VISI.NEWS | BANDUNG – Sering kali manusia lebih fokus pada hasil doa daripada prosesnya. Ketika harapan belum juga terwujud, muncul rasa kecewa, gelisah, bahkan protes dalam hati. Padahal dalam ajaran Islam, doa bukan semata-mata tentang terkabul atau tidaknya permintaan, melainkan tentang posisi seorang hamba di hadapan Allah SWT.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa doa adalah manifestasi penghambaan dan rasa butuh seorang hamba kepada Tuhannya. Ia menulis:
ان في الدعاء تحقيق العبودية والافتقار، وهو مظهر حاجة العبد الى ربه في كل حال
Inna fid-du‘ā’i taḥqīqal-‘ubūdiyyah wal-iftiqār, wa huwa maẓharu ḥājati al-‘abdi ilā rabbihī fī kulli ḥāl.
Artinya: “Sesungguhnya dalam doa terdapat perwujudan penghambaan dan kefakiran. Ia adalah manifestasi kebutuhan hamba kepada Tuhannya dalam setiap keadaan.”
Makna ini menegaskan bahwa doa bukan alat transaksi antara manusia dan Tuhan. Dalam Al-Hikam, Ibnu Athaillah as-Sakandari mengingatkan dengan kalimat singkat namun mendalam:
لا تكن مطلبك سببا للاعطاء منه
Lā takun maṭlabuka sababan lil-i‘ṭā’i minhu.
Artinya: “Jangan jadikan permintaanmu sebagai sebab untuk diberi oleh-Nya.”
Al-Qur’an pun menegaskan bahwa doa adalah bagian dari ibadah, bukan sekadar sarana meraih keinginan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Ghafir ayat 60:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Wa qāla rabbukum ud‘ūnī astajib lakum, innallażīna yastakbirūna ‘an ‘ibādatī sayadkhulūna jahannama dākhirīn.
Artinya: “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina.’”
Ayat ini menunjukkan bahwa enggan berdoa sama dengan kesombongan, karena menolak mengakui ketergantungan kepada Allah. Hakikat doa bukanlah memaksa kehendak Tuhan, melainkan mengakui bahwa manusia tidak memiliki daya dan upaya kecuali dengan izin-Nya. Doa adalah bentuk ketundukan total.
Dengan demikian, doa yang paling bernilai bukanlah yang cepat dikabulkan, melainkan yang menumbuhkan rasa tunduk dan kebergantungan sepenuhnya kepada Allah. Karena pada akhirnya, berdoa adalah ibadah itu sendiri—jalan untuk menjaga hati tetap rendah, sadar, dan dekat dengan Sang Pencipta. Wallāhu a‘lam.
@uli