Disparbud Gelar Simulasi Hajatan

Simulasi hajatan dengan prosesi protokoler kesehatan digelar Disparbud Kab. Bandug di Desa Wangisagara, Kec. Majalaya, Jumat (26/6)./visi.news/apih igun.
Jangan Lupa Bagikan

– Bagaimana menyambut pengantin dengan upacara adat, menyambut tamu, bagaimana bersalaman dengan keluarga dan pengantin, sampai bagaimana posisi berjoget saat ada hiburan di tempat resepsi.

VISI.NEWS – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) menggelar simulasi hajatan selama masa PSBB pandemi Covid-19, sambil menunggu Peraturan Bupati tahun 2020 ini.

Dengan dibukanya PSBB dan diberlakukannya Adaptasi Kehidupan Baru (AKB), maka para pelaku seni di Kabupaten Bandung kembali akan mendapatkan pekerjaan. Karena selama ini seniman dan seniwati yang mengandalkan pencaharian dari panggung hajatan selama diberlakukan PSBB karena pandemi Cobid-19, dapur mereka tidak ngebul.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Bandung, H. Yosep Nugraha./visi.news/apih igun

“Namun, kini ada asa karena Peraturan Bupati Bandung tentang regulasi yang membolehkan masyarakat menggelar resepsi hajatan di masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), minggu kedua di bulan Juli sudah beres. Artinya, sekarang sedang dibuat regulasinya bagaimana nanti aturan pelaksanaan resepsi di masa AKB. Insyaalloa minggu kedua bulan Juli sudah beres. Biasanya kita kan stay at home, sekarang move on. Dengan catatan tiga hal diperhatikan, cuci tangan, memakai masker, jaga jarak,” papar Yosep Nugraha, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Bandung, H. Yosep Nugraha saat dihubungi di sela-sela simulasi menggelar resepsi dan pentas seni di Anjungan Kampung Budaya, Desa Wangisagara, Kecamatan Majalaya, Jumat (26/6).

Simulasi resepsi yang melibatkan pelaku seni dan beberapa komunitas seni di Kecamatan Majalaya serta Dewan Kebudayaan Kabupaten Bandung (DKKB) tersebut memperagakan bagaimana menyambut pengantin dengan upacara adat, menyambut tamu, bagaimana bersalaman dengan keluarga dan pengantin, sampai bagaimana posisi berjoget saat ada hiburan di tempat resepsi.

Semua orang mencuci tangan dan memakai masker, termasuk pengantin. Personel seni yang jika memakai masker tidak nyaman, seperti MC maka memakai face shild.

Di Anjungan tersebut disediakan tiga panggung berukuran 3×4, 4×6, dan 6×6, masing-masing untuk organ tunggal, dangdut, dan karawitan.

Melihat simulasi tersebut, Yosep menilai sudah sesuai 95 persen dengan protokol pencegahan Cobid-19.

“Yang lima persennya tinggal bagaimana tidak henti-hentinya MC nanti mengingatkan kepada orang-orang di tempat resepsi yang sebenarnya. MC kalau bisa didamping oleh petugas dari wedding organizer. Karena nanti kita berhadapan dengan banyak orang yang berbagai karakter. Ada yang tidak tahu, ada yang tahu tapi tidak peduli. Di sini kita mudah karena terorganisasi,” terang Yosep.

Yosep menambahkan, tak hanya pertunjukan kesenian di resepsi pernikahan yang harus melakukan simulasi stadar pencegahan Covid-19, setiap usaha kepariwisataan dan kebudayaan, termasuk kesenian di luar resepsi pernikahan pun sama.

“Demikian pun dengan konser musik. Namun, caranya apakah nanti seperti ini atau drive on, penonton di dalam mobil. Yang penting kesenian bisa diaktivasi,” pungkasnya. @pih

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Harapan SPSI, Cabup Bandung Harus yang Pro Pekerja

Sab Jun 27 , 2020
Jangan Lupa BagikanVISI.NEWS – Para pekerja yang ada di kabupaten Bandung, Jawa Barat, sangat mendambakan calon bupati Bandung yang pro pekerja. Demikian disampaikan oleh Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Kabupaten Bandung, Uben Yunara, kepada wartawan saat dihubungi via telepon seluler, Sabtu (27/6). Para pekerja. kata Uben, berharap figur calon […]