VISI.NEWS | BANDUNG – Dolar Amerika Serikat menguat terhadap sebagian besar mata uang utama pada perdagangan Asia, Senin (18/5/2026). Kenaikan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan aksi penjualan obligasi global memicu permintaan aset aman seperti greenback.
Euro tercatat melemah ke USD1,1609, sementara poundsterling turun ke USD1,3305, masing-masing turun lebih dari 0,1 persen. Dolar Australia yang sensitif terhadap sentimen risiko turun 0,4 persen menjadi USD0,7121, sedangkan dolar Selandia Baru relatif stabil di USD0,5827. Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, naik tipis ke level 99,393.
Harga minyak dunia turut memengaruhi pergerakan dolar. Laporan serangan terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir di Uni Emirat Arab memicu kekhawatiran gangguan distribusi energi, khususnya di Selat Hormuz. Harga minyak Brent berjangka naik lebih dari satu persen menjadi USD110 per barel. Analis Barclays menilai, “Kondisi untuk risiko dan obligasi memburuk, dan kondisi untuk reli dolar berlanjut pada minggu ini sudah matang.”
Penguatan dolar juga didorong imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tinggi. Yield obligasi tenor 10 tahun mencapai 4,607 persen, sedangkan tenor dua tahun berada di 4,085 persen, mendekati level tertinggi dalam setahun. Christopher Wong, ahli strategi FX OCBC, menekankan bahwa imbal hasil yang tinggi membuat USD tetap diminati, terutama jika pasar menilai Federal Reserve akan tetap agresif dalam kebijakan suku bunga.
Pasar kini menunggu risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) dan data awal Indeks Manajer Pembelian (PMI) AS pekan ini untuk melihat arah kebijakan moneter. Penguatan greenback menekan yen Jepang ke level 158,84 per USD dan yuan Tiongkok ke 6,8163 per USD, mencerminkan spekulasi potensi intervensi pemerintah Jepang dan perhatian global terhadap pertumbuhan ekonomi Tiongkok.
Secara keseluruhan, penguatan dolar AS mencerminkan kombinasi faktor geopolitik, harga energi, dan kebijakan moneter AS. Pergerakan ini menegaskan bahwa volatilitas mata uang global tetap dipengaruhi risiko eksternal, membuat investor lebih selektif dalam mengambil keputusan di pasar valuta asing. @desi