Dosen FP UNS Iseng Jadi Petani Tanam Cabai di Masa Pandemi

Editor :
Dosen FP-UNS, Dr. Edi Triharyanto di tengah lahan tanaman cabai siap panen, di Desa Ngringo, Kabupaten Karanganyar./visi.news/tok suwarto.

Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Pandemi Covid 19 yang berkepanjangan sampai saat ini, telah mengubah segalanya termasuk dosen Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (FP-UNS), Dr. Edi Triharyanto.

Pakar tanaman hortikultura yang sampai saat ini masih termasuk dalam tim penilai benih tanaman hortikultura, Kementerian Pertanian (Kementan) tersebut, memanfaatkan waktu luang kegiatan kampus untuk bertani.

Dalam bercocok tanam hortikultura, setidaknya selama 3 bulan masa pandemi belakangan ini, Dr. Edi menerapkan teori pertanian terpadu di lahan yang tidak seberapa luas, di Desa Ngringo, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar.

Di antara beragam tanaman di lahan yang berlokasi di tepian Bengawan Solo sisi timur tersebut, dia secara intensif menanam cabai merah yang kini siap panen saat harga cabai di pasaran melangit.

“Sejak setahun terakhir, terutama di masa pandemi yang berdampak berkurangnya kegiatan, saya iseng memanfaatkan waktu menanam cabai untuk penelitian. Pemanfaatan lahan itu, dalam jangka panjang juga untuk investasi masa depan,” katanya kepada VISI.NEWS, ketika berkunjung ke kebun hortikultura dengan beragam tanaman, kolam ikan dan ternak burung puyuh itu, Senin (5/3/2021).

Dr. Edi Triharyanto, memaparkan, lahan pertanian yang saat ini digunakan semacam laboratorium lapangan tersebut, terdiri dari 2 bagian, masing-masing seluas 3.000 meter persegi dan 700 meter persegi.

Di lahan yang seluas 3.000 meter persegi, terdapat sejumlah kolam dengan berbagai jenis ikan, di sekitarnya ada tanaman talas, tanaman buah, cabai, tanaman hias dan kandang ternak. Sedangkan di lahan seluas 700 meter persegi hanya ditanami cabai dan di sekelilingnya ditanami anggur.

Dalam konsep pertanian terpadu yang dicoba dosen FP-UNS di lahan yang tidak begitu luas, dengan budi daya ternak dan berbagai tanaman itu, katanya, terdapat simbiose mutualiatis di antara tanaman pertanian dan ternak sehingga dengan pola tersebut dia bisa menekan biaya pengelolaan, sekaligus terhindar dari ketergantungan.

Baca Juga :  KHOTBAH JUMAT: Sia-siakan Salat Akan Tersesat

“Di sekitar kolam ikan ditanami talas, itu digunakan untuk pakan ikan. Air kolam yang mengandung pupuk digunakan untuk mengairi tanaman sehingga biaya pemupukan relatif kecil. Begitu seterusnya,” jelasnya.

Menyinggung tanaman cabai di lahan seluas 700 meter persegi dengan buah lebat dan kini siap panen, menurut Edi Tri, sebenarnya awalnya dia hanya ingin memanfaatkan waktu saat tidak banyak kegiatan di masa pandemi. Di sisi lain, dia berpikir melakukan penelitian untuk menemukan cara bercocok tanam cabai dengan hasil panen berkualitas bagus, efektif, dan efisien.

“Cabai itu merupakan komoditas penyumbang inflasi, karena harganya sering melambung tinggi. Petani tidak mau tanam cabai kalau harga turun. Akibatnya, kalau pasokan sedikit harga jadi tinggi. Saya meneliti budi daya tanaman cabai ini, biar petani cabai juga mengembangkan budi daya secara efektif efisien dengan kualitas baik sehingga harga stabil,” sambungnya.

Di lahan 700 meter persegi itu, saat ini ditanami sebanyak 850 batang cabai merah keriting varietas TM-19 dengan keunggulan hasil buahnya lebat, tahan lama, pemeliharaannya relatif mudah, dan murah.

Dr. Edi memperkirakan, jika setiap batang menghasilkan 1 kilogram cabai merah dengan harga Rp 40.000,- per kilogram, dari lahan seluas 700 persegi itu bisa didapat hampir sekitar Rp 35 juta.

Sedangkan di sekeliling lahan tanaman cabai, diujicobakan tanaman anggur seluruhnya terdiri dari 8 varietas. Sistem budi daya tanaman anggur tersebut, menggunakan atap plastik transparan untuk melindungi tanaman saat berbuah.

Sistem tersebut merupakan pengembangan dari uji coba sebelumnya yang gagal karena setelah anggur berbuah membusuk akibat tertimpa hujan.

Dosen UNS yang masih tercatat sebagai anggota tim sertifikasi benih tanaman hortikultura Kementan itu, selain memanfaatkan lahan penelitiannya untuk pribadi, juga memfungsikan laboratorium lapangan itu untuk kepentingan mahasiswa FP-UNS.

Baca Juga :  Awali Strategi Pengembangan di Kawasan Asia Pasifik, Produk Cat Sherwin-Williams Industrial Wood Coatings Andalkan Inovasi Ramah Lingkungan

Selama ini, dari lahan sempit telah lahir sejumlah sarjana pertanian yang menggunakan laboratorium lapangan milik Dr. Edi sebagai tempat belajar, dengan semangat seperti yang disebut Mendikbud, Nadiem Makarim, “merdeka belajar”.

Dr. Edi Triharyanto berharap, keisengan yang dia lakukan selama masa pandemi ini, dapat menginspirasi bukan hanya kalangan kampus, tetapi para petani hortikultura, terutama yang membudidayakan tanaman cabai dapat secara konsisten menanam cabai secara efektif dan efisien agar harga cabai yang tinggi bisa dinikmati petani. @tok

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

PMBT Berharap Wacana Pembentukan CDOB KBT Masuk Program Kerja 99 Hari Bupati Bandung Terpilih

Rab Apr 7 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Warga wilayah Timur Kabupaten Bandung yang tergabung dalam Paguyuban Masyarakat Bandung Timur (PMBT) Kabupaten Bandung berharap wacana pembentukan calon daerah otonomi baru Kabupaten Bandung Timur (CDOB KBT) masuk pada program kerja 99 hari Bupati Bandung terpilih HM Dadang Supriatna. Selain itu, wacana pembentukan daerah otonomi baru KBT, […]