HIKMAH: Manfaat Qiyamullail bagi Kesehatan Tubuh (3/Habis)

Editor ilustrasi./via sindonews/ist.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS –

2. Imaam Maliki (93 H – 179 H)

Imam Malik bin Anas rahimahullah sebagai Imam di Madinah, salat malamnya juga sangat menakjubkan.

Asyab bin Abdul Aziz pernah menceritakan: “Aku pernah keluar pada suatu malam ketika orang-orang telah tertidur. Aku melewati rumah Malik bin Ana. Dia tidak tidur dan mengerjakan salat, setelah membaca surah Al-Fatihah ia membaca surah At-Takatsur, dan ketika sampai pada ayat terakhir, “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan tentang dunia itu).” (Q.S. At-Takatsur : 8) ia menangis lama sekali.

Ia ulangi lagi surat tersebut dan menangis lagi. Lamanya tangis Malik bin Anas yang aku dengar membuat aku lupa pada kebutuhan yang aku tuju. Ketika fajar telah tampak ia baru rukuk. Aku pun pergi meninggalkan dia dan pulang ke rumah, lalu aku mengambil air wudu dan pergi ke masjid. Tiba-tiba Malik sudah berada di tempat duduknya di masjid bersama orang-orang lainya. Pada waktu pagi aku melihat wajahnya bersinar.”

3.Imaam Syafi’i (150 H-204 H)

Imam asy-Syafi’i rahimahullah tetap tekun mengerjakan qiyamullail walaupun sibuk menuntut ilmu.

Menurut ar-Rabi’ bin Sulaiman, salah seorang muridnya, al-Imam Syafi’i membagi malamya menjadi tiga: yang pertama untuk menulis, yang kedua untuk salat, dan yang ketiga untuk tidur.

Husain al-Karabisyi pernah mengatakan, “Aku pernah bermalam dengan asy-Syafi’i. Ia mengerjakan salat kira-kira sepertiga malam. Ketika melewati ayat rahmat ia selalu memohon kepada Allah Subhanahu wa Taala dan memohon untuk dirinya dan orang-orang mukmin. Ketika melewati ayat ia selalu memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Taala dan memohon keselamatan untuk dirinya sendiri dan untuk orang-orang mukmin. Seolah-olah malam itu terisi penuh dengan harapan akan rahmat dan takut akan siksa secara bersama-sama.”

Baca Juga :  Miftahul Aziz: Sertifikasi untuk Bebaskan Perguruan Tinggi dari Tuduhan Lulusannya Tidak Kompeten

4. Imam Hambali (164 H-248 H)

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, terkenal sebagai imam ahli hadis, qiyamullailnya juga luar biasa.

Ibrahim bin Syammasy al-Abid pernah mengatakan: “Aku melihat Ahmad bin Hambal rahimahullah selalu menghidupkan malamnya semenjak ia masih kecil.

Abdullah, putra Imam Ahmad pernah mengatakan: “Setiap malam ayahku hampir membaca sepertujuh Al Quran dan menghatamkan Al Quran setiap tujuh kali. Menghatamkan Al Quran setiap tujuh hari sekali itu selain yang ia lakukan ketika shalat di siang hari.

Ketika selesai mengerjakan salat Isya ia tidur sebentar kemudian bangun dan tidak tidur sebentar kemudian bangun dan tidak tidur sampai pagi untuk mengerjakan salat dan berdoa.”

Abubakar Al-Marudzi pernah mengatakan, “Aku pernah bersama dengan Imam Ahmad rahimahullah dalam satu pasukan, kira-kira selama empat bulan. Ia tidak pernah meninggalkan qiyamullail dan membaca Al Quran pada siang hari. Aku tidak pernah mengetahui kapan dia mengkhatamkan Al-Quran. Ia selalu menyembunyikannya.”

Menurut Ibrahim bin Hani, Imam Ahmad rahimahullah selalu mengerjakan salat sunat bakda isya beberapa rakaat, kemudian tidur sebentar lalu bangun mengambil air wudu dan terus-menerus mengerjakan salat sampai fajar terbit, lalu salat witir.

Ini kebiasaan al-Imam ketika bersama denganku. Ia tidak pernah meninggalkan satu malam pun, dan aku tidak kuat melakukan ibadah seperti dia.” Wallahu A’lam.
@fen/sumber: sindonews

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Wacana MUI Sebagai Mufti Mengemuka di Konferensi Fatwa

Kam Jul 29 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Indonesia tidak memiliki mufti, orang yang diberi wewenang untuk menghasilkan fatwa dengan cara ijtihad, maka posisi fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dapat menjadi pertimbangan bagi Mahkamah Agung (MA) dalam memutuskan suatu keputusan.  Gagasan ini muncul dalam Annual Conference on Fatwa Studies Komisi Fatwa MUI yang digelar secara […]