi politik, yang utama adalah modal sosial, sejauh mana seorang kandidat sejak lama dikenal dan mengenal masyarakatnya, artinya tidak muncul ujug-ujug. Keduanya, modal karya, artinya telah berbuat sesuatu bagi masyarakatnya. Sehingga modal finansial diposisikan sebagai suplemen, dan bukan yang utama.

Baca Juga :  Jelang Pembelajaran Tatap Muka, Ganjar Cek SOP Protokol Kesehatan SMK Negeri Jateng

Berdasarkan fakta sosok kandidat Pilkada menghabiskan puluhan milyar untuk memenangkan sebuah pertarungan. Hal itu terjadi, jangan sekali-kali menarik kesimpulan subyektif, seolah masyarakat tengah pragmatis & transaksional, melainkan kandidat itulah yang melakukan langkah “cepat saji” dalam mendongkrak elektabilitasnya, mengingat unsur lainnya, yaitu modal sosial, dan modal karya relatif minim.

Yang menarik dan patut disimak serta mendapat perhatian tersendiri, adalah baru-baru ini PKS KBB yang memiliki kursi terbanyak di DPRD, sudah melakukan proses konvensi untuk memunculkan kandidat Bupati KBB 2024, dan mengajukan tiga kandidat dari unsur kadernya ke DPW Provinsi, dan selanjutnya diajukan ke DPP.

Ini langkah strategis dalam melakukan “starting point”. Dan biasanya PKS secara simultan melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk memperoleh tingkat elektabilitas dari ketiga kandidat tersebut.

Lantas bagaimana dengan partai lainnya ? Kita tunggu saja. Disamping itu, kandidat lain yang non kader partai sudah memulai sosialisasi untuk kemungkinan menggunakan jalur perseorangan. Kata kuncinya adalah kapasitas & integritas kepemimpinan sebagai dasar terpilihnya pasangan Bupati/Wabup KBB 2024. Wallohu A’lam.

  • Penulis DR. H. Djamu Kertabudi, pemerhati masalah politik dan pemerintahan. 

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Pulihkan Ekosistem SM Padang Sugihan Bersama Masyarakat Desa Suka Pindah Melalui Kemitraan Konservasi

Sel Mar 8 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | SUMATERA SELATAN – Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) bersama dengan Ketua Kelompok Tani Hutan Konservasi (KTHK) Berkat Yakin melakukan penandatanganan perjanjian kerjasama (PKS) penguatan fungsi kemitraan konservasi dalam rangka pemulihan ekosistem pada blok rehabilitasi kawasan Suaka Margasatwa (SM) Padang Sugihan wilayah kerja […]