Doa Ini Sering Dibacakan oleh Jenderal Sudirman

Silahkan bagikan

VISI.NEWS | BANDUNG – Pahlawan Nasional Indonesia, Jenderal Soedirman, selain dikenal sebagai panglima perang yang tangguh, juga terkenal dengan spiritualitasnya yang mendalam.

Tahun 1948, saat Belanda kembali menyerang dan ingin menguasai Indonesia, dimulai dari Yogyakarta, Soekarno menyarankan agar Jenderal Sudirman beristirahat karena saat itu sedang sakit paru-paru.

Jenderal Sudirman tidak mempedulikan nasihat Soekarno. Sesampainya di Kediri, pasukan Belanda tiba-tiba menemukan persembunyiannya karena ada anak buahnya adaq yang berkhianat menunjukkan tempat persembunyian Jenderal Sudirman ke pihak Belanda.

Saat itu, Sang Jenderal mengajak para prajurit untuk menggelar dzikir.

“Mari kita berdzikir agar diberi pertolongan Allah. Jangan sekali-kali di antara tentara kita ada yang menyalahi janji menjadi pengkhianat nusa, bangsa, dan agama. Harus kamu senantiasa ingat bahwa perjuangan selalu memakan korban. Jangan sekali-kali membuat rakyat menderita,” ucap Jenderal Soedirman

Anehnya, tak ada satu pun pasukan Belanda yang mempercayai sang pengkhianat bangsa Indonesia tersebut mengenai identitas Jenderal Sudirman. Saat sang pengkhianat menunjuk Jenderal Soedirman, ia malah ditembak mati.

Sudirman memang piawai dalam berperang dan mengecoh lawan. Dirinya mampu berkali-kali meloloskan diri dari sergapan Belanda, bahkan ketika persembunyiannya sudah dikepung oleh militer Belanda.

Salah satu aspek yang mencolok adalah kebiasaannya dalam membacakan doa tertentu sebelum memasuki medan perang atau menghadapi situasi kritis. Doa ini bukan hanya simbol keimanan, tetapi juga menjadi sumber kekuatan spiritual bagi Jenderal Sudirman dan pasukannya.

Salah satu doa yang sering dibacakan oleh Jenderal Sudirman adalah doa “Hasbiyallahu Laa Ilaaha Illa Huwa, ‘alaihi tawakkaltu wahuwa rabbul ‘arsyil ‘adzhiim.” Terjemahan dari doa ini adalah “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.” Doa ini mengandung makna kesederhanaan, ketergantungan pada Allah, dan keyakinan sepenuhnya pada kekuatan-Nya.

Baca Juga :  HIDAYAH: Margareta, Mualaf yang Berislam dengan Dukungan Keluarga (3/Habis)

Jenderal Sudirman, dalam banyak kesempatan, berbagi bahwa doa ini menjadi penyejuk hati dan pendorong semangat bagi pasukannya di tengah-tengah medan perang yang sulit.

Dalam wawancaranya, beliau sering menegaskan bahwa keberhasilan perjuangan tidak hanya bergantung pada kekuatan fisik, melainkan juga pada kekuatan spiritual dan ketabahan hati.

Doa ini, dengan kata-kata yang sederhana namun sarat makna, mencerminkan jiwa kepemimpinan Jenderal Sudirman yang mengajarkan pentingnya keterhubungan dengan kekuatan ilahi dalam mengarungi perang kemerdekaan.

Tradisi membaca doa ini tidak hanya menjadi ritual sebelum pertempuran, tetapi juga menjadi sumber inspirasi untuk tetap tegar dalam menghadapi cobaan hidup.

Pentingnya doa ini bagi Jenderal Sudirman menggambarkan bahwa dalam setiap langkah perjuangan, ada kekuatan yang lebih besar yang harus diakui.

Dalam momentum peringatan Hari Pahlawan, kita tidak hanya mengenang perjuangan fisik Jenderal Sudirman dan para pejuang kemerdekaan, tetapi juga menghargai warisan spiritual yang memperkukuh semangat perjuangan Indonesia.

Doa ini, yang terus diwariskan dari generasi ke generasi, menjadi simbol kekuatan dan keberanian dalam menghadapi tantangan.

Semoga doa yang ditinggalkan oleh Jenderal Sudirman tetap membawa inspirasi bagi kita semua, merajut nilai-nilai kebangsaan, dan mengukir semangat kepahlawanan di setiap jiwa anak bangsa.

@mpa

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Ziarah di TMP Kusuma Bangsa, Wali Kota Eri: Semangat Pahlawan Terus Membara

Jum Nov 10 , 2023
Silahkan bagikanVISI.NEWS | SURABAYA – Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Surabaya melaksanakan upacara ziarah nasional di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusuma Bangsa Surabaya, Kamis (9/11/2023). Upacara dilaksanakan untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur berjuang demi kemerdekaan bangsa Indonesia. Dalam kesempatan itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi bertindak […]