VISI.NEWS | JAKARTA – Anggota Komisi IV DPR, Fraksi Golkar, Firman Soebagyo menyoroti defisit produksi garam nasional. Kebutuhan nasional sekitar 3 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri baru mencapai sekitar 1,64 juta ton. Kondisi ini menyebabkan ketergantungan impor masih terjadi, bahkan untuk garam konsumsi.
“Pendekatan kebijakan tidak cukup hanya melalui perluasan lahan atau ekstensifikasi, melainkan harus beralih pada intensifikasi berbasis teknologi,” kata Firman dalam keterangannya, Kamis (26/2/2026).
Ia menyatakan bahwa kadar NaCl garam nasional perlu ditingkatkan melalui modernisasi proses produksi sebagaimana diterapkan di negara-negara maju.
Selain itu, ia juga meminta mata rantai produksi yang tidak efisien dipotong.
“Pengolahan air laut harus langsung diarahkan menjadi produk akhir dengan teknologi modern, sehingga lebih efektif dan memiliki nilai tambah,” ujarnya.
Dan untuk mendukung upaya swasembada garam ini, ia pun mendorong pemerintah untuk melibatkan sektor swasta.
“Caranya melalui pemberian insentif, kemudahan regulasi, serta jaminan stabilitas harga,” pungkasnya. @givary