VISI.NEWS | JAKARTA – Sore yang semula berjalan normal di kawasan Gunung Sahari, Sawah Besar, berubah mencekam ketika sebuah mobil melaju melawan arah sambil menabrak sejumlah kendaraan. Aksi pengemudi berinisial HM (25) itu disebut warga “seperti adegan film laga”, lengkap dengan kejar-kejaran, kaca pecah, hingga tembakan peringatan polisi.
Peristiwa terjadi Rabu (25/2/2026) sekitar pukul 17.20 WIB di ruas Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Menurut Ps Kasat Lantas Polres Metro Jakarta Pusat, Kompol Arry Utomo, insiden bermula saat kendaraan melaju dari arah utara menuju selatan dan hendak diberhentikan petugas di sekitar Halte Lapangan Banteng.
“Sesampainya di dekat Halte Lapangan Banteng, pada saat hendak diberhentikan oleh petugas, kendaraan tersebut tetap melaju dan terus berjalan ke arah selatan,” ujar Arry.
Bukannya menepi, mobil justru berbelok dan melawan arus di beberapa ruas jalan. Kendaraan itu sempat masuk ke Jalan Gunung Sahari IV, lalu bergerak ke Jalan Bungur Besar Raya, hingga kembali melawan arah di Jalan Gunung Sahari V ke arah timur. Mobil terus bergerak sampai ke sekitar Simpang MBAL dan Jalan DR Sutomoko sebelum akhirnya berputar arah lagi.
Aksi zig-zag itu membuat sejumlah pengendara motor terjatuh dan memicu amarah warga. Di sekitar Hotel Bintang Baru, mobil berusaha kembali ke arah utara. Namun upaya kabur itu berakhir saat kendaraan terjepit di antara mobil lain dan pembatas jalur busway.
Wawa (53), warga RT 10 RW 04 Kelurahan Pasar Baru, yang menyaksikan langsung kejadian itu, menggambarkan situasi sebagai sangat kacau. Ia melihat mobil hitam tersebut maju-mundur mencari celah di tengah kepungan kendaraan dan massa.
“Dia nyari sela. Tabrak mobil ini, mundur. Tabrak mobil ini yang ke kiri, mundur. Nah udah satu lagi mobil Avanza, dia udah nggak bisa ke mana-mana, dia langsung kena kejepit,” kata Wawa saat ditemui di lokasi, Kamis (26/2/2026).
Menurutnya, posisi mobil sudah tak memungkinkan untuk bergerak. “Ke kanannya kejepit mobil Avanza, ke kirinya kena kejepit sama busway, patok busway itu yang item-item itu. Nah di situ udah langsung banyak orang-orang yang udah pada mukulin,” ujarnya.
Di tengah situasi ricuh itu, Wawa justru melihat hal yang tak biasa dari pengemudi. Ia menyebut HM tetap duduk di kursi kemudi tanpa perlawanan berarti.
“Masih tetap di kemudinya. Nggak ada dia perlawanan. Ngomong bicara pun sekali sama orang apa, nyebut apa-apa nggak. Jadi dia kayak orang gimana ya, kayak orang kesima ya, bengong, syok gitu ya,” tuturnya.
Wawa juga memperhatikan tiga penumpang di dalam mobil tersebut. Ia mengaku heran melihat salah satu penumpang perempuan di kursi depan terlihat santai di tengah kepanikan.
“Yang saya aneh, yang perempuannya nggak ada rasa kayak takut atau apa, yang perempuan santai, main HP. Di mobil polisi main HP. Ini orang kayaknya santai amat ya, gitu loh. Nggak ada syok apa gitu, kelihatan santai,” katanya.
Sementara itu, Frangky (58), warga lain yang berada tak jauh dari lokasi, mengaku awalnya hanya mendengar suara tembakan peringatan. Ia sedang bersantai di pos dekat Kali Ciliwung ketika keramaian mendadak pecah.
“Nah, tiba-tiba ada keramaian, terus ada tembakan polisi buang tembakan. Wah, ini ada apaan nih? Kita pada lari ke sana gitu,” ujarnya.
Setibanya di lokasi, Frangky melihat massa sudah melempari dan memukul mobil tersebut. Ia memilih membantu menenangkan warga agar tidak terjadi aksi main hakim sendiri.
“Posisinya sudah terjepit seperti itu, ya sementara kan itu massa udah banyak. Ya pokoknya antusias saya sebagai warga intinya jangan sampai ada korban jiwa, apalagi kekerasan. Intinya melindungi juga gitu, melindungi, jangan sampai diamuk massa,” jelasnya.
Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Reynold EP Hutagalung, memastikan HM telah ditetapkan sebagai tersangka.
“Sudah (jadi tersangka),” katanya saat dikonfirmasi, Kamis (26/2/2026).
Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Kombes Komaruddin, menyatakan tersangka dijerat Pasal 311 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), terkait tindakan membahayakan pengguna jalan lain.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras tentang risiko berkendara ugal-ugalan di tengah padatnya lalu lintas ibu kota. Di jam sibuk yang seharusnya menjadi rutinitas pulang kerja, satu keputusan nekat nyaris berujung korban jiwa—dan kini harus dipertanggungjawabkan secara hukum. @kanaya