HIKMAH: Makna Sesuai Persangkaan Hamba kepada Allah

Editor Ilustrasi lafaz Allah./via sindonews/ist.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Nabi Muhammad ﷺ mengabarkan bahwa Allah berfirman, “Aku sesuai persangkaan baik hamba-Ku. Maka hendaklah ia berprasangka kepada-Ku sebagaimana yang ia mau.” (HR Ahmad).

Apa makna dari hadis tersebut? Mengutip Republika.co.id dari buku Ad-Daa wad Dawaa karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, maksudnya, Allah akan berbuat kepada hamba-Nya sesuai dengan persangkaannya. 

Tidak diragukan bahwa persangkaan yang baik berkaitan dengan perbuatan yang baik pula. Orang yang berbuat kebaikan akan berbaik sangka kepada Rabbnya, yaitu Dia akan membalas perbuatan baik itu, tidak mengingkari janji-Nya, serta akan menerima taubatnya. 

Adapun orang yang melakukan keburukan dan terus-menerus berbuat dosa besar, kezaliman, dan penyimpangan terhadap syariat, maka kegelisahan serta ketakutan yang timbul dari kemaksiatan, kezaliman, juga perkara yang haram akan menghalangi pelakunya untuk berprasangka baik kepada Rabbnya. 

Ini bisa disaksikan dalam realita sehari-hari. Budak yang melarikan diri, memiliki perilaku yang buruk, dan tidak taat kepada majikannya tentu tidak akan berbaik sangka kepada majikannya. 

Kegelisahan dan ketakutan yang timbul akibat perilaku buruk tidak akan pernah berkumpul dengan persangkaan baik, selama-lamanya. Orang yang melakukan perbuatan buruk akan merasakan ketakutan dan kegelisahan yang setara dengan perbuatan buruknya.

Sungguh, orang yang paling berbaik sangka kepada Rabbnya adalah orang yang paling taat kepada-Nya. 

Al-Hasan al-Bashri berkata: “Sesungguhnya mukmin itu berbaik sangka kepada Rabbnya sehingga ia pun melakukan amalan yang baik. Sebaliknya, sesungguhnya orang yang durhaka itu bersikap buruk sangka kepada Rabbnya sehingga ia pun melakukan amalan yang buruk.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam az-Zuhd).

Bagaimana mungkin seseorang akan berbaik sangka kepada Rabbnya jika ia lari dari-Nya, berpindah-pindah dari satu kemurkaan Allah kepada kemurkaan-Nya yang lain, menjerumuskan dirinya ke dalam laknat-Nya, merendahkan dan menyia-nyiakan hak dan perintah-Nya, serta meremehkan larangan-Nya sehingga mengerjakan dan terus-menerus melakukannya? 

Baca Juga :  SEHAT: Efek Samping Paracetamol pada Tubuh

Bagaimana mungkin seseorang berbaik sangka kepada Rabbnya jika ia menantang untuk memerangi-Nya, memusuhi para wali-Nya, menolong musuh-musuh-Nya, mengingkari sifat kesempurnaan-Nya, berburuk sangka tentang sifat yang Dia tetapkan bagi-Nya dan yang ditetapkan oleh Rasul-Nya, serta menyangka dengan kebodohannya bahwa penetapan sifat-sifat-Nya merupakan kesesatan dan kekufuran?

Bagaimana mungkin seseorang berprasangka baik terhadap Zat yang disangkanya tidak berbicara, tidak memberi perintah, tidak melarang, tidak rida, dan tidak murka? 

Sungguh, Allah berfirman mengenai orang yang ragu terhadap keterkaitan pendengaran-Nya dengan hal-hal yang bersifat parsial. Inilah rahasia dari firman-Nya: 

وَذَٰلِكُمْ ظَنُّكُمُ ٱلَّذِى ظَنَنتُم بِرَبِّكُمْ أَرْدَىٰكُمْ فَأَصْبَحْتُم مِّنَ ٱلْخَٰسِرِينَ‎

“Dan itulah dugaanmu yang telah kamu sangkakan terhadap Rabbmu (dugaan itu) telah membinasakan kamu, sehingga jadilah kamu termasuk orang yang rugi” (QS Fushshilat ayat 23) 

Orang-orang itu menyangka Allah tidak mengetahui sebagian besar perbuatan mereka. Ini merupakan persangkaan buruk mereka kepada Allah. Persangkaan ini pulalah yang kemudian membinasakan mereka.

Begitulah kondisi setiap orang yang menentang sifat-sifat kesempurnaan dan karakteristik kemuliaan-Nya, serta menyifati-Nya dengan hal-hal yang tidak pantas bagi-Nya. Jika ia menyangka bahwa Allah akan memasukkannya ke surga, berarti dirinya benar-benar telah tertipu, teperdaya, dan dikuasai syetan, bukan karena baik sangkanya kepada Allah Subhanahu wa Taala.

Perhatikan baik-baik dan renungkan betapa pentingnya hal ini! Bagaimana mungkin di dalam hati seorang hamba berkumpul keyakinan bahwasanya ia akan bertemu Allah, Dia mendengar perkataannya, melihat di mana dia berada, mengetahui apa yang tampak dan tersembunyi pada dirinya, tidak satu pun rahasianya yang tersembunyi dari-Nya, dan dia akan berdiri di hadapan-Nya, serta ia akan diminti pertangeungjawaban atas semua perbuatannya, sementara itu ia justru melakukan hal-hal yang membuat-Nya murka, mengacuhkan perintah-perintah-Nya, dan mengabaikan hak-hak-Nya.

Baca Juga :  Bus Madrid Dirusak Suporter Liverpool, Insiden yang Terulang

Meskipun demikian, ia menganggap diri masih tetap berbaik sangka kepada-Nya. Bukankah semua ini bersumber dari jiwa yang tertipu dan angan-angan kosong belaka?
@fen

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

640 Mahasiswa Baru FST UIN SGD Bandung Ikuti PBAK

Kam Sep 2 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Sebanyak 640 mahasiswa baru Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Sunan Gunung Djati Bandung mengikuti Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) di masa pandemi Covid-19 bertajuk Harmoni Keberagaman dan Kebangsaan Menuju Indonesia Emas yang dilakukan secara virtual melalui aplikasi zoom meeting dan disiarkan langsung YouTube, Selasa (31/8/2021). […]