Search
Close this search box.

“Ini Menakutkan” Ketika Dubai, Kota Gemerlap Penerbangan Global, Terguncang Serangan Rudal Iran

Asap membubung ke langit setelah serangan Iran./source: BBC.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG — Kota yang selama ini dikenal sebagai simbol kemewahan, stabilitas, dan pusat penerbangan global mendadak berubah wajah. Selama dua hari terakhir, Dubai tidak lagi identik dengan gemerlap lampu pencakar langit atau wisata belanja kelas dunia, melainkan dengan dentuman keras di langit dan warga yang memilih berlindung di dalam rumah. Serangan rudal dan drone yang diluncurkan oleh Iran sebagai respons atas eskalasi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel menjadikan kota bisnis itu berada dalam situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Hotel-hotel mewah mengalami kerusakan, sementara Bandara Internasional Dubai — yang selama ini dikenal sebagai bandara tersibuk di dunia untuk lalu lintas penumpang internasional — terdampak dalam apa yang disebut otoritas sebagai sebuah “insiden”. Ribuan penerbangan dihentikan, menciptakan salah satu gangguan perjalanan global paling serius sejak pandemi Covid-19.

Bagi warga setempat, suasana mencekam terasa nyata. Becky Williams, seorang penduduk Dubai, menggambarkan bagaimana ia menyaksikan sistem pertahanan udara bekerja di atas rumahnya. “Saya melihat sekitar 15 rudal diluncurkan dari belakang rumah saya kemarin,” katanya. Ia merujuk pada rudal pencegat yang ditembakkan otoritas UEA untuk menghentikan proyektil yang masuk.

“Anda bisa mendengar intersepsi yang terjadi di udara.” Meski demikian, Becky berusaha tetap tenang dan mempercayakan keselamatan keluarganya pada militer negaranya.

“Kami percaya mereka bisa melindungi wilayah udara. Semoga ini segera berlalu,” ujarnya.

Ledakan juga mengguncang kawasan prestisius Palm Jumeirah, pulau buatan yang menjadi ikon gaya hidup mewah Dubai. Hotel bintang lima Fairmont The Palm terdampak ledakan besar, sementara puing-puing drone yang berhasil dicegat memicu kebakaran kecil di bagian luar hotel ikonik Burj Al Arab. Otoritas menyatakan api berhasil dikendalikan, namun peristiwa itu cukup untuk membuat banyak orang menyadari bahwa kota yang selama ini terasa aman kini tidak kebal dari konflik regional.

Baca Juga :  Rokhmat Ardiyan Apresiasi Laba MIND ID Tembus Rp 29 Triliun

Di tengah situasi tersebut, kehidupan warga berjalan dalam ritme yang berbeda. Satya Jaganathan, 35 tahun, terpaksa membatalkan rencana mendaki pada akhir pekan. Ia dan keluarganya memilih berlindung di apartemen, terutama karena saudara perempuannya tinggal dekat pelabuhan Pelabuhan Jebel Ali, lokasi yang dilaporkan mengalami kebakaran di dermaga akibat puing intersepsi udara.

“Ini masih relatif tenang karena hanya ada suara keras setiap beberapa jam, tetapi menakutkan karena ini bukan Dubai yang biasa kita kenal,” katanya.

Ia menambahkan, pengalaman 24 jam terakhir memberinya perspektif baru tentang bagaimana rasanya hidup di wilayah konflik.

Dampak serangan juga terasa kuat di bandara. Judy Trotter, wisatawan asal Inggris, seharusnya kembali ke London pada Sabtu, tetapi diberi tahu bahwa semua penerbangan dibatalkan begitu ia tiba di bandara.

“Saya bertemu orang-orang yang sangat kesal dengan rencana perjalanan mereka. Ada yang mengatakan mereka melewatkan pemakaman,” ujarnya.

Ia termasuk di antara sekitar 1.000 penumpang yang dipindahkan ke hotel dan diminta menjauh dari jendela.

“Ada banyak kaca di hotel yang mengkhawatirkan,” katanya. “Kami mendengar beberapa rudal sepanjang hari.”

Wisatawan lain, Kate Fischer dari Buckinghamshire, menggambarkan malam yang penuh kecemasan.

“Kami sangat ketakutan,” katanya.

Pada Sabtu malam, ia dan pasangannya menyiapkan “tas ambil” saat anak-anak mereka tidur.

“Saya menyiram jubah mandi dan handuk dengan air jika kami perlu melarikan diri pada malam hari dalam kondisi kebakaran,” ujarnya.

Keesokan harinya terasa ganjil baginya.

“Ini pengalaman yang sangat nyata, dikelilingi orang-orang yang mencoba menikmati liburan dan menghibur anak-anak mereka, sementara kami bisa melihat asap dari daerah terdekat yang terkena drone atau rudal.”

Situasi ini menunjukkan sisi lain Dubai — bukan sebagai kota pesta dan pusat bisnis global, melainkan sebagai wilayah yang tiba-tiba harus menghadapi ketidakpastian geopolitik. Meski sistem pertahanan udara berhasil mencegat banyak ancaman, suara dentuman yang berulang menjadi pengingat bahwa stabilitas di kawasan dapat berubah dalam hitungan jam. Bagi warga dan wisatawan, harapan kini tertuju pada meredanya ketegangan, agar Dubai dapat kembali menjadi kota yang mereka kenal: aman, ramai, dan bercahaya. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :