VISI.NEWS | JAKARTA – Menteri-menteri ekonomi di kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto diharapkan tidak kehilangan inner logic dan konsistensi yang dipercaya pasar di tengah bergejolaknya situasi geopolitik. Pasalnya,jika terjadi defisit kepercayaan dari pasar yang sangat parah kebijakan apapun dinilai tidak kredibel dan membuat ekonomi berantakan.
Demikian hal itu disampaikan Politikus PDI Perjuangan (PDIP), Hendrawan Supratikno, menanggapi langkah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 agar tetap di bawah 3 persen. Purbaya sendiri memproyeksikan defisit APBN akan berada di 2,9 persen di tengah lonjakan harga energi dunia.
“Jangan sampai kehilangan ‘inner logic’, kehilangan konsistensi yang dipercaya pasar. Jika terjadi defisit kepercayaan yang parah, kebijakan apa pun dinilai tidak kredibel, ekonomi akan berantakan,” pesan Hendrawan kepada awak media, Senin (6/4/2026).
Lebih lanjut, Hendrawan mengingatkan, agar tim ekonomi kabinet merah putih juga dapat menyebarkan optimisme yang terukur dan realistis di tengah situasi geopolitik saat ini. Hendrawan menyebut, bahwa optimisme yang tanpa dasar justru bersifat korosif dan menggerogoti kepercayaan pasar.
“Optimisme yang terukur dan realistis. Optimisme yang tanpa dasar justru bersifat korosif, menggerogoti kepercayaan pasar,” jelas Hendrawan.
Tak hanya itu, Hendrawan menanggapi, langkah Menteri Keuangan Purbaya yang telah melakukan stress test (uji ketahanan), dan melihat defisit APBN masih di bawah 3% PDB jika harga minyak melejit sampai USD 120/barrel.
Hendrawan mengakui memang kenaikan harga minyak bersifat temporer. Hal ini lantaran prospek damai muncul kecenderungan memang harga minyak turun lagi.
“Tapi jika harga bertengger lebih dari 3 bulan, resiko pelebaran defisit masuk zona berbahaya,” imbuh Hendrawan.
Tak hanya itu, Hendrawan mengingatkan, beban kepada APBN biasanya tidak hanya dipengaruhi harga minyak atau besaran subsidi energi tapi juga kepada beban utang.
“Jika kurs melemah, beban tersebut semakin menghimpit. Mei-Juni merupakan bulan-bulan yang mengkhawatirkan,” pungkasnya. @givary