IKN, Antara Harapan dan Kenyataan

Editor Titik Nol IKN banyak dikunjungi masyarakat./visi.news/Mohammad hasyim
Silahkan bagikan

Proyek fenomenal pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) yang dirintis Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengundang banyak kontroversi. Meski demikian, pembangunannya terus berjalan hingga sekarang. Bagaimana kondisi terkini proyek mercusuar tersebut? Berikut catatan dari Mohammad Hasyim, dari VISI.NEWS yang pertengahan April 2022 mengunjungi lokasi tersebut.

INDAH. Kata ini sepertinya sangat pas untuk menggambarkan panorama alam di Ibu Kota Negara (IKN) “Nusantara” di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Bagaimana tidak, kawasan bakal pusat pemerintahan ini terletak di tengah perkebunan yang hijau dengan udara yang sangat bersih.

Jika kelak Istana Presiden RI atau Gedung DPR/MPR/DPD RI sudah berdiri di dataran tinggi yang tempo hari dijadikan tempat berkemah Presiden Jokowi dan para Menterinya itu, betapa mempesonanya pemandangan dari luar jendela, yakni hamparan lautan hijau tanaman industri yang membentang bak permadani raksasa dengan langit yang berwarna biru terang. Indah bak lukisan.

Bisa dipastikan, siapapun yang menyaksikan pemandangan seperti itu akan betah berlama-lama menikmatinya. Tak kecuali saya yang pada pertengahan April 2022 lalu berkesempatan untuk mengunjungi kawasan IKN dan menikmati kesegaran serta keindahan alamnya.

Untuk menuju kawasan IKN di wilayah perkebunan Hutan Tanaman Industri (HTI) itu hanya bisa diakses melalui Kota Balikpapan atau Kota Samarinda. Baik melalui Balikpapan atau Samarinda, jalan menuju ke IKN harus melalui Tol Balsam (Balikpapan-Samarinda) kemudian keluar di gerbang tol Samboja yang dekat dengan Bukit Soeharto.

Proyek pembangunan IKN “Nusantara” di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) sedang dikebut. /visi.news/mohammad hasyim

 

  

 

 

 

 

 

Selepas dari jalan tol, jalan menuju IKN benar-benar mendebarkan. Melintasi berbagai perbukitan, kontur jalan yang merupakan satu-satunya akses menuju IKN ini penuh dengan tanjakan dan turunan yang ekstrem, serta kelokan yang sangat tajam. Jika Anda pernah melintasi jalur Alas Roban di Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah, mungkin tidak akan sulit untuk membayangkannya.

Melewati jalan berkelok-kelok dengan kontur jalan yang ekstrem sama sekali tidak mencerminkan akses menuju Ibukota, yang lazimnya jalan mendatar, lebar dan lurus plus aspal yang licin. Kalau ini kebalikannya: jalan berkelok, sempit dan sebagian tidak rata. Sampai-sampai ada teman yang berseloroh apabila ada tamu negara yang datang ke IKN pasti akan kapok untuk balik lagi.

Baca Juga :  Aksi Gerak Cepat Personel Polsek Rancaekek Bantu Seorang Ibu yang Hendak Melahirkan

Bukan hanya itu, akses jalan menuju kawasan IKN juga masih harus melewati sejumlah kawasan hutan yang lebat dengan jejeran pohon besar dan rindang, yang tentu saja sulit dipastikan keamanannya. Di beberapa kawasan hutan bahkan masih banyak sekawanan kera yang menampakkan diri di pinggir jalan sambil mencari makanan.

Setelah melewati jalan yang ekstrem dan memompa adrenalin selama sekitar satu jam, maka akan sampai ke wilayah Kecamatan Sepaku, Kabupaten PPU, yang bisa dikatakan lebih mirip kawasan transmigran. Rumah-rumah penduduk di Kecamatan Sepaku ini masih jarang dan beratapkan seng.

