VISI.NEWS | BANDUNG – Susu kental manis (SKM) sering kali memunculkan pertanyaan di masyarakat apakah produk ini benar-benar susu? Produk ini dihasilkan melalui proses penguapan sebagian besar air dari susu segar, kemudian ditambahkan gula untuk memberikan rasa manis dan menjaga daya tahannya. Dengan tekstur kental yang khas, SKM banyak digunakan sebagai pelengkap menu sarapan atau bahan campuran minuman.
Sejarah Susu Kental Manis
SKM diciptakan karena kebutuhan manusia untuk mengawetkan susu segar yang mudah basi, terutama sebelum adanya teknologi pendingin. Pada awalnya, Nicholas Appert dari Prancis mengawetkan susu dalam botol pada tahun 1820. Inovasi serupa dilakukan Gail Borden Jr., yang menciptakan metode mengentalkan susu menggunakan penguapan bertekanan rendah pada tahun 1853, terinspirasi oleh pengalaman kehilangan anak-anaknya akibat mengonsumsi susu basi.
Temuan ini menjadi revolusi besar dalam industri susu, terutama ketika SKM digunakan sebagai pasokan makanan tentara selama Perang Saudara Amerika. Produksi skala besar dimulai oleh pabrik susu kental manis di Amerika Serikat dan Eropa, dengan penyempurnaan teknologi hingga SKM dapat bertahan lama dalam kaleng.
Komposisi dan Standar SKM
Menurut pedoman BPOM, SKM merupakan produk susu kental dengan kandungan lemak minimal 8% dan protein minimal 6,5%. Komposisinya meliputi susu segar, gula, minyak nabati, dan bahan tambahan lainnya. Terdapat beberapa varian SKM, seperti Susu Kental Manis Full Cream, Lemak Nabati, dan Krimer Kental Manis, masing-masing dengan karakteristik unik.
Meskipun SKM kaya energi, penggunaan gula yang tinggi membuatnya lebih cocok sebagai pelengkap, bukan sebagai sumber utama nutrisi. Pemahaman yang tepat mengenai produk ini penting untuk menghindari kesalahpahaman terkait manfaat dan penggunaannya. @ffr












