Fatwa MUI: Wajib Hukumnya Umat Islam Ikuti Pemilu

Editor MUI mengeluarkan fatwa bertajuk Panduan Pemilu dan Pemilukada./via mui.or.id/ist.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS | JAKARTA – MUI mengeluarkan fatwa tentang pemilu dan pemilukada dalam gelaran Ijtima Ulama Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia ke-7 yang digelar pada 9-11 di Jakarta.

Dalam fatwa itu, seperti dilansir mui.or.id, dijelaskan bahwa dalam masalah muamalah, termasuk di dalamnya masalah politik, Islam memberikan keleluasaan berdasarkan kesepakatan untuk mewujudkan kemaslahatan dan menghindari kerusakan atau bahaya (jalb al-mashalih wa dar’u al-mafasid), sepanjang kesepakatan tersebut tidak mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.

Pemilihan umum, lanjut fatwa itu, dalam pandangan Islam adalah upaya untuk memilih pemimpin atau wakil yang memenuhi syarat-syarat ideal bagi terwujudnya cita-cita bersama sesuai dengan aspirasi umat dan kepentingan bangsa.

Adapun dalam memilih pemimpin (nashbu al-imam) dalam Islam adalah kewajiban untuk menegakkan imamah dan imarah dalam kehidupan bersama.

“Oleh karena itu, keterlibatan umat Islam dalam pemilu hukumnya wajib,” tegas fatwa tersebut.

Pemilu, imbuh fatwa, dilaksanakan dengan ketentuan:

a. Dilaksanakan dengan langsung, bebas, jujur, adil, dan rahasia;

b. Pilihan didasarkan atas keimanan, ketakwaan kepada Allah SWT, kejujuran, amanah, kompetensi, dan integritas;

c. Bebas dari suap (risywah), politik uang (money politic), kecurangan (khida’), korupsi (ghulul), oligarki, dinasti politik, dan hal-hal yang terlarang secara syar’i.

Disinggung pula dalam fatwa itu pembatasan masa jabatan. Menurut MUI, pembatasan masa jabatan kepemimpinan maksimum dua kali sebagaimana diatur dalam Konstitusi dan Ketentun Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku wajib diikuti guna mewujudkan kemaslahatan serta mencegah mafsadah;

Adapun tentang proses pemilihan dan pengangkatan kepala daerah dapat dilakukan dengan beberapa alternatif metode yang disepakati bersama sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

MUI menilai, penyelenggaraan pemilihan kepala daerah yang berlaku saat ini dinilai lebih besar mafsadatnya daripada maslahatnya. Itu terjadi antara lain menajamnya konflik horizontal di tengah masyarakat, menyebabkan disharmoni, mengancam integrasi nasional, dan merusak moral akibat maraknya praktik politik uang.

Baca Juga :  Ciri-ciri Set Top Box Asli Pendukung Siaran TV Digital

Ijtima Ulama Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia ke-7 yang digelar pada 9-11 di Jakarta, resmi ditutup Menteri Agama Yaqut Cholil Qaumas pada Kamis (11/11).

Ijtima Ulama diikuti oleh 700 peserta. Peserta terdiri dari unsur Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia Pusat, anggota Komisi Fatwa MUI Pusat, pimpinan komisi/badan/lembaga di MUI Pusat.

Selain itu, dalam pertemuan itu dihadiri pimpinan MUI Provinsi, pimpinan Komisi Fatwa MUI Provinsi, pimpinan Majelis Fatwa Ormas Islam, pimpinan pondok pesantren, pimpinan Fakultas Syariah/IAIAN/PTKI di Indonesia.

Perhelatan rutin tiga tahunan ini menyepakati 17 poin bahasan, salah satunya adalah hukum Panduan Pemilu dan Pemilukada yang Lebih Maslahat bagi Bangsa Indonesia. @fen

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Vaksinasi Pengunjung Minggon Jatinan Mampu Tingkatkan Capaian

Ming Nov 14 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS | BATANG – Menindaklanjuti arahan dari Bupati Batang Wihaji, Dinas Kesehatan Batang menggelar vaksinasi yang menyasar pengunjung Minggon Jatinan yang dipastikan dapat meningkatkan capaian vaksinasi hingga 50%. Sebelumnya warga telah melakukan pendaftaran secara online, namun bagi warga yang ingin mendaftar langsung, cukup membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP). Kepala […]