VISI.NEWS | BANDUNG – Bulan Dzulhijjah dikenal sebagai salah satu bulan mulia dalam Islam karena termasuk dalam empat bulan haram. Pada sepuluh hari pertamanya, umat Muslim dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, termasuk melaksanakan puasa sunnah.
Dua hari yang menonjol dalam periode ini adalah puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah) dan puasa Arafah (9 Dzulhijjah). Meski tidak wajib, puasa pada kedua hari tersebut menjadi salah satu sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, khususnya bagi umat yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.
Saat berbuka puasa, umat Islam dianjurkan membaca doa sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Tidak ada doa khusus untuk puasa Tarwiyah dan Arafah, namun terdapat dua bacaan yang umum digunakan. Pertama, doa yang berbunyi:
اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
Allahumma laka shumtu wa bika amantu wa’ala rizqika afthartu. Birrahmatika yaa arhamar roohimin
Artinya: “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka. Dengan rahmat-Mu wahai yang Maha Pengasih dan Penyayang.”
Doa kedua yang dianggap lebih kuat dari sisi sanad hadis adalah:
ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ
Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah
Artinya: “Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki.”
Doa buka puasa versi kedua ini dinilai lebih shahih seperti tertuang dalam Kitab Sunan Abu Dawud.
Doa ini tercantum dalam hadis riwayat Abu Dawud dan dinilai shahih oleh para ulama.
Namun, keabsahan hadis tentang keutamaan puasa Tarwiyah masih menjadi perdebatan. Ulama seperti Ustaz Abdul Hakim bin Amir Abdat menilai bahwa hadis mengenai puasa Tarwiyah bersumber dari riwayat yang lemah bahkan palsu. Meski demikian, tanggal 8 Dzulhijjah tetap termasuk dalam sepuluh hari yang dimuliakan Allah SWT.
“Tidak ada perbuatan yang lebih disukai Allah SWT. daripada perbuatan baik yang dilakukan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Para sahabat ada yang bertanya, ‘Walaupun jihad di jalan Allah, ya Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Iya benar. Kecuali orang-orang yang berjihad dengan jiwa dan hartanya, kemudian yang mati selama-Lamanya (menjadi syahid).” (HR. Bukhari, Ahmad, dan Tirmidzi). @ffr