Search
Close this search box.

Inggris Bantah Keterlibatan Iran dalam Serangan Drone di Siprus, Perkuat Pertahanan di Mediterania

Jet tempur Eurofighter Typhoon milik Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) lepas landas dari pangkalan udara RAF Akrotiri di Siprus, 22 September 2016. Inggris pada Sabtu (14/6/2025) mengerahkan jet tempur ke kawasan Timur Tengah saat perang Israel-Iran berkecamuk./visi.news/source: AFP.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Pemerintah Inggris menegaskan bahwa serangan drone yang menargetkan pangkalan Angkatan Udara Kerajaan (RAF) di Akrotiri, Siprus, bukan diluncurkan dari Iran. Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan kawasan dan spekulasi yang mengaitkan insiden tersebut dengan konflik yang lebih luas di Timur Tengah.

Kementerian Pertahanan Inggris, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera pada Kamis (5/3/2026), menyatakan bahwa hasil penilaian awal tidak menunjukkan keterlibatan langsung Teheran. Namun, pemerintah belum merinci pihak mana yang bertanggung jawab atas serangan tersebut maupun asal peluncuran drone.

Serangan terjadi pada Senin (2/3/2026) dan menyasar pangkalan RAF Akrotiri yang terletak di barat daya Limassol, Siprus. Pangkalan tersebut merupakan salah satu dari dua wilayah kedaulatan Inggris yang tetap dipertahankan sejak Siprus merdeka pada 1960. Selain berfungsi sebagai fasilitas militer strategis, kawasan itu juga menjadi tempat tinggal keluarga personel militer Inggris.

Insiden ini mencuat tak lama setelah Inggris menyatakan kesiapannya membantu Amerika Serikat dalam menghadapi Iran dengan mengizinkan penggunaan pangkalan tersebut. Meski demikian, pemerintah Inggris menekankan bahwa pihaknya tidak ingin memperkeruh situasi dengan tuduhan yang belum terverifikasi.

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menegaskan komitmen negaranya terhadap keamanan wilayah dan personel militer yang ditempatkan di Siprus.

Dalam pernyataan di platform X, ia menulis, “Kami akan selalu bertindak demi kepentingan Inggris dan sekutu kami.”

Sebagai langkah antisipatif, Inggris mengumumkan pengerahan kapal perusak pertahanan udara HMS Dragon ke Mediterania timur. Kapal tersebut merupakan salah satu armada Tipe-45 Angkatan Laut Kerajaan Inggris yang dilengkapi sistem rudal Sea Viper. Sistem ini mampu meluncurkan delapan rudal dalam waktu kurang dari 10 detik dan memandu hingga 16 rudal secara bersamaan untuk menghadapi ancaman udara, termasuk drone.

Baca Juga :  TPS3R Mandiri Warga Bojongsoang Olah Sampah 14 Ton

Selain kapal perang, dua helikopter Wildcat juga akan dikirim guna memperkuat sistem pertahanan udara di kawasan tersebut. Menteri Pertahanan Inggris, Al Carns, menjelaskan bahwa pengerahan itu akan dilakukan pekan depan setelah pembaruan sistem pertahanan selesai.

“Pengerahan kapal akan dilakukan minggu depan setelah penggantian sistem pertahanannya rampung,” ujarnya pada Rabu (4/3/2026).

Di sisi lain, Prancis turut meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Mediterania. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, memerintahkan kapal induk bertenaga nuklir Charles de Gaulle untuk berpindah dari Laut Baltik menuju Laut Mediterania. Kapal tersebut akan dikawal oleh sayap udaranya serta fregat pengawal.

Dalam pidato yang disiarkan televisi nasional Prancis, Macron menyatakan, “Kami akan melanjutkan upaya ini selama diperlukan,” merujuk pada langkah penguatan pertahanan pasca-serangan di Siprus.

Ia juga menambahkan bahwa jet tempur Rafale, sistem pertahanan udara, serta radar telah dikerahkan ke Timur Tengah dalam beberapa jam terakhir.

Langkah Prancis ini berkaitan dengan kemitraan strategis yang baru saja diteken bersama Siprus. Macron menegaskan dukungan negaranya terhadap stabilitas kawasan.

“Hal ini membutuhkan dukungan kita. Itulah mengapa saya memutuskan untuk mengirimkan aset pertahanan udara tambahan ke sana juga, bersama dengan fregat Prancis, Languedoc, yang akan tiba di lepas pantai Siprus nanti malam,” katanya.

Meski Inggris telah membantah keterlibatan Iran, dinamika militer di Mediterania timur menunjukkan bahwa ketegangan regional masih tinggi. Negara-negara Eropa kini tampak bersiaga, menjaga stabilitas sekaligus melindungi kepentingan strategis mereka di kawasan tersebut. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :