VISI.NEWS| JAKARTA – Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar) hampir dua pekan lalu terus meninggalkan luka mendalam. Jumlah korban jiwa kini mendekati 1.000 orang, sementara hampir 1 juta warga terpaksa mengungsi akibat rumah dan infrastruktur yang rusak parah.
Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Kamis (12/12) menunjukkan 971 orang tewas, dengan Aceh menjadi provinsi terdampak terparah, 391 jiwa. Sumut melaporkan 340 korban tewas, dan Sumbar 240 korban. Selain itu, sekitar 5.000 warga mengalami luka-luka, sementara 255 orang masih hilang.
Kerusakan infrastruktur begitu masif. BNPB mencatat 157.900 rumah rusak di 52 kabupaten terdampak, 1.200 fasilitas umum hancur, 219 fasilitas kesehatan rusak, 581 sekolah terdampak, serta 498 jembatan putus. Pemulihan akses jalan menjadi prioritas utama, terutama di wilayah terpencil.
Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) memperpanjang status tanggap darurat selama 14 hari hingga 25 Desember 2025. “Kita sudah survei ke lapangan, kita butuh perpanjangan selama dua minggu lagi untuk rehabilitasi dan infrastruktur. Ini prioritas agar warga bisa kembali normal,” ujar Mualem di Meuligoe Gubernur Aceh, Rabu (10/12) malam.
Mualem menambahkan, beberapa wilayah masih terisolasi akibat jalan terputus dan pasokan logistik yang terbatas. “BBM kurang di sana, tapi kita kebut untuk buka akses. Kita harap bantuan segera sampai ke masyarakat,” katanya.
Di Sumut, pemerintah juga memperpanjang status tanggap darurat banjir dan longsor hingga 23 Desember 2025. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut, Rudi Hartono, menekankan perlunya koordinasi lintas kabupaten. “Beberapa kabupaten masih sulit dijangkau. Tim evakuasi dan logistik harus bergerak cepat agar korban dan pengungsi tidak kekurangan kebutuhan dasar,” ujarnya.
Sementara di Sumbar, proses identifikasi korban terus berlangsung. Rabu siang (10/12), 24 jenazah dimakamkan secara massal di TPU Bungus, Teluk Kabung, Padang, karena tidak ada kecocokan DNA. “Pemakaman dilakukan dalam satu liang kubur. Jadi 24 peti jenazah itu dimasukkan dalam satu liang,” jelas Sekda Sumbar Arry Yuswandi.
Di tengah situasi ini, warga yang selamat menyuarakan kekhawatirannya. Siti Aminah, seorang pengungsi di Aceh Tengah, mengatakan, “Kami kehilangan rumah dan sawah. Anak-anak saya masih trauma. Bantuan datang, tapi kami butuh kepastian tempat tinggal sementara.”
Sementara relawan PMI menyatakan tantangan berat di lapangan. “Distribusi logistik sulit karena banyak jalan putus. Kami terus berupaya agar air bersih dan obat-obatan sampai ke pengungsi,” kata Kepala Relawan PMI Aceh, Andi Pratama.
Pengungsi kini mencapai 902.545 jiwa, hidup di tenda darurat, balai desa, dan fasilitas publik. Upaya evakuasi, pencarian korban hilang, dan pemulihan infrastruktur terus berjalan, dengan harapan kehidupan warga bisa kembali normal dalam beberapa minggu mendatang.@fajar











