VISI.NEWS | BANDUNG – Ketegangan geopolitik di kawasan Kaukasus kembali memanas setelah Azerbaijan menuduh Iran meluncurkan sejumlah drone ke wilayahnya. Insiden ini bukan hanya memicu kemarahan keras dari Baku, tetapi juga memperlihatkan bagaimana konflik yang lebih luas di Timur Tengah mulai merembet ke wilayah lain yang selama ini relatif stabil.
Pemerintah Azerbaijan mengumumkan penarikan staf diplomatiknya dari Iran setelah empat drone dilaporkan melintasi perbatasan dan memasuki wilayah eksklave Nakhchivan. Wilayah tersebut merupakan daerah terpisah milik Azerbaijan yang berbatasan langsung dengan Iran, Turki, dan Armenia, sehingga sangat rentan ketika konflik regional meningkat.
Menurut laporan otoritas Azerbaijan, salah satu drone menghantam terminal bandara di wilayah tersebut. Drone lain meledak di dekat sebuah sekolah, menyebabkan beberapa warga sipil mengalami luka-luka. Sementara itu, satu drone berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan Azerbaijan sebelum mencapai targetnya.
Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev, langsung mengecam keras insiden tersebut dan menuntut penjelasan resmi dari Teheran. Dalam pernyataan publiknya, Aliyev menyebut serangan tersebut sebagai tindakan yang tidak dapat diterima terhadap kedaulatan negaranya.
“Ini adalah tindakan teror yang menargetkan wilayah kami. Kami menuntut penjelasan yang jelas serta permintaan maaf dari Iran,” ujar Aliyev dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah Azerbaijan.
Kemarahannya bahkan semakin meningkat sehari kemudian ketika ia mengumumkan bahwa staf kedutaan Azerbaijan di Teheran dan konsulat di kota Tabriz akan ditarik untuk alasan keamanan. Selain itu, militer Azerbaijan dilaporkan telah ditempatkan pada tingkat kesiapsiagaan tempur maksimum.
Namun eskalasi ketegangan tidak berhenti pada isu keamanan semata. Aliyev juga menyinggung persoalan sensitif yang selama ini jarang disuarakan secara terbuka oleh pemerintah Azerbaijan, yakni nasib etnis Azeri yang tinggal di Iran.
Iran diketahui memiliki sekitar 20 hingga 25 juta warga keturunan Azeri, menjadikannya kelompok minoritas terbesar di negara tersebut. Mereka terutama tinggal di wilayah barat laut Iran yang berbatasan langsung dengan Azerbaijan.
Dalam pidatonya, Aliyev menyatakan bahwa Azerbaijan yang merdeka dapat menjadi harapan bagi masyarakat Azeri yang tinggal di Iran.
“Republik Azerbaijan yang merdeka adalah tempat harapan bagi orang-orang Azeri yang hidup di Iran,” kata Aliyev.
Pernyataan itu dianggap sangat sensitif oleh Teheran karena pemerintah Iran selama ini memandang isu identitas etnis sebagai potensi ancaman terhadap stabilitas nasional. Pemerintah Iran secara konsisten menolak gagasan bahwa identitas Azeri dapat melampaui batas negara.
Sementara itu, Iran dengan tegas membantah terlibat dalam serangan drone tersebut. Pejabat Iran bahkan menyebut kemungkinan bahwa serangan tersebut merupakan operasi “false flag” yang dirancang untuk memicu konflik baru di kawasan.
Seorang pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada media lokal bahwa negaranya “tidak memiliki alasan untuk menyerang Azerbaijan” dan menegaskan bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar.
Ketegangan antara kedua negara sebenarnya bukan hal baru. Hubungan Iran dan Azerbaijan telah lama diwarnai kecurigaan politik, terutama setelah kemenangan militer Azerbaijan dalam perang Karabakh tahun 2020 dan 2023 yang didukung oleh senjata buatan Turki dan Israel.
Kedekatan Azerbaijan dengan Israel menjadi salah satu sumber kekhawatiran utama bagi Teheran. Iran kerap menuduh Azerbaijan membantu operasi intelijen Israel di wilayah dekat perbatasannya, tuduhan yang selalu dibantah oleh Baku.
Selain faktor keamanan, kepentingan energi juga memperumit situasi. Azerbaijan merupakan pemasok minyak penting bagi pasar global melalui jaringan pipa sepanjang lebih dari 1.700 kilometer yang menghubungkan Laut Kaspia dengan pesisir Mediterania Turki melalui Georgia. Jalur ini memasok lebih dari satu juta barel minyak per hari ke pasar internasional, termasuk sebagian untuk Israel dan negara-negara Eropa.
Karena jalur tersebut melewati wilayah yang sensitif secara geopolitik, setiap eskalasi konflik di kawasan berpotensi mengguncang pasar energi global.
Meski demikian, baik Iran maupun Azerbaijan menyatakan tidak ingin konflik berkembang menjadi konfrontasi militer terbuka. Aliyev menegaskan bahwa negaranya tidak akan terlibat dalam operasi militer terhadap Iran.
“Kami tidak berniat berpartisipasi dalam operasi militer melawan Iran,” tegas Aliyev.
Namun retorika terbaru dari Baku mengenai nasib warga Azeri di Iran membuka dimensi baru dalam hubungan kedua negara yang sudah rapuh. Banyak analis menilai langkah tersebut sebagai sinyal politik bahwa Azerbaijan siap menekan Iran bukan hanya di arena diplomasi, tetapi juga melalui isu domestik yang sensitif bagi Teheran.
Di tengah situasi regional yang semakin tidak stabil, insiden drone di Nakhchivan kini menjadi titik baru ketegangan yang dapat mempengaruhi keseimbangan geopolitik di kawasan Kaukasus dan Timur Tengah. @kanaya