VISI.NEWS | BANDUNG — Dunia kini memasuki era baru tanpa batasan formal terhadap persenjataan nuklir strategis terbesar di dunia setelah Perjanjian New START antara Amerika Serikat dan Rusia resmi berakhir pada 5 Februari 2026. Langkah ini memicu peringatan dari pemimpin global bahwa risiko perlombaan senjata nuklir kembali meningkat di tengah ketidakpastian keamanan internasional.
Perjanjian New START, yang pertama kali ditandatangani pada 2010, telah menjadi pilar utama pengendalian senjata nuklir global selama lebih dari satu dekade. Kesepakatan itu membatasi jumlah hulu ledak strategis dan sistem peluncur yang dimiliki kedua negara, serta memungkinkan inspeksi silang di fasilitas milik masing-masing pihak. Namun, mekanisme ini terhenti sejak pandemi Covid-19 dan belum pernah dilanjutkan.
“Saya khawatir karena kita sekarang menghadapi dunia tanpa batasan strategis antara dua kekuatan nuklir terbesar,” ujar Antonio Guterres, Sekretaris Jenderal PBB, dalam konferensi pers di markas besar PBB.
“Ini adalah momen genting bagi perdamaian dan keamanan internasional,” tambahnya.
Guterres menegaskan bahwa New START dan perjanjian pengendalian senjata sebelumnya telah “meningkatkan keamanan semua bangsa secara drastis.”
Ia mendesak kedua pihak untuk kembali ke meja perundingan untuk mencapai kerangka kerja pengganti yang dapat meredam ketegangan strategis.
Sementara itu, Rusia menegaskan akan bertindak secara bertanggung jawab meskipun tidak lagi terikat oleh perjanjian tersebut. Kremlin menyebut bahwa Presiden Vladimir Putin berkomitmen pada pendekatan yang “terukur dan bertanggung jawab” dalam menghadapi situasi baru ini.
“Dalam situasi ini, kami akan bertindak secara terukur dan bertanggung jawab,” kata Yury Ushakov, penasihat Kremlin, mengutip percakapan telepon Putin dengan Presiden China, Xi Jinping.
Rusia sendiri sempat menawarkan perpanjangan satu tahun untuk New START pada September tahun lalu, dan Presiden AS saat itu menyebut tawaran itu “terdengar seperti ide yang bagus.” Namun hingga kini tidak ada jawaban resmi dari Washington soal perpanjangan tersebut.
Kementerian Luar Negeri Rusia menegaskan bahwa setelah berakhirnya perjanjian, kedua belah pihak “tidak lagi terikat oleh kewajiban atau deklarasi simetris apa pun”, sekaligus menyatakan tetap terbuka untuk dialog yang dapat memastikan stabilitas strategis.
Perjanjian New START juga mengatur jumlah rudal balistik antarbenua (ICBM), rudal balistik berbasis kapal selam, serta hulu ledak nuklir yang dapat dimiliki kedua negara. Kesepakatan ini merupakan pengurangan signifikan dari batas yang sebelumnya ditetapkan pada 2002.
Dengan berakhirnya perjanjian ini, lebih dari 80 persen hulu ledak nuklir dunia kini tidak lagi berada di bawah kerangka pembatasan yang efektif. Para pengamat dan aktivis damai memperingatkan bahwa tanpa batasan formal, risiko perlombaan senjata dan ketidakstabilan global dapat meningkat.
Guterres mengingatkan bahwa dunia membutuhkan gagasan baru untuk menahan eskalasi nuklir, dan meminta AS serta Rusia “untuk segera kembali ke meja perundingan dan menyepakati kerangka kerja pengganti.”
Namun di tengah ketegangan geopolitik yang membayangi, jalan menuju kesepakatan baru diprediksi akan penuh tantangan. @kanaya