Fatwa Ijtima Ulama MUI: Haram Pemerintah Biarkan Ketidakadilan Dalam Distribusi Tanah

Editor Ijtima Ulama MUI menyepakati 17 poin bahasan, salah satunya adalah Distribusi Lahan untuk Pemerataan dan Kemaslahatan./via mui.or.id/ist.
Silahkan bagikan

JAKARTA —VISI.NEWS | JAKARTA – Perhelatan Ijtima Ulama MUI yang rutin digelar tiga tahunan dan pada tahun ini berlangsung 9-11November 2021, menyepakati 17 poin bahasan salah satunya adalah Distribusi Lahan untuk Pemerataan dan Kemaslahatan.

Seperti dilansir laman mui.or.id, disebutkan bahwa Islam mengakui hak kepemilikan atas tanah dengan maksud untuk dimakmurkan dan didayagunakan demi kemaslahatan dan pelestariannya.

Pengakuan hak milik atas tanah dan pengelolaannya, lanjut ijtima itu, tidak serta merta ada hak untuk menelantarkan dan eksploitasi berlebihan, “Oleh karena itu Pemerintah wajib mencegah terjadinya hal tersebut,” tulis pernyataan.

Disebutkan pula, pemerintah wajib memberi perlindungan hukum terhadap masyarakat yang menghadapi sengketa terhadap hak kepemilikan atas tanah dan belum memiliki keputusan pengadilan yang berkuatan hukum tetap (inkracht) serta dari penyerobotan, mafia tanah, dan dari kekuatan pemodal yang berdampak kepada peminggiran masyarakat kecil.

Pemerintah wajib melarang pengalihan lahan produktif yang didayagunakan untuk kebutuhan pangan dan hajat hidup orang banyak kepada pemanfaatan lain, baik pribadi maupun korporasi yang menyebabkan terganggunya pemenuhan kebutuhan pokok.

“Alih fungsi lahan harus didasarkan pada pertimbangan kemaslahatan yang lebih besar dan antisipasi terhadap dampak lingkungan serta pertimbangan tata ruang,” lanjut ijtima tersebut.

Selain itu, Pemerintah wajib menjamin distribusi tanah untuk menjamin kebutuhan dasar masyarakat dan mewujudkan kemaslahatan yang berkeadilan.

Pemerintah juga wajib menjamin setiap warga memperoleh akses terhadap tanah untuk kebutuhan pokoknya, dan Pemerintah haram membiarkan ketidakadilan dalam distribusi tanah.

Selanjutnya, Pemerintah dapat mendistribusikan lahan untuk merealisasikan kemanfaatan dengan memberikan hak pengelolaan lahan selama jangka waktu tertentu.

Demikian pula Pemerintah wajib mempertimbangkan kemampuan pengelola dan rasa keadilan masyarakat dalam hal kebijakan pemberian hak pengelolaan lahan.

Baca Juga :  LIGA ITALIA: Selamatkan AC Milan dari Kekalahan, Franck Kessie Jadi Pahlawan

“Orang atau badan hukum yang telah diberikan hak pengelolaan lahan atau aset pertanahan harus mendayagunakan untuk kepentingan kemaslahatan yang berkeadilan dan tidak boleh menelantarkannya. Dalam hal terjadi penelantaran, maka Pemerintah wajib menarik kembali dan memberikan kepada yang membutuhkan.” tulisnya lebih lanjut.

Pemerintah dapat mengambil hak kepemilikan tanah untuk merealisasikan kemaslahatan umum. Dalam hal Pemerintah membutuhkan lahan masyarakat untuk kepentingan kemaslahatan umum, harus ada kompensasi yang layak dan memikirkan terpenuhinya hak-hak masyarakat tersebut secara berkelanjutan.

Kemaslahatan umum dalam pembebasan lahan masyarakat tersebut harus bersifat konkret, jangka panjang, dan menyeluruh serta tidak hanya diperuntukkan bagi golongan tertentu yang menyebabkan terjadinya ketimpangan sosial.

Ijtima Ulama MUI pun merekomendasi dengan rincian:

1. Peserta Ijtima’ Ulama mengapresiasi langkah pemerintah untuk mendistribusikan lahan bagi masyarakat miskin dan pemberian sertifikat tanah bagi masyarakat untuk merealisasikan kemaslahatan;
2. Pemerintah perlu mengidentifikasi penguasaan swasta atas tanah yang berlebihan serta mengevaluasi atas pemberian hak pengelolaannya guna didistribusikan kepada masyarakat secara berkeadilan;
3. Pemerintah perlu mengatur tata kelola kepemilikan lahan untuk menjamin harmoni sosial dan melindungi rakyat kecil sehingga tidak terjadi hukum rimba atas dasar kapital yang memarjinalkan masyarakat tertentu terutama penduduk asli;
4. Pemerintah perlu mengendalikan dengan sungguh-sungguh harga tanah agar tidak diserahkan kepada mekanisme pasar secara absolut yang berdampak kepada penguasaan lahan oleh kelompok tertentu.

Ijtima Ulama Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia ke-7 yang digelar pada 9-11 di Jakarta, resmi ditutup Menteri Agama Yaqut Cholil Qaumas pada Kamis (11/11).

Ijtima Ulama diikuti oleh 700 peserta. Peserta terdiri dari unsur Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia Pusat, anggota Komisi Fatwa MUI Pusat, pimpinan komisi/badan/lembaga di MUI Pusat.

Baca Juga :  42 Tenaga Kesehatan Kontak Erat ABK di Cilacap Positif Covid

Selain itu, dalam pertemuan itu dihadiri pimpinan MUI Provinsi, pimpinan Komisi Fatwa MUI Provinsi, pimpinan Majelis Fatwa Ormas Islam, pimpinan pondok pesantren, pimpinan Fakultas Syariah/IAIAN/PTKI di Indonesia. @fen

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Hukum Zakat Perusahaan, Ini Hasil Kajian Ulama Komisi Fatwa MUI

Sab Nov 13 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS | JAKARTA – Ijtima Ulama Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia ke-7 yang digelar pada 9-11 di Jakarta, menyepakati 17 poin bahasan salah satunya adalah hukum zakat perusahaan. Keterangan lengkap hasil pembahasan tentang zakat perusahaan sebagaimana dilansir laman mui.or.id, adalah sebagai berikut: Ketentuan Hukum 1. Kekayaan perusahaan yang memenuhi […]