VISI.NEWS | BANDUNG — Pemerintah Inggris sedang menyiapkan langkah besar dalam pendidikan sekolah untuk menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan di masa depan. Pemerintah percaya bahwa perubahan sikap terhadap perempuan harus dimulai sejak usia muda, terutama di sekolah — tempat anak laki-laki mulai membentuk cara pandang mereka tentang hubungan, persetujuan, dan rasa hormat.
Perdana Menteri Keir Starmer menegaskan bahwa upaya ini penting untuk mengubah budaya yang selama ini membiarkan sikap merendahkan terhadap perempuan tetap ada. “Mengatasi sikap merendahkan perempuan pada usia muda adalah hal yang sangat penting,” kata Starmer dalam konferensi pers di London.
Salah satu fokus strategi nasional ini adalah pelatihan guru untuk mengenali dan menangani sikap merendahkan perempuan di lingkungan sekolah. Pelatihan tersebut meliputi topik-topik seperti persetujuan (consent) dalam hubungan, risiko menyebarkan foto atau video intim tanpa izin, serta cara menepis mitos tidak sehat tentang perempuan dan relasi. Selain itu, guru akan dilatih memperkenalkan figur laki-laki yang menunjukkan perilaku positif terhadap perempuan.
Pemerintah juga akan memberikan akses program perilaku khusus bagi siswa yang menunjukkan tanda-tanda berisiko tinggi, termasuk mereka yang menunjukkan sikap bermusuhan atau prasangka terhadap perempuan. Pendekatan ini berorientasi pada pendampingan dan pembinaan, bukan sekadar hukuman.
Menteri Safeguarding Jess Phillips menyebut kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan sebagai “darurat nasional”. Phillips mengatakan bahwa pemerintah ingin “seambisius mungkin hingga bisa mengubah budaya” yang mendasari kekerasan tersebut.
Strategi ini juga mencakup pembukaan layanan bantuan atau hotline khusus bagi remaja yang memiliki kekhawatiran soal kekerasan atau perilaku tidak sehat dalam hubungan mereka. Langkah ini dianggap penting mengingat data lembaga amal Reducing the Risk menunjukkan bahwa hampir 40 persen remaja dalam hubungan pernah menjadi korban kekerasan.
Namun, tidak semua pihak sepakat dengan pendekatan ini. Komisioner urusan kekerasan domestik untuk Inggris dan Wales, Dame Nicole Jacobs, menilai komitmen pemerintah “belum cukup jauh” dan mengatakan investasi dana yang disiapkan masih jauh dari memadai. Sementara itu, pemimpin Partai Konservatif Kemi Badenoch mengkritik kebijakan ini sebagai “gimmick yang konyol” dan meminta pendekatan yang berbeda.
Pendidik juga memberikan pandangan kritis.
Kepala sekolah Beacon Hill Academy di Dudley, Sukhjot Dhami, menyoroti tantangan dalam pelaksanaan strategi tersebut: “Tantangannya bukan memulai dari nol, tapi memastikan dana £20 juta ini digunakan dengan bijak dan bekerja sama dengan sekolah yang sudah lebih dulu bergerak.”
Serikat kepala sekolah juga mengingatkan bahwa sekolah hanyalah bagian dari solusi dan peran keluarga, komunitas, serta platform digital sangat penting dalam membentuk sikap anak.
Pemerintah juga menyoroti pengaruh media sosial dalam menyebarkan pandangan yang merendahkan perempuan, termasuk figur publik yang mendapatkan dukungan dari sebagian remaja. Karena itu, rencana pelarangan teknologi AI generatif yang digunakan untuk menghasilkan gambar telanjang palsu tanpa izin dan kerja sama dengan perusahaan teknologi untuk memblokir konten eksplisit bagi anak-anak juga menjadi bagian dari strategi ini.
Pendekatan lain yang diusulkan adalah keterlibatan penyintas kekerasan dalam pendidikan anak. Nicola Mclafferty, penyintas kekerasan domestik, mendorong agar penyintas laki-laki dan perempuan berbagi pengalaman mereka langsung kepada anak-anak. Menurutnya, pengalaman nyata bisa membantu anak memahami dampak kekerasan lebih dalam daripada teori di kelas.
Strategi ini akan diperkuat lewat panduan pendidikan terbaru yang akan mulai berlaku pada September mendatang, yang menegaskan bahwa siswa harus mampu mengenali hubungan tidak sehat dan sikap yang merendahkan perempuan. Pemerintah berharap bahwa dengan perubahan di lingkungan pendidikan dan digital, sikap menghormati perempuan akan menjadi nilai yang tertanam sejak dini. @kanaya












