HIDAYAH: Kisah Seorang Mualaf Prancis yang Tersentuh Alquran (2/habis)

Editor Ilustrasi/via republika.co.id/ist.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Suatu hari, temannya itu bercerita tentang salat lima waktu. Maryam terkejut mengetahui bahwa dia beribadah kepada Tuhannya lima kali sehari.

Sebab, sebelumnya ia hanya mengetahui bagaimana beribadah seperti orang Kristen. Karena ingin melihat temannya beribadah, mereka pun mengizinkan Maryam untuk mengamatinya.

“Mengamati dia membungkuk kepada Tuhan dengan cara yang begitu indah menanamkan benih Islam di hati saya,” ujarnya.

Maryam kemudian bertanya apakah ia boleh bergabung dengannya dalam salat. Tanpa memintanya harus menjadi muslim lebih dahulu, mereka mengajaknya untuk bergabung dalam salat dengan mereka.

Bersama teman muslimah dan ibunya itu, ia beribadah di ruang tamu di apartemen mereka. Saat itu, Maryam berusia 16 tahun.

Meskipun belum resmi masuk Islam pada saat itu, namun menjalankan gerakan salat telah menjadi kebiasaannya. Namun, ia masih menyembunyikannya dari keluarganya karena ia khawatir mereka tidak akan menyetujuinya.

Teman muslimahnya dan ibunya itu pun tidak pernah mendorongnya untuk menjadi seorang muslim.

Setelah ia menyelesaikan sekolah menengah, ia pindah ke Paris untuk menempuh studi di universitas. Masa di universitas itulah menjadi langkah besar dan perubahan dalam hidupnya.

Ia memilih untuk belajar sejarah dan bahasa Arab karena ia ingin belajar bahasa dalam bacaan Alquran yang indah. Ketertarikannya pada Islam pun tumbuh, dan ia mulai membaca lebih banyak tentang agama Islam. Ia juga melanjutkan kebiasaannya mengikuti gerakan salat.

“Semakin banyak saya belajar tentang Islam, semakin saya merasakan keinginan yang tumbuh di hati saya untuk menjadi muslim. Kira-kira 10 tahun setelah saya pertama kali mendengar ibu Maryam membaca Alquran, saya memeluk Islam. Itu hampir 15 tahun yang lalu,” ungkapnya.

Baca Juga :  Eko Yuli Sumbang Medali Perak untuk Indonesia di Olimpiade Tokyo

Butuh waktu yang lama sebelum akhirnya Maryam memberi tahu keluarganya bahwa ia telah menerima Islam sebagai agamanya. Ketika ia akhirnya memberi tahu keluarganya, mereka terkejut.

Sayangnya, keputusannya menjadi mualaf itu membuat hubungannya dengan keluarganya tegang. Selama beberapa tahun, ia berupaya keras untuk tetap berhubungan dengan mereka karena mereka tidak ingin melihatnya.

“Alhamdulillah, dengan kesabaran, niat baik, dan pertolongan Tuhan, saya dapat meyakinkan mereka bahwa saya tidak menjadi teroris dan bahwa saya masih anggota yang baik dalam masyarakat Prancis kami,” katanya.

Mualaf ini kini bekerja dengan pemerintah Prancis. Meskipun ia tidak bisa memakai kerudungnya di tempat kerja, ia memakainya selama waktu luang.

Setelah dipromosikan beberapa kali, ia kini memiliki kantor sendiri di mana ia dapat beribadah. Sebelumnya, sulit baginya untuk menunaikan salat lima waktu, dan berkali-kali ia harus menggantinya saat pulang kerja.

“Tetapi saya mengalami bahwa Tuhan membuka pintu jika kita gigih dan memiliki niat yang benar,” tambahnya.
@fen/sumber: republika.co.id

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

TAUSIAH: Memaknai Kehidupan yang Fana dengan Gaya Hidup Islami (2)

Rab Feb 3 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Jika dua hal tersebut terpenuhi dalam setiap perjalanan hidup manusia, jelas akan membuat manusia merasakan ketenteraman lahir dan batin. Hanya saja, untuk mewujudkan kedua hal tersebut memang bukanlah sesuatu yang mudah. Setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda ketika memahami hakikat keduanya, perbedaan inilah yang mendasari munculnya bermacam […]