VISI.NEWS – Direktur Penyelenggara bimbingan teknis (Bimtek) untuk anggota legislatif dan eksekutif Buana Semesta Jakarta Fahladi Tsaqaufi memandang kans pasangan Dadang Supriatna dan Syahrul Gunawan untuk memenangkan Pilkada Serentak di Kabupaten Bandung sangat besar.
“Saya melihat sedikitnya ada dua modal besar yang dimiliki pasangan Dadang Supriatna dan Sahrul Gunawan ini. Pertama, popularitas pasangan ini melebihi pasangan Yena dan Atep, dan kedua, Dadang Supriatna mendapat empati karena kesan ‘orang teraniaya’,” ungkapnya kepada VISI.NEWS, Kamis (27/8/2020).
Kelebihan tersebut, kata Fahladi, lebih dikuatkan lagi dengan merapatnya pasangan ‘Bedas’ ini ke embahnya politik empati Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), melalui Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). “Dukungan dari Partai Demokrat bukan hanya politik semata, namun bisa sampai dukungan teknis untuk lebih meraih empati dari publik Kabupaten Bandung,” ujar Fahladi.
Ia menilai, pertarungan Kang DS dengan petahana kalau bisa dikemas jadi ‘si lemah’ lawan ‘si kuat’ apalagi terkesan melawan bakal lebih memperoleh empati yang luas. “Dan disengaja atau tidak Kang DS memposisikan dirinya dalam setiap komunikasi dengan masyarakat sudah sangat tepat. Cara Kang DS berkomunikasi bisa menimbulkan social emphaty, terkesan figur teraniaya. Bisa menimbulkan solidaritas sosial untuk menolongnya,” ungkap Fahladi.
Politik Empati
Secara sederhana, kata Fahladi, empati adalah kemampuan menempatkan diri pada situasi dan kondisi orang lain. Teori yang diperkenalkan K. Berlo nama influence theory of emphaty atau teori penurunan dari penempatan diri kedalam diri orang lain. “Artinya, komunikator mengandaikan diri, bagaimana kalau ia berada pada posisi komunikan. Dalam hal ini individu memiliki pribadi khayal sehingga individu-individu yang berinteraksi dapat menemukan dan mengidentifikasi persamaan-persamaan dan perbedaan masing-masing, yang kemudian menjadi dasar dalam mmelakukan penyesuaian,” jelasnya.
Dalam komunikasi politik, kata Fahladi, kemampuan memproyeksikan diri sendiri ke dalam titik pandang dan empati orang lain memberi peluang kepada seorang politikus untuk berhasil dalam pembicaraan politiknya. “Akan tetapi, menempatkan diri sendiri sebagai orang lain itu memang sangat tidak mudah. Justru itu, empati dapat ditingkatkan atau dikembangkan oleh seorang politikus melalui komunikasi social dan komunikasi politik yang sering dilakukan,” tandasnya.
Politik empati dalam komunikasi politik, katanya, bersifat sangat dekat dengan citra seseorang politikus tentang diri dan tentang orang lain. Itulah sebabnya empati dapat dinegosiasikan atau dimantapkan melalui komunikasi antarpersona.
Empati, kata Fahladi, tidak hanya sekedar ada dan berfungsi untuk bisa memahami emosi orang lain, karena bisa membangun relasi sosial dengan orang lain. “Dengan memahami dan mengerti pemikiran serta perasaan orang lain, orang bisa berinteraksi dan meresponi orang lain secara tepat,” ujarnya.
Perasaan empati yang dikemas dengan baik, kata Fahladi lebih lanjut, juga bisa memunculkan perilaku tolong-menolong. “Ketika rasa empati terhadap Kang DS ini bisa terus bergulir akan lebih mungkin untuk bisa melakukan perilaku prososial berupa keinginan untuk menolong Kang DS,” katanya.@mpa