DUNIA ISLAM: Dari Pelajar hingga Aktris Muslimah Boikot Produk Buatan Prancis (1)

Editor Dari pelajar hingga aktris muslimah boikot produk buatan Prancis./tangkapan layar/via bbcnews/ist.
Silahkan bagikan

– “Kami sudah bosan banyak orang mengolok-olok agama kami.”

VISI.NEWS – Mulai Turki hingga Bangladesh serta dari Yordania hingga Malaysia, rangkaian demonstrasi besar menyerukan agar umat Muslim memboikot produk Prancis.

Sejumlah supermarket telah mengosongkan semua rak yang biasanya terisi produk-produk berlabel ‘Made in France’ atau ‘Buatan Prancis’.

Tagar seperti BoycottFrenchProducts tercatat dicuitkan lebih dari 100.000 kali dan menjadi topik yang sedang tren di media sosial selama sepekan terakhir.

Reaksi tersebut merupakan respons dari komentar Presiden Prancis, Emmanuel Macron, setelah pemenggalan terhadap seorang guru Prancis yang menunjukkan karikatur Nabi Muhammad kepada murid-muridnya di kelas, sebagai bagian dari pelajaran mengenai kebebasan berekspresi.

Macron merujuk pada kartun bergambar Nabi Muhammad yang diterbitkan oleh majalah satire Charlie Hebdo pada 2006, yang memicu kemarahan umat Muslim di seluruh dunia. Mereka menganggap penggambaran Nabi Muhammad sebagai serangan terhadap agama mereka.

Presiden Macron selama ini dipuji karena membela sekularisme dan kebebasan berekspresi di negaranya sendiri. Namun ketegangan semakin memuncak setelah pembunuhan tiga orang pada Kamis (29/10/2020) di sebuah gereja di kota Nice dalam peristiwa yang disebut Presiden Macron sebagai “serangan teroris Islam”.

Tetapi Macron telah menjadi sosok yang dibenci di negara-negara mayoritas Muslim seperti Bangladesh. Pada Rabu (28/10/2020), puluhan ribu orang turun ke jalan untuk menyerukan boikot barang-barang buatan Prancis.

BBC berbicara kepada tiga orang yang mengatakan bahwa hal ini membuat mereka memutuskan untuk tidak lagi membeli produk Prancis:

1. Mishi Khan – Aktris – Islamabad, Pakistan

Saya biasa menggunakan kosmetik Prancis, seperti L’Oreal, yang banyak dijual di sini, di Pakistan. Saya sekarang membaca semuanya mulai dari label pada makanan hingga barang-barang mewah, memastikan tidak ada tulisan ‘Buatan Prancis’.

Baca Juga :  aT Center dan Sheraton Grand Jakarta Undang Koki Regional dan Manajer Hotel Terkemuka untuk Nikmati Hidangan Seafood Khas Korea

Saya mengganti produk Prancis saya dengan produk Pakistan.

Mengapa? Karena presiden suatu negara tidak bisa begitu saja memutuskan untuk menghina seluruh penduduk Muslim.

Saya telah mendesak semua orang di platform media sosial saya untuk memboikot produk Prancis. Hati nurani saya jernih karena saya melakukan sesuatu untuk membela Islam.

Kami sudah bosan banyak orang mengolok-olok agama kami dan Nabi kami. Sudah cukup. Kami terus memaafkan orang-orang yang menghina Islam tapi sekarang kami mengambil tindakan.

Saya merasa Macron mencoba dengan sengaja menyakiti kita. Ini seperti mencubit seseorang lalu bertanya kepada mereka: “Hei, apakah kamu merasakan sakitnya?”

Saya pikir ini adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar – Saya rasa dia menciptakan kebencian, dia memprovokasi dan memecah belah orang-orang.

Pernyataannya bisa mengobarkan Islamofobia. Apa yang dikatakan presiden suatu negara memengaruhi rakyatnya. Dia seharusnya menyatukan semua warga negaranya dan menghormati mereka semua dengan setara.

Ketika saya pertama kali melihat kartun Charlie Hebdo, saya tidak bisa berkata-kata. Saya menghindari melihatnya untuk waktu yang sangat lama, tetapi ketika saya melihatnya, saya terkejut. Saya menangis. Saya bertanya kepada Tuhan, “Mengapa saya melihat sesuatu seperti ini?” (bersambung)/@fen/sumber: bbcnews

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Pihak Berwenang Saudi Sambut Jemaah Umrah Pertama dari Indonesia dan Pakistan

Ming Nov 1 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi serta perwakilan dari pihak berwenang, pada Minggu (1/11/2020) menerima gelombang umrah pertama untuk musim pandemi ini yang datang dari Indonesia dan Pakistan. Hadir pula Menteri Haji dan Umrah Dr. Mohammed Saleh Bin Taher Benten, Wakilnya Dr. Abdulfattah Bin Sulaiman Mashat dan […]