Oleh Dina Novian
MINGGU-minggu pertama tinggal di sini menjadi waktu untuk beradaptasi dan membiasakan diri untuk melakukan apa pun sendirian.
Tanpa keluarga, tanpa teman, dan harus berbicara bahasa Jerman atau bahasa Inggris. Ketika saya tidak mengerti, saya akan meminta lawan bicara menggunakan bahasa Inggris.
Meskipun bahasa Inggris saya juga tidak terlalu bagus, tapi saya bisa berkomunikasi menggunakan bahasa tersebut. Setiap keluar rumah, saya selalu menggunakan jaket sehingga cara berpakaian saya tidak menarik perhatian.
Saya benar-benar khawatir, namun ternyata kekhawatiran saya tidak terjadi. Orang-orang di kota tempat saya tinggal ramah dan jumlah Muslim di sini juga lumayan banyak.
Saya mencoba keluar rumah, ke pusat kota tanpa menggunakan jaket. Saya menggunakan rok hitam, blouse, dan jilbab yang panjangnya hampir menutup tangan.
Respons yang saya terima tidak ada! Jangankan berkata jelek, melihat saya dengan aneh pun tidak.
Mereka cuek, dan itu membuat saya senang.
Sejak saat itu saya merasa lebih percaya diri. Tantangan berikutnya yaitu mendapat teman.
Saya memang orang yang tidak menyukai keramaian, tapi bukan berarti saya tidak butuh teman.
Apalagi ini petama kalinya saya merasa menjadi orang yang benar-benar asing. Wajar saja, saya tinggal di negara yang sangat jauh dari rumah.
Meskipun sejak tahun 2013, saya sudah merantau untuk kuliah dan bekerja setelahnya, tapi Indonesia tetaplah rumah bagi saya.
Di kota mana pun saya tinggal, selama itu masih di Indonesia, saya tetaplah di rumah. Saat saya datang ke Volkshochschule untuk mendaftar kursus Bahasa Jerman, saya melihat dan mengambil sebuah brosur yang berisi informasi tentang Sprachcafe.
Lokasi Sprachcafe pun tidak terlalu jauh dari rumah sehingga saya ingin mencoba datang ke sana. (bersambung) @fen/deutsche welle