Dr. Anna Sungkar : Prof. Sapardi Mengenal Saya Selama 20 Tahun, Sehingga Saya ‘Lancar Jaya’ Menempuh S3

Editor Foto kenangan Dr. Anna Sungkar bersama Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono. /visi.news/ist
Silahkan bagikan

VISI.NEWS | JAKARTA – “Di hari yang berbahagia ini, kita semua akan mengenang peran dan jasa-jasa dua sesepuh kita, yaitu Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono dan Dr. Wagiono Sunarto. Keduanya merupakan guru kita semua dan terutama bagi saya sendiri, sangat berhutang budi kepada keduanya. Saya teringat Prof. Sapardi dengan sigap dan cekatan menuliskan rekomendasi agar saya dapat menempuh S3. Tidak tanggung-tanggung, Pak Sapardi menuliskan dalam formulir itu, bahwa beliau telah mengenal saya selama 20 tahun. Sehingga dengan rekomendasi tersebut, saya kemudian menjadi ‘lancar jaya’ untuk diterima menempuh pendidikan S3,” ujar kurator Dr. Anna Sungkar, M.Sn., saat mengawali sambutan pada pembukaan Pameran ‘Tribute to Masters Sapardi Djoko Damono dan Wagiono Sunarto’ di Galeri Seni Taman Ismail Marzuki (TIM) Jln. Cikini Raya No. 73, Jakarta Pusat, Kamis, 22 Juli 2022 pukul 19.00 WIB.

Kenangan Dr. Anna Sungkar bersama Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono. /visi.news/ist

Prof. Sapardi, kata Anna, salah satu pujangga Indonesia terkemuka, sastrawan besar sekaligus pengajar di Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Selain sebagai seorang penyair, almarhum adalah budayawan, pengamat sastra, kritikus sastra dan pakar sastra. Ia, kata Anna, kerap dipanggil dengan inisial namanya: SDD. SDD dikenal melalui berbagai puisinya mengenai hal-hal sederhana namun penuh makna kehidupan, sehingga beberapa di antaranya sangat populer, baik di kalangan sastrawan maupun khalayak umum. Dia sangat bangga diajar mata kuliah penulisan oleh Prof. Sapardi, hal itu sangat berbekas, sehingga dapat menulis dengan lancar sampai saat ini.

“Adapun kenangan saya kepada Dr. Wagiono Sunarto, adalah beliau menjadi pembimbing utama dalam penulisan tesis S2 saya di institut tercinta ini. Dalam proses bimbingan, beliau juga datang ke studio lukis saya untuk melihat dan mengamati bagaimana saya berproses dan berkarya untuk penyusunan tesis tersebut. Alhasil keduanya adalah guru-guru yang berjasa kepada saya secara pribadi, dan kepada institut – Dr. Wagiono Sunarto telah menjabat – sebagai Rektor Institut Kesenian Jakarta selama 2 periode pada 2009-2013 dan 2013-2016,” imbuh Anna.

Baca Juga :  Sandiaga Uno Dorong Mahasiswa Kembangkan Usaha Bidang Parekraf

Karenanya, pameran seni “Tribute to Masters”, yang ditujukan untuk Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono dan Dr. Wagiono Sunarto ini sangat penting dan perlu, karena dengan cara itulah kita mengenang jasa-jasa mereka, selain mengamalkan apa yang pernah dicanangkan dan diajarkan oleh keduanya. “Prof. Sapardi telah memberikan nama kepada angkatan S2 saya sebagai Angkatan “Pohon Pisang”. Seperti buah pisang, angkatan saya ini diharapkan berguna dan terus beranakpinak menyebarkan ilmu agar melahirkan generasi di bawahnya. Dari saking kagumnya, saya sendiri pernah melukis wajah Prof. Sapardi yang lukisannya masih saya simpan sampai sekarang. Mulanya saya ingin memberikan kepada beliau sebagai hadiah kelulusan saya, namun apa daya, Tuhan telah keburu memanggilnya pada dua tahun yang lalu. Saya sedih sekali,” papar ungkap perempuan gesit ini.

Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono dan Dr. Wagiono Sunarto, dimata Anna, merupakan dua orang peletak dasar-dasar modernisasi IKJ, sebagai penerus apa yang sudah ditanamkan oleh empat pelukis besar Jakarta: Nashar, Zaini, Oesman Effendi, dan Rusli. Keempat seniman itu dulunya ingin menjadikan IKJ (dahulu namanya LPKJ) sebagai sekolah untuk para seniman yang non gelar pada akhir tahun 1960an. Menurut mereka, seniman harus menyerahkan dirinya secara total, tanpa memperhatikan lagi hal-hal yang terkait dengan dunia kerja dan pergeseran zaman modern. Namun tahun 80an IKJ mulai merespon standar-standar Perguruan Tinggi yang dicanangkan dalam kebijaksanaan pemerintah tentang perguruan tinggi terpadu, yang terkait dengan dunia kerja dan industri. Sehingga IKJ kemudian terdaftar di Kopertis.

Waktu bergerak terus, di tahun 2009 Institut Kesenian Jakarta membentuk program studi baru yaitu : Penciptaan dan Pengkajian Seni Strata 2 (Pasca Sarjana). Salah satu tujuannya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, juga mengejar persyaratan yang ditentukan Dikti tentang dosen yang harus lulusan S2. Pada tahun 2009 dimulai kelas pertama Penciptaan dan Pengkajian Seni S2 di Institut Kesenian Jakarta, di bawah pimpinan Direktur Dr. Wagiono Sunarto, M.Sc. Program S2 yang kemudian menjadi Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta ini memilih “warna” atau karakteristik “Seni Urban dan Industri Budaya”, sesuai dengan Visi Misi Institut Kesenian Jakarta. Pada tanggal 8 Januari tahun 2009, melalui rapat senat, Dr. Wagiono Sunarto, MSc. secara aklamasi dipilih menjadi rektor selanjutnya, periode 2009-2013.@aep sa

Baca Juga :  Remy Sylado: "Tan Deseng Seniman Multitalenta"

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Banjir Dan Longsor Di Bogor, Kusnadi : Mulai Dari 3 Orang Meninggal Dan 2 RT Terisolir Akibat Jembatan Putus

Sab Jul 23 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS |BANDUNG – Bencana banjir bandang dan tanah longsor menimpa sejumlah wilayah di Kecamatan Pamijahan dan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, berbagai kerugian dirasakan warga, mulai dari rusaknya bangunan dan fasilitas umum, hewan ternak hanyut, hingga merenggut korban jiwa. Anggota DPRD Jawa Barat (Jabar) Haji Kusnadi mengatakan, bencana tersebut terjadi Rabu […]