Gibran Ingin Lahan Sengketa Taman Sriwedari Kembali Jadi Ruang Publik

Editor Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, didampingi Ketua DPRD Kota Solo, Budi Prasetyo, Kajari Surakarta, Prihatin, SH, Sekda Ir. Ahyani dan lain-lain, menjelaskan upaya Pemkot Solo mengembalikan fungsi Taman Sriwedari yang masih dalam sengketa sebagai kawasan cagar budaya dan ruang publik. /visi.news/tok suwarto
Silahkan bagikan

VISI.NEWS | SOLO – Sengketa Taman Sriwedari peninggalan Sunan Paku Buwono X saat bertahta di Keraton Surakarta yang belum reda, kembali terangkat ke permukaan, menyusul keinginan Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, untuk mengembalikan fungsi taman yang kini mangkrak tersebut sebagai ruang publik.

Wali Kota Solo, Gibran, didampingi Sekda, Ir. Ahyani, Kajari, Ketua DPRD Budi Prasetyo dan lain-lain, yang secara khusus mengundang wartawan dalam konferensi pers di Bale Tawangarum, kompleks Balai Kota, Jumat (24712/2021), menjelaskan keinginannya mengembalikan Taman Sriwedari dan rencana pengembangan kawasan taman sebagai ruang piblik.
“Pemkot Solo akan berupaya mempertahankan Taman Sriwedari dan mengembalikan fungsinya agar tetap sebagai ruang publik,” ujarnya.
Pemerintah Kota Solo, kata Gibran, tetap berkomitmen memelihara, merawat dan mengelola kawasan Taman Sriwedari sebagai kawasan cagar budaya dan ruang publik bagi masyarakat Kota Solo.
“Sesuai dengan rencana awal, tata kelola Sriwedari akan dikembalikan fungsinya seperti fungsi awal dulu sebagai ruang terbuka. Kalau dahulu sebagai Kebon Rojo atau kebun raja, masyarakat khususnya warga Solo dan sekitarnya agar bisa menikmati dan memanfaatkan kawasan Sriwedari,” jelasnya.
Menyinggung proses hukum Taman Sriwedari yang berdasarkan putusan kasasi Mahkamah Agung (MA) memenangkan gugatan ahli waris bangsawan KRT Wirjodiningrat terhadap Pemkot Solo, Gibran menegaskan, Pemkot Solo akan terus berupaya dan berjuang agar tanah Sriwedari tetap menjadi ruang publik bagi masyarakat Kota Solo.
Gugatan ahli waris KRT Wirjodiningrat terhadap Pemkot Solo ke pengadilan, sejak peradilan tingkat pertama sampai kasasi MA selalu dimenangkan ahli waris. Namun sejak MA ketok palu memenangkan gugatan ahli waris dalam peradilan kasasi beberapa tahun terakhir, pihak pengadilan gagal melaksanakan eksekusi.
Di antara penyebab kegagalan, karena Pemkot Solo pernah melakukan upaya hukum peninjauan kembali namun kandas. Kemudian tim kuasa hukum Pemkot Solo menempuh perlawanan eksekusi, dengan alasan di lahan sengketa terdapat aset Pemkot Solo. Selain itu juga terdapat perbedaan luas lahan obyek sengketa, antara keputusan kasasi dengan keadaan riil di lapangan.
Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Surakarta, Prihatin, SH, menyatakan, meskipun dalam sengketa Taman Sriwedari Pemkot Solo kalah di tingkat kasasi, pihak kejaksaan sebagai pengacara negara melihat masih ada langkah hukum untuk melakukan perlawanan eksekusi.
“Tapi dalam menempuh upaya hukum, kami melakukan perlawanan eksekusi secara profesional bukan seperti preman. Meskipun di peradilan pertama dan banding upaya hukum ditolak, ke depan masih ada upaya hukum lain melalui kasasi. Penolakan di peradilan tingkat pertama dan banding, karena ada hal-hal yang kurang pas. Kejaksaan sebagai pengacara negara yang menjadi kuasa hukum Pemkot Solo akan mengambil langkah hukum agar putusan kasasi ditinjau kembali,” kata Kajari Surakarta.@tok

Baca Juga :  Ridwan Kamil Pantau AKB Resepsi Pernikahan di Hotel via Video Conference

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Bupati Kukuhkan 100 Relawan Redkar Bedas Siaga

Jum Des 24 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS | SOREANG – Dalam mempercepat upaya penanganan kebakaran, Bupati Bandung Dadang Supriatna mengukuhkan 100 Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar) Bedas Siaga. Relawan tersebut nantinya akan ditempatkan di lima desa yakni, Desa Citaman Kecamatan Nagreg, Rancaekek Kulon Kecamatan Rancaekek, Margahayu Selatan Kecamatan Margahayu, Ciapus Kecamatan Banjaran dan Desa Mekarmanik Kecamatan […]