Search
Close this search box.

Gus Yahya Apresiasi Napak Tilas Muasis NU

Ketua Umum PBNU, Gus Yahya/visi.news/ist.

Bagikan :

VISI.NEWS | JAKARTA – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Kiai Haji Yahya Cholil Staquf menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas pelaksanaan kegiatan napak tilas perjalanan para muasis Nahdlatul Ulama (NU). Kegiatan ini menelusuri jejak perjuangan Kiai As’ad Syamsul Arifin sebagai pembawa pesan penting dari Hadratussyekh Kiai Muhammad Khalil bin Abdul Latif Bangkalan kepada Hadhratussyekh Kiai Muhammad Hasyim Asy’ari.

Gus Yahya menegaskan, peristiwa historis tersebut menjadi tonggak penting lahirnya inisiatif pendirian jam’iyah ulama yang kemudian diberi nama Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Pesan yang dibawa Kiai As’ad kala itu menjadi bagian dari mata rantai perjuangan ulama dalam merespons tantangan umat dan zaman.

“Atas nama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, saya menyampaikan dirgahayu napak tilas perjalanan Kiai As’ad Syamsul Arifin sebagai pembawa pesan pendirian jam’iyah ulama yang kemudian diberi nama Jam’iyah Nahdlatul Ulama,” ujar Gus Yahya, Sabtu (3/1/2026).

Selain itu, Gus Yahya juga menyampaikan terima kasih kepada para dzuriyah muasis NU, yakni keturunan Syekh Muhammad Khalil bin Abdul Latif, Kiai Muhammad Hasyim Asy’ari, Kiai As’ad Syamsul Arifin, Kiai Abdul Wahab Chasbullah, dan Kiai Bisri Sansuri atas inisiatif penyelenggaraan napak tilas yang dijadwalkan berlangsung pada Ahad, 4 Januari 2026.

Menurutnya, kegiatan napak tilas tersebut merupakan bentuk tabarruk atau ngalap berkah atas khidmah dan pengabdian para muasis NU. Melalui kegiatan ini, generasi penerus diajak untuk kembali menelusuri akar sejarah, nilai perjuangan, serta keteladanan para ulama pendiri NU.

Gus Yahya berharap seluruh pengampu, khudama, kader, dan warga NU, bahkan bangsa Indonesia secara luas, dapat memperoleh limpahan barokah dari amal saleh yang telah diwariskan para muasis Jam’iyah Nahdlatul Ulama.

Baca Juga :  Dukung TMMD, Tata Irawan: Disdukcapil Hadir Layani Warga Desa Cipelah Rancabali

“Semoga keberadaan Jam’iyah Nahdlatul Ulama sebagai pembawa barokah para masyaikh Ahlussunnah wal Jamaah di bumi Nusantara ini senantiasa lestari dan terus menjadi sumber kemaslahatan bagi bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta bagi kemanusiaan seluruhnya,” tuturnya.

Dari pernyataan tersebut, Gus Yahya juga menegaskan pentingnya refleksi sejarah sebagai bagian dari persiapan peringatan harlah satu abad NU. Momentum napak tilas dinilai relevan untuk memperdalam pemahaman warga NU terhadap perjuangan para kiai dan santri terdahulu.

Nahdlatul Ulama sendiri didirikan pada 31 Januari 1926 di Surabaya, Jawa Timur, oleh para ulama untuk membela Islam Ahlussunnah wal Jamaah dari berbagai tantangan, termasuk kolonialisme. Tokoh-tokoh seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Chasbullah memainkan peran sentral dalam pendiriannya.

Sejarah berdirinya NU juga tak lepas dari pembentukan Komite Hijaz yang diinisiasi KH Wahab Chasbullah. Komite ini memperjuangkan kepentingan ulama Nusantara di Tanah Suci dan menjadi pemicu lahirnya kesepakatan mendirikan organisasi besar bernama Nahdlatul Ulama, yang hingga kini tetap menjadi pilar penting kehidupan keagamaan dan kebangsaan Indonesia.

@uli

Baca Berita Menarik Lainnya :