HIGHLIGHTS:
- Investor Pindah ke Kripto: Diversifikasi atau Pergeseran Pasar Saham?
- Pergerakan Bitcoin Masih Terbatas, Apa yang Terjadi Selanjutnya?
VISI.NEWS | BANDUNG – Indonesia tengah menyaksikan fenomena menarik dalam dunia investasi, yaitu peningkatan pesat jumlah investor kripto. Peralihan investor saham ke instrumen kripto menjadi penyebab rata-rata transaksi harian (RNTH) saham lesu sepanjang tahun berjalan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa jumlah investor kripto meningkat menjadi 20,24 juta hingga Juni 2024, melampaui jumlah investor pasar modal yang sebesar 13 juta. Apakah benar investor pasar saham pindah ke kripto?
Kabar dari pasar kripto, harga Bitcoin terus mencoba untuk bangkit pasca penurunan tajam hingga 13% dalam satu hari pada Senin (5/8/2024). Apa penyebab penurunan ini? Dan mampukah Bitcoin Kembali pulih dengan cepat untuk tembus ke level US$60.000?
Berkaitan dengan kabar tersebut, Tokocrypto menyajikan rangkuman berita di industri aset kripto dan ekosistemnya.
1. Investor Pindah ke Kripto: Diversifikasi atau Pergeseran Pasar Saham?
Indonesia tengah menyaksikan fenomena menarik dalam dunia investasi, yaitu peningkatan pesat jumlah investor kripto. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa jumlah investor kripto meningkat menjadi 20,24 juta hingga Juni 2024, melampaui jumlah investor pasar modal yang sebesar 13 juta.
Meskipun likuiditas transaksi di pasar saham lebih tinggi, dengan rata-rata nilai transaksi harian mencapai Rp11,87 triliun sejak awal tahun hingga 31 Juli 2024, dibandingkan dengan pasar kripto yang hanya Rp1,66 triliun selama periode yang sama, menariknya jumlah investor kripto terus meningkat.
Pergeseran atau Diversifikasi?
OJK melihat bahwa tidak sepenuhnya terjadi pergeseran investor dari pasar saham ke pasar kripto. Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Hasan Fawzi, menyatakan bahwa kelompok investor yang memiliki portofolio aset kripto sebenarnya termasuk dalam kategori investor awal atau early adopters.
Menurutnya, meningkatnya jumlah investor kripto tidak dapat dinilai sebagai pergeseran investasi dari pasar saham karena masing-masing instrumen investasi memiliki karakteristik dan profil risiko yang berbeda.
Hasan juga menekankan bahwa ke depannya ada peluang untuk kedua aset investasi ini saling
melengkapi serta meningkatkan literasi dan budaya berinvestasi di Indonesia. “Terlebih jika
melihat semakin berkembangnya teknologi dan aplikasi investasi yang memanfaatkan sarana
blockchain maupun artificial intelligence,” ujarnya dalam konferensi pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan & Kebijakan OJK Hasil RDK Bulanan Juli 2024.
Pandangan dari Industri Kripto
CEO Tokocrypto, Yudhono Rawis, menambahkan bahwa kedua sektor ini sebenarnya saling melengkapi. Ia melihat investor saham kemungkinan masuk ke kripto untuk mendapatkan keuntungan lebih. “Pasar saham dan kripto memiliki karakteristik yang sama,” kata Yudho.
Menurutnya, ada faktor money access atau upaya diversifikasi, di mana kelebihan dana dari investor ditempatkan dalam instrumen aset kripto untuk diversifikasi portofolio untuk mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi.
Yudho juga menyoroti kemudahan akses seperti pembukaan rekening atau akun kripto dan fleksibilitas waktu perdagangan 24 jam 7 hari seminggu sebagai daya tarik utama aset kripto.
“Fluktuasi tanpa batasan harga memberikan ruang pergerakan yang lebih luas, meskipun
resikonya juga tinggi dan imbal hasil yang tinggi pula dalam jangka pendek,” jelasnya.
