VISI.NEWS | BANDUNG — Bagi generasi muda Myanmar, masa awal kedewasaan dulu sempat dipenuhi harapan tentang kebebasan dan masa depan yang lebih terbuka. Kampus-kampus hidup, organisasi mahasiswa aktif, dan ruang berekspresi terasa semakin luas. Namun sejak kudeta militer pada 1 Februari 2021, jalan hidup ribuan anak muda berubah drastis. Banyak yang turun ke jalan membela demokrasi, dan tak sedikit yang akhirnya mendekam di penjara — sebagian di antaranya meninggal dunia dalam tahanan.
Di antara mereka ada Wutt Yee Aung dan Khant Linn Naing, dua mahasiswa yang kisahnya mencerminkan nasib satu generasi yang terhimpit represi. Data dari Assistance Association for Political Prisoners (AAPP) menunjukkan sedikitnya 74 tahanan politik berusia 18 hingga 35 tahun meninggal dalam tahanan sejak kudeta. Sementara Political Prisoners Network of Myanmar (PPNM) mencatat 273 orang yang didakwa dengan hasutan dan pemberontakan tewas saat dipenjara.
Wutt Yee Aung adalah mahasiswi zoologi di Universitas Dagon, Yangon, yang dikenal aktif dan vokal di serikat mahasiswa. Ia tetap berada di kota ketika aksi perlawanan terhadap junta meluas, hingga akhirnya ditangkap pada September 2021. Pengadilan militer menjatuhkan hukuman tujuh tahun penjara dan ia dipindahkan ke Penjara Insein, salah satu penjara paling terkenal di Myanmar.
Dari balik jeruji, Wutt Yee masih berusaha menjaga kontak dengan keluarganya.
Dalam sepucuk surat, ia menulis, “Ibu, semoga ibu dalam keadaan baik. Makanan ringan dan obat-obatan saya sudah habis, jadi tolong kirimkan 200.000 kyat.”
Surat tulisan tangan itu juga memuat daftar obat, termasuk untuk gangguan saraf dan asma. Menurut sahabatnya, ia mengalami cedera kepala saat interogasi pada masa awal penahanan.
Dalam surat lain yang ditujukan kepada temannya, ia menulis, “Tolong jangan beri tahu ibu saya soal ini. Saya merindukan kalian semua.”
Kondisi kesehatannya terus memburuk hingga ia sempat dirawat di fasilitas medis dalam penjara pada pertengahan 2025. Wutt Yee Aung meninggal dunia pada 19 Juli 2025 dalam usia 25 tahun. Otoritas menyampaikan kepada keluarga bahwa penyebab kematiannya adalah penyakit jantung, tetapi Serikat Mahasiswa Universitas Dagon membantah penjelasan tersebut.
Dalam pernyataan mereka disebutkan, “Karena tahanan politik tidak mendapatkan perawatan medis yang memadai, kekurangan obat-obatan, dan pembatasan kontak dengan keluarga, Ma Wutt Yee Aung meninggal di penjara sekitar pukul 21.30 pada 19 Juli 2025.”
Pihak junta tidak menanggapi permintaan komentar mengenai dugaan perlakuan buruk terhadap tahanan.
Kisah lain datang dari Khant Linn Naing, mahasiswa sejarah yang juga aktif dalam gerakan mahasiswa. Ia ditangkap pada Desember 2021 dan divonis 15 tahun penjara. Ia ditahan di Penjara Daik-U, sekitar 110 kilometer dari Yangon. Keluarganya mengetahui kabar kematiannya lewat surat resmi dari otoritas penjara pada Juli 2023. Surat itu menyebut ia ditembak saat mencoba melarikan diri ketika dipindahkan.
Namun keluarga meragukan penjelasan tersebut.
Seorang kerabat mengatakan, “Karena isi surat itu sangat tidak jelas, kami tidak percaya dia benar-benar sudah meninggal.”
PPNM juga mempertanyakan versi resmi itu. Juru bicaranya menyatakan, “Tidak masuk akal jika dia mencoba melarikan diri karena para tahanan biasanya dibelenggu dan selalu dikawal petugas saat pemindahan.”
Organisasi tersebut mengaku mendapat informasi dari sumber di penjara bahwa Khant Linn Naing mengalami interogasi keras sebelum pemindahan yang disebutkan dalam surat. Hingga kini, keluarga belum menerima jenazah maupun menggelar pemakaman.
Perserikatan Bangsa-Bangsa sebelumnya menyatakan bahwa generasi muda Myanmar termasuk yang paling terdampak sejak kudeta, menghadapi penangkapan, penyiksaan, wajib militer, serta pengungsian besar-besaran. Diperkirakan ratusan ribu anak muda telah meninggalkan negara itu dalam beberapa tahun terakhir. Sementara di sejumlah negara Asia lain gelombang protes pemuda sempat menggoyang kekuasaan, militer Myanmar tetap bertahan dan memperkuat cengkeramannya.
Di tengah situasi tersebut, mimpi-mimpi pribadi ikut terhenti.
Seorang sahabat mengenang, “Saya ingin menjadi pembaca berita. Wutt Yee ingin lebih banyak melakukan kegiatan sukarela. Masing-masing dari kami punya mimpi yang berbeda.”
Kini, bagi banyak keluarga di Myanmar, perjuangan bukan hanya tentang demokrasi, tetapi juga tentang mencari kejelasan atas nasib anak-anak mereka yang hilang di balik dinding penjara. @kanaya












