HIDAYAH: Putuskan Bersyahadat karena Islam Masuk Akal (2/Habis)

Editor :
Jessica Carla, merasakan keharuan saat membaca ikrar syahadat./dok. istimewa/via republika.co.id

Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Sejak itu, Jessica menjadi semakin giat dan bersemangat mendalami Islam. Sampai pada suatu siang, entah bagaimana, ia mengaku tiba-tiba merasakan tekad yang begitu besar dalam hatinya untuk segera memeluk Islam. 

“Namun jujur, saya takut bagaimana menghadapi keluarga saya. Waktu itu, saya belum terbuka pada mereka tentang banyak hal dalam hidup saya, termasuk sedang belajar Islam ini,” katanya. 

Karena tidak tahu harus berbuat apa, ia pun menelepon Ustaz Nababan. Jessica masih ingat betul satu kalimat yang keluar dari lisan dai tersebut, Tidak semua orang mendapatkan hidayah. Hidayah bisa dicabut kapan saja sesuai kehendak Allah.

Bersyahadat

Ustaz Nababan mengusulkan kepadanya untuk mengikrarkan syahadat pada saat acara peletakkan batu pertama pembangunan Asrama Mualaf Puteri Annaba Center.

Hingga saat itu, Jessica disarankan untuk terus membaca buku-buku tentang Islam, termasuk kisah Rasulullah saw. dan para sahabat. Ia ingat, kisah tentang Sumayyah binti Khayyat sungguh menggugah hatinya.

Malamnya, dengan keyakinan bulat Jessica mengonfirmasi kepada Sang Ustaz bahwa dirinya siap bersyahadat. Prosesi itu dilakukan pada 24 Desember 2014 di area yang sekarang menjadi Pesantren Pembinaan Mualaf Puteri Yayasan Annaba Center.

“Saya menangis, antara bahagia, grogi karena jelas hadirinnya (jemaah yang menyaksikan, red) ada lebih dari 100 orang. Kemudian, kepikiran juga, takut menghadapi keluarga saya,” kata Jessica mengingat kembali momen penting dalam hidupnya itu.

Saat ditanya mengapa memilih Islam, ia mengaku, dalam agama ini semuanya serba masuk akal. Selain itu, akidah dan prinsip keyakinan Islam juga begitu sederhana, menganut prinsip tauhid sejak Nabi Adam a.s. hingga Nabi Muhammad saw. 

“Tidak hanya itu, kaidah ibadah Islam juga tidak memberatkan umatnya. Awalnya, saya sempat kaget. Loh, zakat cuma 2,5 persen?” katanya. 

Baca Juga :  Inilah Daftar Pemenang "Pegawai Berkinerja Terbaik Edisi Juli 2020"

Setelah melakukan syahadat, ia langsung melakukan salat perdana. Masih jelas dalam ingatannya, salat zuhur itu dilakukan secara terbata-bata. Sesekali, dirinya melakukan gerakan salat sembari membaca buku panduan agar bisa melafalkan bacaan berbahasa Arab. 

Ia mengaku sangat bersyukur ke hadirat Ilahi. Tak sedikit kawan-kawan muslimah yang membimbingnya agar semakin baik dalam ibadah. Beberapa dari mereka sampai-sampai memberikan koreksi, misalnya, terkait gerakan salat yang benar, bacaan Alquran, dan lain-lainnya. 

Saat ini, Jessica mulai mendisiplinkan dirinya. Tidak hanya salat wajib lima waktu, tetapi juga beberapa amalan sunah, seperti salat rawatib dan duha. Begitu pula dengan salat istikharah dan tahajud. Semua itu dilakukannya meskipun belum sampai pada taraf rutin setiap hari. 

“Alhamdulillah lagi, saya diberi kesempatan untuk menjalankan ibadah umrah pada 2017. Di Tanah Suci, saya banyak mendapatkan pengalaman luar biasa sebagai refleksi diri. Keharuan dan kedamaian di hati saat saya melihat Kakbah untuk pertama kalinya dengan mata kepala saya sendiri,” katanya mengisahkan. 

Pada 2016, Jessica menikah dengan seorang muslim yang dicintainya. Islam mengajarkan, dalam berumah tangga suami-lah yang berperan sebagai pemimpin sekaligus pembimbing bagi istri dan anak-anak. 

Jessica melihat sang suami betul-betul menghayati perintah agama ini. Yang membuatnya semakin suka cita, pasangan hidupnya itu cenderung mengayomi, alih-alih memaksa apalagi mendoktrin dirinya. 

“Keluarga suami juga cukup memberikan dukungan. Selain ibu mertua, keluarga besar suami saya juga mengelola pondok pesantren di Pabelan, Jawa Tengah,” katanya. @fen/sumber: republika.co.id 

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

TAUSIAH: Jangan Pernah Bangga dengan Maksiat, Ini Ganjarannya Kelak

Sel Nov 10 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Ada saja orang yang secara terang-terangan mengumbar perbuatan dosanya kepada orang lain dengan perasaan bangga. Tidak jarang mereka mengakuinya dan berbangga diri dengan ditunjukkan di berbagai platform media baik televisi hingga media sosial. Padahal perbuatan ini merupakan salah satu yang dibenci Allah SWT. Orang-orang yang berbangga diri […]