VISI.NEWS|BANDUNG -Teheran kembali bergolak. Gelombang demonstrasi besar-besaran yang dipicu krisis ekonomi dan pembatasan kebebasan sipil kini berubah menjadi tragedi kemanusiaan, sekaligus membuka babak baru ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Di tengah meningkatnya korban jiwa, Amerika Serikat dikabarkan tengah menyiapkan opsi serangan militer terhadap Iran, dengan Israel berada dalam posisi siaga terbatas.
Sumber internal pemerintahan Amerika Serikat mengungkapkan bahwa rencana tersebut muncul sebagai respons atas eskalasi kekerasan aparat keamanan Iran terhadap demonstran. Namun, keterlibatan Israel dalam skenario ini disebut tidak bersifat langsung sejak awal.
“Israel tidak akan menjadi pihak yang memulai. Keterlibatan militer baru dilakukan jika Iran menyerang wilayah kami atau ada indikasi serangan yang tak terbantahkan,” ujar seorang pejabat keamanan Israel.
Protes massal yang melanda sejumlah kota besar Iran berakar dari tekanan ekonomi berkepanjangan. Sanksi maksimum yang kembali ditegakkan Washington telah melumpuhkan nilai mata uang Rial dan memicu lonjakan harga kebutuhan pokok. Situasi ini diperparah oleh kebijakan keras Presiden Donald Trump terhadap program nuklir Teheran.
Seorang analis politik Timur Tengah yang dekat dengan lingkaran kebijakan AS menyebut tekanan ekonomi kini telah berubah menjadi ancaman stabilitas regional. “Yang dihadapi Iran sekarang bukan sekadar demonstrasi, tapi krisis legitimasi kekuasaan,” katanya.
Pemerintah Iran menuding adanya campur tangan asing di balik gelombang protes tersebut. Teheran secara terbuka menuduh Amerika Serikat dan Israel menghasut kerusuhan untuk melemahkan rezim. Namun, tuduhan itu dibantah oleh pihak-pihak terkait.
“Kami tidak menciptakan penderitaan rakyat Iran. Kebijakan represif dan kegagalan ekonomi merekalah yang melakukannya,” ujar seorang pejabat senior Amerika Serikat.
Sementara itu, angka korban jiwa terus menjadi sorotan. Lembaga pemantau hak asasi manusia HRANA melaporkan sedikitnya 116 orang tewas akibat tindakan represif aparat keamanan. Namun, pejabat Israel dan AS meyakini jumlah sebenarnya jauh lebih besar.
“Data yang kami miliki menunjukkan angka kematian yang jauh melampaui laporan resmi,” ungkap seorang pejabat intelijen regional.
Di tengah meningkatnya ketegangan, komunitas internasional menghadapi dilema: menekan Iran atas pelanggaran hak asasi manusia, atau menahan diri agar konflik tidak berubah menjadi perang terbuka di kawasan yang sudah rapuh.@fajar