Search
Close this search box.

Gugatan Harry vs Daily Mail Masuk Babak Penentuan

Ilustrasi. /visi.news/artificial intellegence

Bagikan :

Perang hukum Pangeran Harry melawan pers Inggris memasuki babak penentuan dengan dimulainya gugatan privasi terhadap penerbit Daily Mail di Pengadilan Tinggi London pekan depan. Kasus ini menjadi salah satu konfrontasi terbesar antara keluarga kerajaan dan media Inggris dalam beberapa dekade terakhir.

Harry, yang kini berusia 41 tahun, telah lama menyuarakan kemarahannya terhadap praktik media Inggris yang dinilainya agresif dan melanggar privasi. Trauma masa kecilnya, terutama kematian sang ibu, Putri Diana, dalam kecelakaan mobil tahun 1997 saat dikejar paparazi, disebut menjadi latar belakang kuat dari perjuangan hukumnya.

Putra bungsu Raja Charles III itu menggugat Associated Newspapers bersama enam penggugat lain, termasuk musisi legendaris Elton John. Mereka menuduh perusahaan media tersebut melakukan berbagai tindakan melawan hukum selama bertahun-tahun, mulai dari penyadapan telepon hingga pengambilan data kesehatan pribadi secara ilegal.

Associated Newspapers membantah seluruh tuduhan tersebut. Penerbit Daily Mail itu menyebut gugatan para penggugat sebagai “fitnah yang mengada-ada” dan menegaskan tidak pernah melakukan praktik ilegal seperti yang dituduhkan.

Selama sembilan pekan persidangan, Harry dan para penggugat lain, termasuk David Furnish, Liz Hurley, Sadie Frost, Doreen Lawrence, serta mantan anggota parlemen Simon Hughes, dijadwalkan memberikan kesaksian. Harry sendiri akan kembali duduk di kursi saksi pekan depan, menjadi penampilan keduanya di pengadilan dalam tiga tahun terakhir.

Sebelumnya, pada 2023, Harry mencatat sejarah sebagai anggota kerajaan Inggris pertama dalam 130 tahun yang memberikan kesaksian di pengadilan. Kasus ini pun kembali menyedot perhatian publik, dengan taruhannya tidak hanya reputasi para pihak, tetapi juga biaya hukum yang diperkirakan mencapai puluhan juta pound sterling.

Kritikus menilai Harry digerakkan oleh rasa pahit akibat pemberitaan negatif media, mulai dari gaya hidupnya di masa muda hingga konflik keluarga dan keputusannya meninggalkan Inggris. Namun pendukungnya melihat langkah ini sebagai upaya moral untuk membatasi praktik media yang dinilai tidak etis.

Baca Juga :  Doa Meninta Perlindungan dari Berbagai Bencana

“Dia tampaknya termotivasi oleh sesuatu yang lebih dari sekadar uang,” kata Damian Tambini, pakar regulasi media dari London School of Economics. Menurutnya, Harry dan para penggugat lain ingin mendorong perubahan nyata dalam praktik jurnalistik Inggris.

Kasus melawan Associated Newspapers ini dipandang sebagai salah satu pertarungan terakhir terkait skandal penyadapan telepon yang menghantui pers Inggris lebih dari dua dekade. Jika gugatan ini gagal, para pengamat menilai isu phone hacking bisa benar-benar berakhir dari meja hijau, menutup satu bab panjang konflik antara media, etika, dan hak privasi di Inggris.

@uli

Baca Berita Menarik Lainnya :