VISI.NEWS | JAKARTA – Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengumumkan rencana untuk menghentikan impor sampah plastik dan memperketat kebijakan impor sampah kertas. Ia menegaskan bahwa Indonesia tak akan lagi berfungsi sebagai “tempat pembuangan” bagi negara-negara lain, yang saat ini mengimpor sampah untuk mendukung industri mereka. Hanif mengungkapkan bahwa Indonesia seharusnya bisa memenuhi kebutuhan bahan baku sampah plastik secara mandiri, sehingga diharapkan impor sampah bisa dihentikan pada tahun 2025.
“Mereka membakar kan mahal. Lebih baik dibuang ke Indonesia, lebih murah bayar orang Indonesia yang mau impor, ditimbun di negara kita. Kita akhiri lah,” tutur Hanif.
Indonesia menerima kiriman sampah plastik dari berbagai negara di Eropa dan Asia. Negara Belanda tercatat sebagai pengirim sampah plastik terbesar ke Indonesia dengan hampir 120 ribu ton pada tahun 2023, diikuti oleh Jerman dengan 38,8 ton. Negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Australia juga tercatat pernah mengirimkan sampah plastik. Total volume impor sampah plastik ke Indonesia pada 2023 mencapai lebih dari 252 ribu ton. Beberapa negara pengirim terbesar lainnya termasuk Belgia, Amerika Serikat, dan Slovenia.
Dikatakan bahwa negara-negara maju yang mengekspor sampah sebagian besar enggan untuk mengelola sampah mereka sendiri. Pengelolaan sampah membutuhkan biaya tinggi dan teknologi canggih untuk mendaur ulang, sehingga negara-negara ini memilih untuk mengekspor sampah ke negara berkembang seperti Indonesia, yang akan terbebas dari masalah limbah serta dampak kesehatan dan lingkungan. Di sisi lain, Indonesia mengimpor sampah karena kebutuhan akan bahan baku industri, khususnya di sektor plastik dan kertas. @ffr