H Usep Mulyana, Buruh Pabrik yang Berhasil Menguliahkan Dua Anaknya di Kedokteran

Editor H. Usep Mulyana. /visi.news/m. purnama alam
Silahkan bagikan

VISI.NEWS | BALEENDAH – Tamu yang datang pada Kamis (16/3/2023) sore ini ke redaksi tergolong luar biasa. Buruh sebuah pabrik di Jalan Raya Banjaran, namun bisa menguliahkan dua anaknya di fakultas kedokteran, satu diantaranya sudah menjadi dokter dan ditugaskan di sebuah RSUD Ciamis.

Namanya, H. Usep Mulyana, warga Kampung Paledang, Desa Pakutandang, Kecamatan Ciparay. Pria yang kelahiran 2 September 1967 itu datang ke redaksi VISI.NEWS, Jalan Raya Laswi Baleendah, Kabupaten Bandung, masih mengenakan pakaian kerja, ditemani Ustadz Muslichudin. Sama-sama bekerja disana.

Kehadirannya hanya untuk bersilaturahmi, namun ternyata ada sisi lain kehidupannya yang menarik untuk dikupas. Ia tergolong manusia langka, karena kok bisa yah, seorang buruh pabrik yang bergaji tak jauh-jauh dari UMR, menguliahkan anaknya di kedokteran, dua anak lagi. Sehingga, tak disangka-sangka, obrolan dengannya menjadi sangat menarik.

Usep mengungkapkan, apa yang dijalani anaknya, mirip dengan perjalanan hidupnya. “Saya waktu kelas tiga SD, ingin bekerja di pabrik kertas. Alasannya, tidak tahu, pokoknya pengen kerja di pabrik kertas aja,” ungkapnya.

Maka ketika beres sekolah, katanya, ia langsung daftar ke pabrik kertas yang ada di Jalan Raya Banjaran itu pada tahun 1989 lalu. “Sekarang saya sudah bekerja di pabrik kertas ini selama 35 tahun, dan Alhamdulillah, saya nampaknya dibutuhkan juga,” ungkapnya.

Sugesti pada Ucapan Anak

Anak sulungnya, dr. Muhammad Fauzan Ali, ketika duduk di kelas tiga SD berucap, ingin menjadi dokter. “Duh, langsung saya ingat ucapan waktu saya kelas tiga SD, dan nyata terbukti,” kata pria langsing berkumis ini.

Usep dan istrinya, kemudian membahas keinginan anaknya itu. Maka, sejak saat itu, keduanya bertekad untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya uang agar bisa menyekolahkan anaknya di kedokteran. “Istri saya pedagang, saya buruh pabrik, kita sama-sama mengumpulkan uang, fokus untuk bisa menyekolahkan ke kedokteran,” katanya.

Baca Juga :  Komnas HAM Jawab Tjahjo Sebut TWK KPK Tak Terkait HAM

Mereka bekerja sama. Pun demikian anaknya semangat belajar, sehingga saat SMP bisa masuk kelas akselerasi di Baleendah. “Lulus SMP saya dan istri berfikir keras, ke SMA mana supaya lulusannya mudah diterima di kedokteran,” ujar Usep.

Akhirnya mereka sepakat menyekolahkan si sulung ini di Kota Bandung, di SMA Darul Hikam, Jalan Ir. H. Djuanda (Dago). “Abdi mah aktif mantau teras murangkalih ka sakola. Murangkalih dilebetkeun ka SSC, sareng ka GO. Alhamdulillah, rangkingnya naik terus, sampai jadi rangking pertama,” ungkapnya seraya menyebutkan nilainya hampir semuanya 10.

Awalnya, kata Usep, anaknya di arahkan untuk fokus ke Unpad, karena penjelasan dari pihak sekolah rangking 3-5 bisa masuk ke Unpad. “Ternyata, anak saya tidak lolos ke Unpad. Maka langsung saya telepon ke gurunya, kebetulan sedang berada di Amerika. Akhirnya, janjian setelah sampai di Indonesia akan membahas soal anak saya ini,” ungkapnya.

Setelah berusaha kedua kalinya melalui jalur mandiri ternyata gagal juga akhirnya diterima di Unisba. Di kampus ini anaknya aktif di berbagai organisasi kampus bahkan pernah duduk di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). “Setelah saya jelaskan resiko-resiko terlalu aktif di organisasi, akhirnya anak saya faham, dan kembali fokus menyelesaikan kuliah secepatnya,” ungkap Usep.

