VISI.NEWS | BANDUNG – Laporan UNICEF tahun 2023 mencatat sebanyak 25,53 juta anak perempuan di Indonesia menikah di bawah usia 18 tahun, sebuah angka yang menempatkan Indonesia pada posisi keempat dengan kasus perkawinan anak terbesar di dunia[1]. Dalam praktik pernikahan dini, perempuan menjadi pihak paling rentan terhadap dampak negatif jangka panjang, mulai dari terhambatnya akses pendidikan dan pelayanan kesehatan, hingga potensi pendapatan ekonomi yang lebih rendah dibandingkan rekan sebaya.
Lulita Sauman Nur Fajriah, mahasiswi Universitas Pasundan sekaligus penerima Beasiswa SCG Sharing the Dream 2025, menginisiasi proyek komunitas bernama WANOJA (Wani Nenjo Jaman) untuk mendukung pencegahan perkawinan anak di wilayah Kecamatan Ciwidey, Jawa Barat. Inisiatif ini dirancang untuk membekali remaja usia 15-19 tahun dengan keterampilan praktis, kemandirian finansial, serta pemahaman prinsip keberlanjutan hijau guna membuka peluang ekonomi yang lebih luas. Melalui WANOJA, Lulita berhasil memberdayakan 50 remaja di Ciwidey dengan mengembangkan kapasitas mereka sebagai eco-tour guide (pemandu wisata ramah lingkungan) yang kompeten. Proyek komunitas ini sejalan dengan Strategi Nasional Pencegahan Perkawinan Anak (Stranas PPA) yang dicetuskan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), terlebih untuk strategi optimalisasi kapasitas anak dan membangun lingkungan yang mendukung pencegahan perkawinan anak.
Sebagai pendiri komunitas WANOJA, Lulita merupakan salah satu penerima Beasiswa SCG Sharing the Dream, program unggulan SCG bagi siswa SMA/sederajat dan mahasiswa S1 di Indonesia. Tahun ini, Lulita bersama 427 pelajar lainnya—terdiri dari 415 siswa SMA dan 12 mahasiswa Sarjana—terpilih untuk menerima dukungan pendidikan ini. Memasuki tahun ke-13, program SCG Sharing the Dream telah menyalurkan dana lebih dari Rp22,000,000,000 bagi pelajar di berbagai wilayah operasional perusahaan, termasuk Jakarta, Bogor, Tangerang Selatan, Bekasi, Karawang, Bandung, Sukabumi, Lebak, hingga Gresik. Selain bantuan finansial, SCG juga berkomitmen mendampingi para penerima beasiswa dalam merealisasikan proyek komunitas (community project) yang mereka inisiasi secara mandiri.
Pattaraphon Charttongkum, President Director SCG Indonesia, menyampaikan, “Kami sangat bangga dapat mendukung proyek WANOJA yang diinisiasi oleh salah satu penerima beasiswa SCG Sharing the Dream 2025. Kami percaya inisiatif ini mampu membekali generasi muda dengan keterampilan mumpuni untuk membangun kemandirian ekonomi, sekaligus mendukung akselerasi industri ekowisata lokal. Upaya ini sejalan dengan prinsip bisnis kami, Inclusive Green Growth, di mana SCG berkomitmen membawa inovasi hijau serta tumbuh bersama seluruh pemangku kepentingan tanpa ada satu pun yang tertinggal”.
WANOJA: Di Mana Mahasiswi Muda Memberdayakan Perempuan Muda
Sejak dimulai pada September 2025, proyek WANOJA telah menghadirkan serangkaian inisiatif strategis untuk memberdayakan perempuan muda di Ciwidey. Tahap awal difokuskan pada pengembangan kurikulum dan asesmen kebutuhan lapangan guna memastikan materi pelatihan relevan dengan potensi industri ekowisata lokal. Lulita juga memperkuat kolaborasi melalui sosialisasi program kepada Kelompok Kerja (Pokja) PKK Desa Sukawening, yang dilanjutkan dengan rekrutmen hingga berhasil menjaring 50 anggota komunitas. Pada Desember 2025, WANOJA meluncurkan sesi EPIC (English Play in Ciwidey), sebuah pelatihan bahasa Inggris praktis yang dirancang khusus bagi remaja untuk terjun di sektor pariwisata. Sebagai pelengkap, para anggota juga dibekali dengan keterampilan eco-tour guide melalui lokakarya ekowisata dan pengelolaan sampah, guna mencetak pemandu wisata yang tidak hanya kompeten secara komunikasi, tetapi juga peduli pada kelestarian lingkungan.
Sebagai puncak inisiatif, pada 24 Januari 2026, para anggota komunitas WANOJA secara resmi mengimplementasikan ilmu yang telah mereka pelajari melalui sesi eco-tour guide (pemandu wisata ramah lingkungan) di kawasan Situ Awi, Kecamatan Ciwidey, Jawa Barat. Momen penting ini turut disaksikan dan didukung langsung oleh Camat Kecamatan Ciwidey, Ketua TP PKK Kecamatan Ciwidey, Kepala Desa Sukawening, serta Ketua TP PKK Desa Sukawening. Selain itu, kegiatan wisata ramah lingkungan ini melibatkan 20 wisatawan asing dari berbagai negara sebagai peserta langsung dalam tur edukatif yang dipandu oleh remaja WANOJA. Melalui serah terima proyek ini, proyek WANOJA diharapkan terus menjadi wadah pemberdayaan yang mampu menekan angka pernikahan dini sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
“Setelah melalui program pembelajaran intensif selama beberapa bulan, kami sangat bangga menyaksikan kepiawaian para Wonders Tour Guide saat mempraktikkan keterampilan mereka di Situ Awi. Para peserta menunjukkan semangat belajar yang luas untuk mengenal dunia, sekaligus komitmen kuat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan desa wisata dan pemberdayaan upscaling sampah menjadi produk yang bernilai guna. Kami berharap inisiatif ini tidak hanya mendorong pertumbuhan sektor ekowisata di Bandung, tetapi juga berkontribusi nyata dalam memberdayakan perempuan muda di Indonesia serta menciptakan dampak positif bagi kelestarian lingkungan. Semoga langkah kecil ini mampu membangun generasi muda yang mandiri secara ekonomi sekaligus menekan angka pernikahan dini di wilayah kami,” ungkap Lulita.
Lala Jamilah, S.Sos, M.Si., Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kecamatan Ciwidey, menyatakan dukungannya terhadap proyek komunitas WANOJA. “Mudah-mudahan (Komunitas WANOJA) bisa berkolaborasi juga dengan PKK Kecamatan Ciwidey, (terlebih untuk) kegiatan pemberdayaan perempuan, khususnya pencegahan perkawinan usia dini,” tutup Lala.
@uli