Search
Close this search box.

Endang Berlin, Penjaga Irama dan Ruh Kendang Wayang Golek Wafat

Endang Berlin atau Babeh Belin saat menunjukkan kepiawaian main kendangnya. /visi.news/yt/tangkapan layar

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Dunia pedalangan Jawa Barat kembali berduka. Endang Rachmat, yang lebih dikenal sebagai Endang Berlin atau Babeh Berlin, penabuh kendang Wayang Golek yang setia menjaga denyut irama Giriharja 3 dan Giriharja 3 Putra, berpulang ke rahmatullah pada Sabtu, 31 Januari 2026. Kepergiannya menandai berakhirnya satu fase penting dalam sejarah kendangan Wayang Golek—fase estafet kreativitas dari maestro ke murid yang dijalani dengan penuh dedikasi. Innalillahi wainnailaihi rojiun.

Endang Berlin bukan sekadar penerus, melainkan penjaga ruh kendangan gaya Ugan Rahayu. Dalam perjalanan seni Wayang Golek modern, nama Ugan Rahayu dikenal sebagai sosok yang melakukan revolusi besar dalam tepak kendang. Kendangan ciptaannya menghadirkan suasana yang lebih hidup, hégar, dan dinamis dibandingkan pola kendang sebelumnya yang cenderung repetitif dan datar.

Ugan Rahayu mengganti sistem tuning kendang lama dengan kendang jaipongan, memainkan tempo yang lebih cepat, serta berani mengisi bagian kakawén—yang sebelumnya kerap dibiarkan tanpa kendang—dengan pola ritmis yang padat. Langkah ini lahir dari kegelisahan terhadap pementasan Wayang Golek yang dinilai monoton dan sering menimbulkan suasana mengantuk, terutama pada pertunjukan dini hari hingga pagi.

Dalam konteks inilah Endang Berlin hadir sebagai murid sekaligus pewaris estafet. Sejak 1999, ketika kondisi kesehatan Ugan Rahayu mulai menurun, Endang Berlin dipercaya menggantikan peran sang maestro dalam pementasan Wayang Golek Giriharja. Kepercayaan tersebut tidak hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga soal pemahaman rasa, timing, dan fungsi kendang dalam membangun dramatika wayang.

Kendangan gaya Endang Berlin tetap berakar kuat pada pola Ugan Rahayu, namun disajikan dengan ketekunan dan konsistensi yang khas. Dalam praktik penyajiannya, tepak kendang gaya Endang Berlin diaplikasikan sesuai fungsi utama kendang Wayang Golek, yakni mengiringi gerak wayang, mengiringi lagu pada sejak kiliningan, serta memberi aksentuasi gerak yang bersifat insidental. Kendang menjadi pengikat antara visual, vokal, dan dramatika pertunjukan.

Baca Juga :  Gol Telat di Goodison Park Gagalkan Leeds Menjauh dari Zona Degradasi

Gagasan tersebut kemudian dirumuskan secara konseptual dalam sajian bertajuk “Kendang Ngawirahma Wayang (Penyajian Kendang Wayang Golek)”. Judul ini tidak sekadar penamaan, tetapi cerminan pemahaman filosofis terhadap peran kendang dalam karawitan fungsional. Kendang diposisikan sebagai instrumen yang mengisi irama dan kebutuhan gerak wayang, bukan berdiri sendiri sebagai pertunjukan teknik semata.

Secara makna, istilah Ngawirahma dalam kosakata Sunda berarti memberikan irama. Dengan demikian, Kendang Ngawirahma Wayang dimaknai sebagai kendang yang menghidupkan irama, mengarahkan emosi, dan mempertegas dramaturgi wayang, dengan fokus pada pola tepak kendang Wayang Golek gaya Endang Berlin yang berakar dari inovasi Ugan Rahayu.

Dalam penyajiannya, kendang Wayang Golek tidak hanya menuntut keterampilan teknis dan pemahaman pola, tetapi juga kepekaan artistik serta keberanian menghadirkan ide-ide baru. Endang Berlin dikenal mampu menjaga keseimbangan antara pakem dan kreativitas, menjadikan kendang tetap fungsional namun tidak kehilangan daya hidupnya.

Proses latihan dan penyajian tentu tidak lepas dari berbagai hambatan. Kesulitan menghafal pola tepak kendang yang kompleks, keterbatasan jadwal bimbingan latihan gabungan, keluasan materi yang harus dikuasai, hingga tantangan menjaga keselarasan antarbagian gending serta transisi lagu, menjadi dinamika yang harus dihadapi. Namun semua itu justru membentuk ketangguhan artistik dan kedewasaan musikal.

Penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi dan wawancara menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara pola kendang Ugan Rahayu—yang diteruskan Endang Berlin—dengan pola kendang klasik sebelumnya. Kendangan ini terbukti mampu membangkitkan semangat pertunjukan Wayang Golek dan menghidupkan kembali minat penonton.

Meski demikian, penelitian tersebut juga mencatat dampak negatif yang patut menjadi perhatian. Banyak pemain kendang muda lebih tertarik mempelajari pola kendang modern, sementara pola kendang klasik semakin jarang dipelajari, sehingga dikhawatirkan perlahan menghilang dari praktik Wayang Golek. Tantangan generasi kini adalah menjaga keberlanjutan tradisi tanpa mematikan kreativitas.

Baca Juga :  Kecelakaan Beruntun di Tol Cisumdawu, Tiga Orang Tewas

Kepergian Endang Berlin menjadi pengingat bahwa Wayang Golek hidup dari rantai pengetahuan, keteladanan, dan kesetiaan pada proses. Ia adalah figur transisi yang penting—penjaga warisan sekaligus penghubung antara generasi maestro dan generasi penerus.

Kini, Endang Rachmat (Endang Berlin) telah berpulang. Namun irama kendang pria kelahiran 1967 itu tetap menggema dalam setiap gerak wayang, dalam setiap aksentuasi dramatik yang pernah ia iringi. Semoga seluruh pengabdiannya pada seni menjadi amal ibadah, menjadi cahaya di alam keabadian, dan mengantarkannya menuju husnul khotimah. Al-Fatihah.

@uli

Baca Berita Menarik Lainnya :