Hal ini membuat kripto menjadi alternatif menarik bagi investor atau trader yang melakukan trading harian, sehingga pada akhirnya meningkatkan perputaran transaksi harian kripto.
“Pertumbuhan pengguna Tokocrypto masih konsisten, cenderung meningkat sepanjang semester I 2024. Kami melihat minat masyarakat terhadap kripto masih tinggi, sehingga
mendorong mereka untuk bikin akun dan meramaikan pasar kripto. Sejauh ini, penambahan
pengguna terbesar terjadi pada bulan Maret 2024 disaat Bitcoin mencapai nilai tertinggi
sepanjang masa terbarunya dan lonjakan nilai pasar kripto,” kata Yudho.
Nilai transaksi Tokocrypto berdasarkan volume perdagangan harian sepanjang semester I 2024 sebesar lebih dari US$23 juta atau sekitar Rp374 miliar per hari. Angka ini tentu naik sebesar 80% dibanding rata-rata volume trading tahun lalu. Jumlah pengguna Tokocrypto kini sudah mencapai lebih dari 4,5 juta. Dibandingkan akhir tahun 2023 lalu, terjadi pertumbuhan sekitar lebih dari 45%.
Faktor Pendorong Minat pada Pasar Kripto
Beberapa faktor utama yang menarik minat investor individu ke pasar kripto di Indonesia adalah aksesibilitas, inovasi, dan potensi profit. Para investor dapat dengan mudah melakukan transaksi jual-beli aset kripto melalui platform pedagang aset kripto yang telah mendapatkan izin dari regulator. Transaksi kripto yang dapat dilakukan (24/7) berbeda dengan saham yang memiliki periode pembukaan dan penutupan tertentu.
Inovasi dalam ekosistem teknologi baru seperti blockchain yang terdesentralisasi juga
dipercaya oleh para investor akan merubah lanskap sektor keuangan Indonesia ke depannya. Meskipun aset kripto sangat volatil, beberapa segmen investor tertarik karena melihat potensi
profit yang lebih besar dalam jangka waktu yang lebih pendek.
Tantangan dan Peluang di Masa Depan
Ke depan, menurut Yudho tantangan besar adalah bagaimana terus menghadirkan
pengembangan dan penguatan produk serta layanan terkait aset kripto dengan tetap
mengedepankan aspek kepatuhan, tata kelola, mekanisme transaksi yang teratur, dan mitigasi
risiko yang baik.
Kedua instrumen investasi ini memiliki potensi untuk saling melengkapi, menciptakan ekosistem investasi yang lebih beragam dan dinamis di Indonesia.
“Selain itu, meningkatkan literasi keuangan di kalangan masyarakat menjadi langkah penting dalam mengatasi tantangan ini. Edukasi tentang risiko dan manfaat investasi kripto serta cara mengelola portofolio yang baik akan membantu investor membuat keputusan yang lebih bijak,”
sarannya.
Kemitraan strategis antara sektor kripto dan institusi keuangan tradisional dapat memperluas akses dan meningkatkan kepercayaan investor. Sebagai contoh, integrasi teknologi blockchain dengan layanan perbankan tradisional dapat menciptakan produk keuangan baru yang lebih inovatif dan sesuai dengan kebutuhan pasar.
Dengan langkah-langkah ini, pasar kripto di Indonesia dapat terus berkembang dan menjadi salah satu pilar penting dalam dunia investasi, beriringan dengan pasar saham yang sudah mapan. Potensi untuk menciptakan sinergi antara kedua pasar ini membuka peluang baru bagi investor untuk meraih keuntungan yang lebih besar dan beragam dalam jangka panjang. Kedua sector ini, saham dan kripto diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan
ekonomi dan kesejahteraan finansial masyarakat Indonesia.
2. Pergerakan Bitcoin Masih Terbatas, Apa yang Terjadi Selanjutnya?
Harga Bitcoin (BTC) mengalami penurunan tajam di bawah level US$50.000 setelah aksi jual dramatis pada Senin (5/8/2024) lalu, yang dipicu oleh berbagai faktor ekonomi dan geopolitik. Sentimen risk-off yang disebabkan oleh kekhawatiran perlambatan ekonomi di AS, ditambah dengan data ekonomi yang lemah dan penurunan di pasar saham global, mengakibatkan aksi jual besar-besaran.