Dari jalur utama Balikpapan-PPU, perjalanan menuju IKN akan dilanjutkan melalui jalan tanah dan bebatuan tetapi cukup lebar. Di depan pintu gerbang menuju IKN akan ada sejumlah petugas TNI dan Polri yang berjaga dan menanyakan apa keperluannya masuk ke kawasan IKN. Sepanjang menyebutkan apa keperluan dan jumlah rombongannya secara jujur maka petugas akan memberikan jalan.

Dari gerbang masuk kawasan IKN ini masih ada jarak sekitar satu kilometer untuk menuju Titik Nol. Kawasan Titik Nol berada di dataran rendah, yang hanya bisa diakses melalui puluhan anak tangga untuk menuju lokasi tempat prosesi pencampuran tanah dan air dari 34 provinsi, yang waktu itu dipimpin oleh Presiden Joko Widodo. Ada juga puluhan jenis tanaman yang ditanam oleh para gubernur di Indonesia.

Saat ini kawasan Titik Nol lebih mirip sebagai lokasi wisata dadakan. Banyak warga dari berbagai daerah di Kalimantan yang datang ke Titik Nol hanya untuk mengetahui di mana Jokowi dan para Menterinya itu hadir meresmikan bakal kawasan IKN ini, sembari tentunya foto-foto atau selfie. Jadi kebanggaan juga katanya pernah singgah dan mengabadikan gambar di lokasi yang akan bersejarah ini.

Baca Juga :  Polres Kendal Gelar Apel Farewell Serah Terima Jabatan Kapolres

“Saya dari Balikpapan jam 10 dan baru nyampe sini jam 12.30, lumayan bisa ketemu dengan tempatnya Pak Jokowi meresmikan Titik Nol ini sekalian juga kami bisa bisa foto-foto,” kata seorang ibu yang mengaku sengaja membawa keluarga besarnya untuk berwisata ke IKN.

Titik Nol IKN banyak dikunjungi masyarakat layaknya lokasi wisata. /visi.news/mohammad hasyim

 

  

Dari Titik Nol, kebanyakan pengunjung yang penasaran ingin melanjutkan perjalanan menuju kawasan perkemahan tempat Jokowi dan para Menteri bermalan dengan tenda alias camping. Jaraknya sekitar dua kilometer dari Titik Nol dan berada di dataran tinggi. Kawasan puncak inilah disebut sebagai bakal Kawasan Inti/Pusat Pemerintahan.

Di tempat ini masih ada beberapa sisa pembangunan kemah Jokowi, seperti kayu yang menjadi alas tenda, baik Tenda 1 sebagai tempat menginap Jokowi maupun tenda-tenda lainnya tempat tenda untuk para Menteri. Masih berdiri juga kamar mandi sederhana yang terbuat dari kayu yang digunakan Jokowi dan para Menteri saat ke kamar kecil.

Kawasan perkemahan tempat Jokowi dan para Menteri bermalan dengan tenda. /visi.news/mohammad hasyim

 

 

Memang menyusul pemberitaan yang cukup masif mengenai peresmian IKN oleh Presiden Jokowi pada 14 Maret 2021, banyak warga yang tertarik untuk datang ke IKN ini, baik perorangan maupun rombongan. Dan petugas yang menjaga kawasan ini tidak membatasi warga yang datang, hanya ditanya apa tujuannya, dari daerah mana asalnya dan jumlahnya berapa orang. Itu saja. Setelah itu baru boleh masuk ke kawasan IKN.

Pembangunan IKN

Sekalipun pemandangannya indah, Kawasan IKN masihlah berupa semak belukar. Baru ada pembukaan lahan, dan spanduk bertuliskan “Kawasan Inti/ Pemerintah Pusat” serta Posko IKN yang dibangun atas nama Kodam VI/Mulawarman di dataran tinggi tempat Jokowi dan para Menterinya berkemah. Selain itu hanya ada beberapa truk yang sedang melakukan pengerasan lahan.
Artinya masih sangat jauh untuk IKN ini berdiri dan menjadi pusat kendali Pemerintahan di Indonesia dengan luas total 270.000 hektare.