Tak Diduga, Adiknya Juga Mau Jadi Dokter

Ia dan istrinya merasa plong meski tabungannya ludes untuk menguliahkan si sulung ke kedokteran karena sudah bisa memetik hasilnya. Anaknya itu diterima di RSUD Ciamis. “Sempet sedikit beda keinginan setelah anak saya jadi dokter. Saya ingin dia kerjanya di rumah sakit yang ada di sini, di Kabupaten Bandung, sedangkan anak saya mencari di luar daerah. Tapi, ia sekarang mulai terasa ingin kerja di sini, di RSUD yang ada di Kabupaten Bandung,” ungkapnya.

Baca Juga :  Lewat Inovasi dan Teknologi Terbaik, Hisense Ingin Jadi Pendamping Ideal bagi Pelanggan saat Piala Dunia FIFA Qatar 2022™

Belum lama “istirahat” setelah menguras tabungan dan tenaga, ia kaget ketika adiknya, Siti Zalfaa Zhafirah putrinya yang nomor dua, juga ingin jadi dokter. “Duh, saya dan istri puyeng karena tidak ada persiapan. Uang sudah habis, sementara kalau daftar ke kedokteran saat itu harus ada uang Rp. 70 juta,” ungkapnya seraya menyebutkan, kalau pun daftar dan diterima hanya ada sisa waktu tiga bulan untuk mengumpulkan uang sebanyak itu.

Ketika disampaikan ke sang anak untuk memilih ke fakultas lain, ternyata anaknya marah dan diam seribu bahasa. Ia mengeram diri di kamar. “Ternyata, diamnya anak saya itu positif juga. Ia banyak membaca buku di kamarnya,” katanya.

Akhirnya, Usep dan istrinya mengalah. Bismillah, akhirnya semua aset yang masih berharga dijual, dan terkumpul Rp. 7 kita. “Waduh, masih jauh, baru 10 persennya,” ucapnya.

Usep pun akhirnya mencoba bicara ke pimpinan di pabriknya. Ternyata suport pimpinannya itu. “Saat itu saya mendapat uang gaji Rp. 5 juta, THR Rp. 5 juta dan pimpinan saya membantu Rp. 10 juta. Terkumpul Rp. 20 juta, dan dengan uang yang ada di rumah jadi Rp 27 juta. Duh, masih belum 50 persennya,” kata pria yang tahun 2021 lalu dipercaya menjadi Ketua Pimpinan Cabang Federasi Serikat Pekerja Kimia, Energi dan Pertambangan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC FSP KEP SPSI) Kabupaten Bandung ini.

Pulang ke rumah, setelah hanya didapat uang sebesar itu, Usep dan istrinya hampir setiap hari mengumpulkan sedikit-sedikit barang berharga. “Ternyata masih ada pecahan-pecahan perhiasan yang nyaris bubuk. Itu dikumpul-kumpul, kemudian saya panggil pedagang kamasan keliling. Alhamdulillah, makin mendekati nilai uang yang dibutuhkan, dan saat batas waktu pembayaran akhirnya cukup,” katanya.

Baca Juga :  KHUTBAH JUMAT: Puasa, Proses Perubahan ke Arah Lebih Baik

Usep menyebutkan, anak yang keduanya itu sekarang sudah semester 5, dan ingin segera menyelesaikan kuliah kedokterannya. “Insya Allah, tidak lama lagi anak saya yang kedua beres, dan mudah-mudahan bisa lancar sampai diwisuda,” ungkapnya.

Anak ketiganya, Putri Haysfaa Hajimah, masih kelas 4 SD, masih ada cukup waktu kalau ingin menyusul seperti kedua kakaknya. Usep berharap, kedua kakaknya nanti, sudah bisa membantu kalau si bungsu ini ingin juga menyusul seperti kedua kakaknya itu.@m. purnama alam

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Jelang Ramadan, Ustadz Muhammad, "Tarawih itu sunnah dan bertengkar itu haram"

Kam Mar 16 , 2023
Silahkan bagikanVISI.NEWS | SIDOARJO – BMH Gerai Sidoarjo sinergi dengan Kanwil DJP Jatim 2 menggelar Tarhib Ramadhan 1444H dengan mendatangkan salah satu da’i BMH  Tripoli, Lybia, Ustdz Muhammad Sholah Ulayya di masjid Sholahuddin Kanwil Pajak, Rabu (16/3/2023). Antusias jama’ah yang ikut puluhan pegawai pajak Kanwil DJP Jatim 2. Konteks Ramadan […]