Meskipun ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve AS seharusnya memberikan dukungan, kenyataannya ini tidak cukup untuk menahan penurunan harga kripto. Di sisi lain,
ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan fluktuasi politik di AS menambah tekanan negatif.
Menurut Trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, kombinasi dari sentimen global yang negatif,
ketegangan geopolitik, serta dinamika internal pasar kripto menyebabkan penurunan signifikan pada harga Bitcoin dan Ethereum, mengakibatkan kapitalisasi pasar kripto anjlok hingga 15,80% ke level terendah dalam enam bulan sebesar US$1,694 triliun.
“Harga Bitcoin sempat naik dalam beberapa hari terakhir pasca penurunan, memperpanjang pemulihan dari level terendah lebih dari lima bulan karena pembeli murah mulai masuk dan
sentimen sedikit membaik. Namun, pasar kripto juga berjuang dengan prospek penjualan massal oleh pemerintah AS, serta memudarnya minat pada pasar derivatif kripto,” kata Fyqieh.
Dampak Arus Keluar dari ETF Bitcoin
Fyqieh menjelaskan bahwa kekhawatiran terhadap resesi AS dan potensi volatilitas tren Yen kemungkinan berdampak pada arus pasar spot BTC AS. ETF Bitcoin Spot mengalami arus negatif selama tiga hari, yang menyebabkan arus keluar bersih dari ETF Bitcoin spot sebesar lebih dari US$300 juta.
“Arus keluar yang berkelanjutan dari ETF Bitcoin dan tekanan jual yang dihadapi oleh BTC
menyebabkan aksi jual di seluruh pasar kripto baru-baru ini, mengakibatkan harga Bitcoin turun ke posisi terendah tujuh bulan di bawah US$50.000,” ungkapnya.
Secara teknikal, harga Bitcoin kini berpotensi melewati resistance di US$56.000 dan menuju level US$60.000. Namun, jika terjadi penolakan di level resistance ini, BTC bisa kembali turun ke kisaran US$54.000-US$55.000.
“Investor harus tetap waspada di tengah tren arus keluar ETF BTC spot dan sentimen terhadap jalur suku bunga Bank of Japan dan Fed. BTC dapat melonjak hingga US$60.000 dalam beberapa hari mendatang. Para investor dan lembaga menyuntikkan dana besar-besaran ke pasar kripto untuk membeli saat harga sedang turun,” analisis Fyqieh.
Sentimen Pasar dan Potensi Pembelian
Fyqieh mencatat bahwa penurunan tajam ini juga membuka peluang pembelian.
Rainbow Chart Bitcoin, indikator teknikal yang populer, menunjukkan bahwa Bitcoin telah memasuki fase akumulasi, yang sering kali merupakan waktu yang tepat untuk membeli BTC sebelum potensi lonjakan harga.
Lebih lanjut, Fyqieh mengatakan bahwa sentimen pasar juga menunjukkan perubahan yang menarik. Pada hari Senin (5/8/2024) lalu, Indeks Fear and Greed Bitcoin berada di level 17, zona Extreme Fear, yang mencerminkan kekhawatiran pasar yang sangat tinggi.
Namun, indeks tersebut kini telah naik ke level 29 di zona Fear, menunjukkan pergeseran menuju pandangan yang lebih positif.
Fyqieh menilai bahwa pemulihan terbaru ini membawa Bitcoin kembali ke level US$56.000-US$57.000, menunjukkan kepercayaan investor yang mulai pulih. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Bitcoin semakin dilihat sebagai aset safe haven yang dapat menarik lebih banyak institusi dan membantu menstabilkan pasar kripto.
“Aliran modal ke pasar kripto meningkat, memperkuat posisi Bitcoin sebagai aset lindung nilai yang kuat, dengan potensi mencapaiUS$80.000-US$90.000 (Rp1,2 miliar-Rp1,4 miliar) pada akhir tahun,” pungkasnya.
@uli