Baca Juga :  TIPS: Cara Antisipasi Mobil agar Tidak Gagal Nanjak (1)

Padahal Undang-undang No. 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara yang ditetapkan tanggal 15 Februari 2022 lalu dan Presiden Jokowi juga sudah menargetkan upacara kenegaraan pada tanggal 17 Agustus 2024 mendatang bisa diselenggarakan di IKN.

Itu berarti hanya tersisa waktu tidak lebih dari dua tahun untuk mengejar pembangunan di IKN. Agak musykil—untuk tidak mengatakan mustahil—bila kawasan ini benar-benar dapat berkembang hanya dalam waktu dua tahun dari perkebunan ecaliptus menjadi hutan beton layaknya Ibukota.

Maka tentu perlu kerja yang sangat keras dan dukungan dari semua pihak agar proses pembangunan IKN dapat dipercepat dalam waktu dua tahun. Tentu ini pekerjaan raksasa yang tidak bisa diwujudkan hanya dengan mengandalkan Otorita IKN saja melainkan juga sumbangsih dari segenap komponen bangsa.

Sebagai perbandingan saja, pemindahan Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) dari Kota Banjarmasin ke Kota Banjarbaru—yang jaraknya hanya sekitar 40 kilometer atau 1 jam perjalanan darat—itu sulitnya bukan main. Rencana itu sudah digaungkan sejak 2010 dan Gedung Perkantoran untuk Gubernur Kalsel juga sudah didirikan di Kota Banjarbaru tetapi pusat pemerintahan tetap saja lebih banyak dilakukan di Kota Banjarmasin.

Kendalanya apa? Kendalanya adalah pemindahan Ibukota Provinsi Kalsel itu bukan sekadar pemindahan fisik gedung perkantoran dari Banjarmasin ke Banjarbaru melainkan juga pemindahan pusat kegiatan atau aktivitas pemerintahan yang menyangkut dengan pemindahan SDM dan segenap infratrukturnya.

Pengalaman saya saat berkunjung ke Banjarmasin dan Banjarbaru pada pertengahan Maret 2022 lalu, mendapati keluhan dari sejumlah PNS di Perkantoran Gubernur Kalsel karena mereka menjadi jauh ke tempat kerja. Sekalipun disediakan bus angkutan karyawan dari Banjarmasin ke Banjarbaru, tetapi karena mayoritas domisilinya di Banjarmasin maka mereka enggan juga jika setiap hari harus bolak-balik kerja ke Banjarbaru.

Belum lagi pemindahan kantor-kantor dinas atau Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang jumlahnya banyak. Selain permasalahan dana yang tentu saja tidak sedikit, pemindahan ini juga harus dibarengi dengan kesiapan infrastruktur bagi aktivitas pemerintahan di Ibukota Kalsel.
Jangan sampai terulang lagi pengalaman saya waktu berkunjung ke Kantor Gubernur Kalsel di Kota Banjarbaru. Pada saat acara pertemuan dengan Gubernur Kalsel selesai menjelang waktu salat Jumat, ternyata belum ada Masjid Jami di kompleks perkantoran Gubernur tersebut. “Adanya masjid di luar kompleks perkantoran ini, Pak. Jauh,” kata seorang pegawai Kantor Gubernur Kalsel. Waduh!***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Masyarakat Bogor Terbantu, Kusnadi : Aplikasi Sapawarga Berjalan Efektif

Ming Apr 24 , 2022
Silahkan bagikanVISINEWS | BANDUNG – Bendahara Fraksi Golkar DPRD Jawa Barat (Jabar) Haji Kusnadi menilai bahwa aplikasi sapawarga atau program pemesanan minyak goreng bersubsidi yang digagas Pemerintah Provinsi (Pemprov) berjalan efektip. Hal tersebut dibuktikan degan banyaknya warga yang merespons positif kehadiran aplikasi tersebut, khususnya di Kabupaten Bogor, bahkan pemesanan minyak […]