Gelar Diskusi di Bandung, Perhimpunan Rahima Diharapkan Mampu Membangun Masyarakat Adil dan Beradab

Editor Foto bersama seusai diskusi Konsolidasi Jaringan Ulama Perempuan Jawa Barat, “Mengawal Implementasi Fatwa Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI)” di Bandung, Rabu (8/11/2023). /visi.news/ist
Silahkan bagikan

VISI.NEWS | BANDUNG – Perhimpunan Rahima Jawa Barat menggelar acara “Mengawal Implementasi Fatwa Kongres Ulama Perempuan Indonesia”  di Shafa Function Room, Noor Hotel, Jalan Madura No. 6, Kota Bandung, Jawa Barat, diselenggarakan selama satu hari penuh pada Rabu (8/11/2023).

Perhimpunan Rahima bisa dikatakan sebagai basis intelektual ulama-ulama perempuan di Jawa Barat, penulis mengibaratkan dengan istilah, “Bandung Lautan Ulama Perempuan.”

Pernyataan ini berdasarkan pengamatan dan wawancara dengan para anggota Perhimpunan Rahima yang berpartisipasi dalam kegiatan konsolidasi di Noor Hotel Bandung.

Rahima telah membuka lembaran sejarah baru bagi peradaban di masa mendatang melalui cerita-cerita pemberdayaan perempuan yang terangkum dalam buku “Ulama Perempuan Bergerak untuk Perubahan,”

“Kepemimpinan ulama perempuan ini menjadi harapan ke depan dalam membangun masyarakat yang adil dan beradab, buku tersebut memang bukan buku yang terakhir yang diterbitkan oleh KUPI dan Rahima, namun kehadiran buku Ulama Perempuan Bergerak untuk Perubahan, adalah sebagai upaya kami untuk menyebarluaskan cerita perjuangan dan peran yang ditulis oleh sebelas kader/ulama perempuan,” ungkap Direktur Rahima, Pera Sopariyanti S.Pd.I.

Tulisan tentang cerita-cerita para kader Rahima ini, boleh jadi dilatarbelakangi atas keunikan gerakan Perhimpunan Rahima sebagai organisasi yang mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan serta mendakwahkan kesetaraan dan keadilan gender kepada masyarakat umum untuk menyederhanakan bahasa agar mudah dipahami.

Ketika narasi-narasi soal keberagaman dan keagamaan yang media cenderung tidak mempublikasikan karya-karya ulama perempuan, maka dengan penuh percaya diri KUPI dan Rahima menerbitkan bahan bacaan yang tidak hanya enak dibaca, tetapi dipenuhi dengan muatan narasi dan literasi tentang isu perempuan-perempuan pembela hak kemanusiaan, dimana Rahima sendiri memiliki visi untuk kemaslahatan manusia.

Baca Juga :  Kejaksaan Naungi Restoratif Justice 20 Desa di Sidoarjo

Rahima yang lahir dari komunitas Islam tradisional, berusaha mengubah kultur dan struktur sosial masyarakat untuk mengakui hak-hak perempuan setara dengan laki-laki.

Dengan memotret dinamika penerapan sistem dakwah ala Perhimpunan Rahima dalam mendakwahkan keadilan gender yang bisa dikatakan sebagai tempat persemaian benih-benih gerakan kemanusiaan dan keadilan gender untuk tumbuh subur, baik dalam literatur maupun kerja-kerja sosial yang selama ini dilakukan para kader ulama perempuan di Jawa Barat.

Bahwa perempuan dari kacamata Rahima tidaklah membatasi diri dalam jeratan sosial, tetapi kader-kader Perhimpunan Rahima melalui pendidikan Pengaderan Ulama Perempuan (PUP) sebagai cara untuk merespons berbagai problem kehidupan perempuan di Indonesia umumnya, dan di Jawa Barat khususnya. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Ibu Nyai Masruchah, Ketua Pengurus Perhimpunan Rahima

“Kerja-kerja sosial yang diupayakan oleh Perhimpunan Rahima di Jawa Barat untuk merespons persoalan-persoalan seputar isu kemanusiaan, dan Rahima memperkenalkan literasi tentang poligami, sara, inces, penganiayaan, penculikan dan kekerasan seksual,” ungkap Bu Nyai.

Bu Nyai menekankan bahwa Perhimpunan Rahima yang beranggotakan kader ulama-ulama perempuan di Jawa Barat telah berjuang untuk kemaslahatan hak-hak perempuan dan kemanusiaan.

Ketua Majelis Musyawarah KUPI ini juga mengisi aktivitas kelas diskusi kepada seluruh anggota perhimpunan Rahima di ruang Shafa Function Room, Noor Hotel, Jalan Madura No. 6, Kota Bandung Jawa Barat.

Peran perhimpunan aktivis Rahima atau Ulama Perempuan Jawa Barat secara konsisten menyuarakan gerakan kemanusiaan dan hak-hak perempuan melalui berbagai kegiatan.

Rahima telah melakukan kajian isu-isu keadilan gender, keislaman, dan melakukan advokasi kebijakan publik dasar, khususnya terkait pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sosial yang ditujukan kepada ulama-ulama perempuan.

Setidak-tidaknya setelah membaca buku “Ulama Perempuan Bergerak untuk Perubahan,” karya ini sebagai upaya dalam membangun pemahaman keadilan gender, peran ulama perempuan melalui kumpulan tulisan. Betapa pun kiprah dan perjuangan yang dilakukan ulama perempuan di Indonesia, khususnya di Jawa Barat memang perlu diangkat menjadi sebuah karya nyata (buku), seperti buku “Ulama Perempuan Bergerak untuk Perubahan,” (Cerita Pemberdayaan Perempuan di Akar Rumput) cerita yang tidak hanya membangkitkan selera pembaca wanita atau perempuan saja, tetapi juga kaum pria.

Baca Juga :  6 dari 9 Korban Hilang Ditemukan, Perahu Wisatawan Berisi 20 orang Tenggelam di Waduk Kedungombo

Kesebelas penulis (ulama perempuan) ini mengungkapkan realitas dengan cara yang berbeda. Namun terasa sekali muatan naluri keibuan dan tanda cinta dari para penulis ulama perempuan yang termaktub dalam karya tersebut.

Ilmu pengetahuan baik agama maupun disiplin ilmu lainnya memang telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat.

@abdul majid ramdhani

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Ganjar Singgung Turis Tiongkok, "Saya terkejut, banyak yang beli kasur. Kasurnya made in sana, jadi balik lagi"

Kam Nov 9 , 2023
Silahkan bagikanVISI.NEWS | BALI – Ganjar Pranowo bercerita tentang cara turis China mengeksploitasi aplikasi digital untuk jalan-jalan ke Bali tanpa mengeluarkan rupiah sepeser pun. Calon presiden dari PDI-P tersebut membeberkan modus wistawan yang kerap digunakan oleh wisatawan China untuk “jalan-jalan hemat” di Bali. “Wisatawan Tiongkok yang ke Bali itu pesan […]