Search
Close this search box.

Fany Efrita: Perempuan dengan Disabilitas Butuh Support System untuk Bisa Berdaya

Co-Founder Yayasan Alunjiva, Fany Efrita./visi.news/ist.

Bagikan :

VISI.NEWS | JAKARTA – Co-Founder Yayasan Alunjiva, Fany Efrita, menegaskan bahwa tantangan perempuan di era saat ini semakin kompleks, terutama bagi perempuan dengan disabilitas. Mereka tidak hanya menghadapi beban domestik, tetapi juga dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi agar dapat berdaya dan berdaya saing di masyarakat.

“Peran ibu dan perempuan sekarang itu peran ganda. Di satu sisi mengurus tugas domestik, di sisi lain harus meningkatkan kapasitas agar bisa bersaing dan berdaya,” ujar Fany dalam sebuah diskusi publik di Jakarta.

Menurut Fany, pembahasan isu perempuan tidak bisa dilepaskan dari keberadaan support system yang kuat. Perempuan, termasuk perempuan dengan disabilitas, tidak dapat berjuang sendirian. Dukungan lingkungan sekitar menjadi kunci terciptanya ekosistem yang inklusif dan berdaya.

“Kalau kita bicara isu perempuan atau feminisme, perempuan tidak bisa bekerja sendiri. Harus ada support system yang tepat, mulai dari peran suami, orang tua, ayah, hingga komunitas,” jelasnya.

Disabilitas Bukan Objek Belas Kasihan

Fany menyoroti bahwa perempuan dengan disabilitas kerap tidak terbiasa memiliki pilihan hidup karena minimnya kesempatan yang diberikan. Mereka sering kali hanya diposisikan sebagai objek rasa kasihan atau simbol ‘manusia kuat’ yang dipaksa bertahan dalam keterbatasan.

“Padahal disabilitas bisa kuat bukan karena dipaksa, tapi karena memiliki lingkungan support system yang mendukung,” tegasnya.

Ia menambahkan, penting untuk terus menggaungkan gerakan bersama agar semakin banyak perempuan dengan disabilitas yang berdaya dan menjadi role model. Menurutnya, kehadiran figur teladan sangat berpengaruh dalam membuka peluang dan membangun kepercayaan diri.

“Seeing is believing. Ketika semakin banyak role model, teman-teman disabilitas di Aceh, Sumatera, Kalimantan, hingga daerah terpencil bisa percaya, ‘kalau dia bisa, kenapa saya tidak?” kata Fany.

Baca Juga :  Jadwal SIM Keliling Kota Bandung Hari Ini, Jumat 23 Januari 2026

Piramida Ekosistem Support System

Melalui Yayasan Alunjiva, Fany mengembangkan platform peningkatan kapasitas bagi penyandang disabilitas dengan membangun piramida ekosistem support system. Dalam konsep tersebut, penyandang disabilitas berada di lapisan paling bawah karena merupakan kelompok paling rentan.

“Di atasnya ada perempuan, dan di puncaknya adalah pemuda karena mereka visioner, lincah, dan memiliki banyak kesempatan,” jelasnya.

Ketiga kelompok tersebut, lanjut Fany, harus saling berpegangan tangan dan menguatkan satu sama lain. Perempuan yang sudah berdaya dapat membantu disabilitas, sementara pemuda dapat memperkuat perempuan melalui dukungan energi, waktu, dan peluang.

Peran Keluarga dan Komunitas

Fany menekankan bahwa support system terkecil berasal dari keluarga. Namun, ketika dukungan keluarga tidak ada, komunitas harus hadir mengambil peran.

Ia menceritakan pengalamannya yang lahir dan besar di Sintang, Kalimantan Barat, wilayah perbatasan Malaysia. Menurutnya, keberhasilannya bisa hadir dan berbicara di Jakarta hari ini tidak lepas dari support system yang baik.

“Bagaimana dengan teman-teman disabilitas yang orang tuanya tidak mendukung, bahkan ada yang disembunyikan? Di situlah peran komunitas,” ujarnya.

Fany mengajak komunitas untuk bergerak lebih besar, lebih masif, dan mengakar hingga ke daerah-daerah. Tujuannya agar penyandang disabilitas yang masih terkungkung di ruang sempit bisa ditarik keluar dan mendapatkan kesempatan yang setara.

“Pergerakan ini tidak boleh hanya ada di kota besar, tapi juga di daerah-daerah yang justru lebih membutuhkan uluran tangan,” pungkasnya. @givary

Baca Berita Menarik Lainnya :