Dua Skenario Disdik Kota Bandung Hadapi Tahun Ajaran Baru

Editor :
Kepala Seksi Kurikulum SMP Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung, Bambang Ariyanto ditemui usai menjadi narasumber pada acara Bandung Menjawab dengan topik 'Tahun Ajaran Baru di Kota Bandung', di Auditorium Rosada, Balai Kota Bandung, Selasa (14 /7)./dok humas pemkot bandung/via prfmnews.

Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Dinas Pendidikan Kota Bandung telah mempersiapkan dua skenario jika suatu saat Kota Bandung berstatus zona hijau, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) kembali memberlakukan pembelajaran tatap muka.

Kendati begitu, Kepala Sesi Kurikulum SMP Disdik Kota Bandung, Bambang Ariyanto mengatakan, tidak menutup kemungkinan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) tetap berlaku.

“Disdik sudah menyiapkan dua skenario ketika sekolah belum diperbolehkan tatap muka dan ketika sekolah diperbolehkan tatap muka, meskipun nanti katakan sekolah diperbolehkan tatap muka, kemungkinan PJJ tetap berjalan,”kata Bambang, di Balaikota Bandung, Selasa (14/7), seperti dilasir prfmnews.

Skenario pertama, ketika PJJ diberlakukan maka besar kemungkinan dukungan teknologi harus mumpuni. Di dalamnya, terdapat siswa yang telah memiliki fasilitas pendukung seperti laptop dan gadget.

“Skenario A, fasilitas sudah mendukung, kita cukup memikirkan dukungan jaringan, dan dana BOS sudah bisa digunakan untuk itu, sedangkan skenario B bagi anak yang fasilitasnya tidak mendukung, katakan ekonominya ke bawah, dipinjamkan laptop oleh sekolah,” jelasnya.

Selain itu, pihakya juga telah mengavaluasi proses KBM selama PJJ tahun ajaran 2019/2020, tahun lalu. Dari evaluasi itu, dikatakan Bambang, Disdik harus memperkuat tiga fokus utama yakni meningkatkan infrastruktur pendidikan, manajemen guru dengan siswa dan orang tua dan konten bahan ajaran saat memasuki PJJ di tahun ajaran baru 2020/2021, tahun ini.

“Tiga hal ini cukup menentukan terakses manajemen antara guru dengan siswa dan orangtua, dan kita pikirkan juga konten ajaran nanti, karena tidak memungkinkan juga mata pelajaran disampaikan seluruhnya seperti waktu normal, sekarang yang ideal sesuai dengan struktur kurikulum,”paparnya.

Bambang mencontohkan, ketika kurikulum menargetkan tiap kompetensi dasar semua harus disampaikan, maka dalam PJJ, target yang diharuskan oleh kurikulum tidak memungkinkan disampaikan semua.

“Kalau kita dulu mengenalnya BAB per BAB, ada BAB I dan seterusnya, kalau sekarang namanya kompetensi dasar, katakan kita tidak bisa menyampaikan materi misalkan dari materi 1 sampai 10, nah guru cukup memilih materi esensial saja, cukup yang penting saja disampaikan kepada siswa,” jelasnya.

Baca Juga :  Joe Biden Dilantik Jadi Presiden AS ke-46 Pakai Alkitab Berusia Ratusan Tahun

Mengenai standar penilaian atau asesment, Bambang meyakinkan semua siswa tidak perlu khawatir, selama materi yang dari mata pelajaran adaptif kepada siswa/i, semisal anak mengerjakan tugas dengan luring atau daring di mana kesempatan menyontek cukup besar, tetapi menurutnya, hal itu tidak dipermasalahkan, selama siswa/i tersebut membaca.

“Misalkan, katakan ini anak dari warga tidak mampu, dimana ayahnya harian lepas, mohon maaf, yah, anak sama keluarga itu bisa menerapkan pelajaran IPA misalnya tentang cocok tanam, menanam di halaman rumah itu sudah bisa menjadi penilain, kurikulum bisa disesuaikan apalagi Kurikulum 13 (K13) yang dinilai tidak hanya kompetensi dasar tapi juga keterampilan dan keaktifan sosial,” pungkas Bambang. (fen)

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

2.000 Kasus Stunting Turun di Kabupaten Bandung

Sel Jul 14 , 2020
Silahkan bagikan Sekda, ‘Penanganan stunting di Kabupaten Bandung harus dilakukan secara multi sektor’ VISI.NEWS – Berdasarkan Bulan Penimbamgan Balita (PBP) Tahun 2018 dan 2019, angka kasus stunting di Kabupaten Bandung turun hingga 2.000 kasus. Meskipun mengalami penurunan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung terus berupaya menekan prevalensi stunting, salah – satunya dengan […]