Exco PSSI Tak Mau Paksakan Liga 1 di Tengah Pandemi Covid-19

Liga 1 2020 terhenti pada pekan ketiga lantaran pandemi Covid-19./antara/bayu pratama s.
Jangan Lupa Bagikan

VISI.NEWS – Anggota Exco PSSI, Yoyok Sukawi, meminta Liga 1 2020 tidak dilanjutkan jika pandemi Covid-19 belum berakhir.

Yoyok menyebut PSSI tengah mengkaji nasib kompetisi Liga 1 2020 di tengah masa pandemi secara hati-hati. Salah satunya dengan meminta saran dan masukan dari seluruh pemangku kepentingan sepak bola Indonesia, mulai pemain, pelatih, klub, pihak kepolisian sebagai pemegang izin keamanan sampai ke kepala daerah serta Menteri Pemuda dan Olahraga.

“PSSI ingin mempersiapkan sejak dini segala macam opsi yang akan disampaikan kepada masyarakat supaya tidak simpang siur. Kalau menurut kami sebenarnya kalau covid belum tuntas, liga jangan dipaksakan. Sepak bola itu beda dengan olahraga lain. Banyak faktornya,” kata Yoyok, Selasa (26/5), seperti dilansir CNNIndonesia.com.

Yoyok pun menguraikan masalah protokol pengecekan kesehatan pemain yang bisa menguras kantong. Dengan asumsi biaya tes termurah sekitar Rp 350 ribu per orang, maka dipastikan sebuah tim akan mengeluarkan biaya besar untuk bertanding.

“Belum lagi APD (alat pelindung diri) yang harus disiapkan, ambulans, dan lainnya. Siapa yang mau bayar? Ini baru soal protokol kesehatan buat tim, belum yang lainnya. Makanya, sebenarnya bakal lebih aman kalau covid tuntas dulu, lah,” ujarnya.

Bagi Yoyok, pilihan mengadakan turnamen guna menjaga iklim sepak bola Indonesia masih bisa diterima dibanding memaksakan kompetisi berjalan di tengah wabah.

Merujuk dari fase-fase pemulihan ekonomi yang telah ditetapkan Presiden Joko Widodo, sampai Juli masih terdapat pembatasan kegiatan di luar ruangan.

“Sebenarnya kami ada opsi liga setop dulu di 2020. Sambil menunggu ini selesai, kami adakan turnamen. Karena untuk turnamen persiapan klub dan euforianya beda. Turnamen jika tanpa penonton, klub masih oke karena tujuannya hanya ikut meramaikan. Intensitas pertandingan tidak tinggi dan banyak.”

“Tapi kalau kompetisi tanpa penonton, klub yang habis karena kompetisi klub pakai kekuatan 100 persen. Efek turnamen juga tidak terlalu besar ke bisnis sebab tidak ada promosi dan degradasi tim. Kalau tim didegradasi, bisnis klub hancur,” jelas Yoyok.

Mengenai kompetisi di negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand yang direncanakan bakal berlangsung lagi, Yoyok tak mau sekadar ikut-ikutan karena korban virus corona di Indonesia disebutnya masih tinggi dibanding negara lain. @fen

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Kapolsek Elak Sopiri Mobil yang Tewaskan Balita dan Neneknya

Sel Mei 26 , 2020
Jangan Lupa BagikanVISI.NEWS – Keluarga korban menyebut Kapolsek di Rembang, Iptu S sempat mengelak menyopiri mobil yang menabrak rumah serta menewaskan balita dan neneknya. Kapolres Rembang AKBP Dolly A Primanto menyebut anak buahnya itu dalam kondisi kaget. “Maklum, kondisi setengah sadar dan kaget. Namun sudah saya sampaikan, yang bersangkutan hanya sendiri dan berpakaian […]